
“Mami, kenapa kita pulang cepat sekali? Katanya aku akan pindah sekolah sementara waktu.” Penuturan Gara kecil membuat Tasha menoleh.
Pikirannya yang kacau berusaha ia tenangkan saat ini. Di raihnya tubuh sang anak yang berjalan ke arahnya. Pagi ini Tasha berkemas seperti yang ia katakan semalam untuk segera pulang.
Di peluk, di kecup kepala kecil sang anak. “Kita pulang dulu. Mami harus bicara dengan Papi Raga. Gara tidak marah kan sama Mami? Maafyah Mami harus mengingkari ucapan Mami.”
Hanya anggukan dan senyuman yang Gara tunjukkan saat ini. “Gara juga kangen sama Mamah dan Papah.” tutur bocah itu yang tak bisa meninggalkan terlalu lama Indri dan juga Firman.
“Anak baik…”
Segera mereka berdua bergegas untuk merapikan diri dan berangkat ke bandara. Meski tak cukup puas di Bali, bagi Gara sudah cukup waktu liburnya saat ini.
Singkat cerita, Tasha tiba di bandara bersama Gara. Sesuai dengan rencana sebelum berangkat. Tasha menghubungi sang suami. Bagaimana pun ia pulang untuk menyelesaikan semuanya. Tasha tak akan mau membuang waktu dengan kegelisahan ini.
“Sha…” sapa Gara mendekat ingin memeluk.
__ADS_1
“Papi, ini tempat umum.” Tubuh mungil Gara yang sudah berdiri tegak di antara kedua orangtuanya membuat Raga berhenti mendekati Tasha.
Sejujurnya ia begitu merindukan wanita dan sang anak. Tak kuasa, Raga bergerak menggendong Gara dan membawanya ke mobil. Dengan Tasha yang mengikuti mereka di belakang.
Selama perjalanan bahkan tak terdengar sama sekali suara Tasha mau pun Gara. Dari spion tengah beberapa kali Raga menatap wanita cantik di belakang sana. Di sampingnya kini justru Gara lah yang duduk.
“Bagaimana? Seru tidak liburannya, Sayang?” Tangan yang bergerak mengusap puncak kepala Gara terus bergerak.
“Cukup seru.” sahut Gara singkat.
“Tidak.” jawab Gara lagi lebih singkat.
Hingga akhirnya Raga tak tahu lagi harus berkata apa. Kini mobil telah tiba di sebuah rumah sakit. Dimana wanita yang menjadi batas antara Tasha dan Raga di rawat.
Tasha menatap sekeliling saat mobil berhenti. Kini ia tahu untuk apa dirinya di bawa kemari.
__ADS_1
“Pasti aku akan di pertemukan dengan wanita itu. Huh tenanglah Tasha, ini pilihanmu. Kau berhak mempertahankan apa yang seharusnya kau pertahankan jika semua sesuai yang kau inginkan. Tapi, jika wanita itu memiliki alasan lebih besar maka aku akan mundur.” ujar Tasha dalam hati.
Ketiganya turun dari mobil dengan Gara yang menggenggam tangan sang Mami. Mereka melangkah dengan Raga yang di depan. Tasha hanya diam mengikuti langkah pria tampan itu.
Senyuman hangat dengan wajah yang sangat tak berdaya itu terlihat menyambut kedatangan Tasha dan Gara.
“Tasha…” bibir yang pucat bergetar kala menyebut nama itu.
Tasha sendiri justru tak bisa menahan sikap dingin saat melihat tangan wanita lemah di depan sana terulur ke arahnya.
Dengan langkah cepat Tasha yang berada di ambang pintu pun mendekat, ia meraih tangan yang sangat kurus itu.
“Hei, ada apa? Aku di sini.” ujar Tasha justru tak sampai hati. Matanya berkaca-kaca melihat wajah yang sudah seperti mayat hidup itu.
Air mata Rizka jatuh bibirnya bergetar menahan suara tangis.
__ADS_1
“Aku tidak ingin mengganggu pernikahan kalian. Sungguh, aku tidak ingin ini semua terjadi. Sebab aku sudah merasakan apa yang kamu rasakan. Akan jauh lebih baik sebagai aku yang tidak memiliki rasa apa pun padanya. Maafkan aku, Tasha. Maafkan aku.”