
Saat malam harinya tiba, kami semua duduk di kursi meja makan. Dimana Aku dan Gara akan duduk seperti biasa saling bersampingan. Sementara Mami dan Papi duduk di hadapan kami. Makanan yang masih hangat terlihat mengepulkan asap di depan sana. Namun, Papi tak kunjung membuka makan malam. Justru ia menatapku dan juga adikku, Gara. Tentu saja aku merasa takut dengan tatapan itu, sadar jika saat ini aku telah menyembunyikan sesuatu dari mereka.
"Ada apa, Agatha?" tanya Papi Raga padaku. Aku hanya menunduk seraya menggelengkan kepalaku.
Tidak. Sampai kapan pun mereka tak boleh mengetahui hal ini. Mereka adalah orangtua yang sempurna untukku. Tidak pantas sekali rasanya jika aku melukai hati mereka.
"Tidak ada apa-apa, Pi." sahutku kemudian.
"Mami perhatikan akhir-akhir ini kalian berdua sangat berbeda. Rumah ini bukan seperti kehilangan Gara saja. Tapi kedua anak Mami. Ada apa dengan kalian? Cerita dengan kami. Kami ini kedua orangtua kalian." Mami pun ikut bersuara.
Rasanya aku semakin merasa bersalah pada mereka. Ku lihat Gara di sampingku hanya duduk menatap mereka dengan datar. Mungkin baginya ini bukanlah masalah serius. Berbeda denganku yang jelas merasa was-was sekali.
__ADS_1
"Apa Agatha sudah punya pacar? Atau kamu Gara yang sudah punya pacar?" tanya Papi kembali menatap kami bergantian. Sumpah demi apa pun aku benar-benar gugup malam ini.
"Tidak ada yang punya pacar, Mi, Pi. Kami berdua masih sama seperti dulu. Sebaiknya sekarang kita mulai makannya aku sangat lapar." sahut Gara di sebelahku.
Papi dan Mami terlihat mengangguk. Kini aku mulai berpikir untuk mencari jalan keluar sebelum semua semakin jauh dan ketahuan oleh Mami dan Papi. Kami pun makan dengan tenang.
"Bagaimana hari ini kalian di rumah Nenek?" tanya Mami kembali bersuara. Aku sejenak menghentikan makan dan menatap Mami.
"Nenek senang, Mi. Aku membuatkannya cemilan juga." ujarku yang mendadak tersenyum mengingat hari ini cukup menyenangkan di rumah Nenek.
"Gar, wajah kamu pucat Sayang. Agatha, antar adikmu ke kamarnya yah? Mami harus mengurus Papi kamu dulu. Pasti Gara kelelahan tubuhnya kan belum pulih benar." Sejenak aku terdiam meneguk kasar salivahku. Ku tatap Mami seolah bertanya dalam hati ini tidak serius kan? Akan tetapi aku tak bisa menolak sama sekali selain menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Ayo." ajakku memapah tubuh Gara menuju kamar.
Malam ini terasa horor sekali untukku. Dimana aku harus masuk kembali ke dalam kamar Gara. Dan benar saja hal yang tidak aku duga kembali terjadi. Mataku melebar saat merasakan wajahku tiba-tiba di pegang oleh Gara.
"Gar, apaan sih?" tegurku hendak menepis tangan itu. Justru Gara lebih dulu mengeratkan tangannya yang satu di punggung leherku. Bibirnya begitu cepat bergerak mengecup keningku.
"Good night. Keluarlah aku aka istirahat sendiri malam ini." tuturnya tanpa berdosa sama sekali.
Aku terdiam mematung ketika pintu kamar itu di tutup dari dalam. Gara membiakan aku berdiri mematung di depan kamarnya. Pelan tanganku bergerak memegang dada yang kini terasa berdenyut sangat kuat. Jantungku terasa seperti sedang senam di dalam sana.
"Apa aku juga menginginkan ini? Tidak. Ini tidak boleh. Aku adalah Kakak mu, Gara. Aku adalah saudaramu meski bukan sedarah." Aku berulang kali mengatakan hal itu dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
Sampai akhirnya tubuhku menegang kala bergerak memutar hendak meninggalkan kamar itu.
"Agatha?"