
Pagi harinya setelah memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Tasha pun langsung bergerak menuju ke bandara. Ia melangkah dengan tatapan teduhnya. Merindukan sang anak adalah satu tujuan utama yang begitu ia inginkan saat ini. Memeluk Gara tentu menjadi obat lelah untuknya. Lama bekerja seorang diri rasanya sulit untuk beradaptasi bekerja bersama orang-orang di sekelilingnya. Termasuk bekerja dalam menghadapi masalah seperti ini, Tasha sungguh ingin menyerah seketika.
Ia tidak tahu jika di sini Rafa tengah mengurusi semua di pabrik. Segala macam bahan yang sudah ia periksa seketika ia musnahkan di pabrik dan meminta semua pekerja kembali melanjutkan pekerjaan. Sedangkan kini pria itu melangkah untuk keluar dari tempat produksi.
"Periksa semua cctv dan cek siapa dalangnya. Jika sudah ketemu tangkap jangan sampai lolos." ujar Rafa memberikan perintahnya.
Pria tampan itu pergi melajukan mobil dengan perasaan yang bingung, seharusnya hari in Rafa bersenang-senang dengan kasur empuknya. Hari libur yang sengaja ia atur jauh-jauh hari justru kini hancur berantakan. Tasha dan sang ibu benar-benar merubah profesinya.
"Pulang tidak mungkin. Ke rumah sakit rasanya sangat membosankan. Lalu, kemana aku harus pergi?" gumam Rafa yang begitu pusing sekali.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia pun memilih untuk singgah di salah satu cafe yang cukup sunyi saat itu. Menenangkan diri tentu saja jauh lebih ia butuhkan agar bisa berpikir tenang. "Besok pagi aku sudah harus kerja." ujarnya merasa lelah sekali namun ada perasaan senang setiap kali Rafa kembali bertemu dengan para pasiennya.
Di perusahaan justru Bu Dewi dengan elegan meminta beberapa anak buahnya untuk bisa mengawasi pergerakan sang anak. Bagaimana pun juga ia butuh hasil kerja dari pabrik seceptnya. Permintaan di luar sana masih begitu banyak yang menggemari desain dari tangan Tasha.
Singkat waktu berlalu akhirnya tibalah Tasha di bandara, dimana kedatangannya di sambut hangat oleh sang anak dan juga kedua orangtua. Gara yang berdiri memegang tangan Indri berlari memeluk kedua kaki Tasha. Ia menengadah menatap wajah cantik sang mami. Sangat rindu rasanya untuk pertama kali mereka berdua berpisah.
Tasha gemas melihat itu. Ia benar-benar merindukan sosok bocah tampan ini. "Sayang kamu bicara apa sih? Kita tetap berteman dong. Mami pergi bawa uang yang banyak buat susu Gara." terang Tasha seraya mengusap lembut kedua pipi sang anak.
Gara memajukan bibir cemberut kala mendengar ucapan sang mami. "Gara mau kok berpuasa saja. Asalkan kakak tidak pergi-pergi lagi. Gara janji bisa berenti minum susu."
__ADS_1
Sedih rasanya semua mendengar ucapan anak tampan itu. Gara benar-benar menggemaskan ketika berbicara. Namun, Tasha bisa mengartikan jika sang anak begitu takut mereka berpisah lagi. Di gendongnya tubuh kecil Gara dan di ciumnya berkali-kali kedua wajah sang anak. Baru kemudian Tasha meraih tangan kedua orangtuanya untuk ia cium.
"Sha, kita sekalian makan dulu yah?" ajak Indri dan mereka semua segera bergegas masuk ke mobil.
Untuk hari ini saja Gara menginginkan libur sekolah. "Sayang, besok-besok jangan libur sekolah lagi yah? mami marah loh." ujar Tasha menasihati sang anak dan Gara dengan polosnya berucap.
"Gara pengen besok di antar Kakak dan Uncle. Teman-teman Gara semua suka ngejekin Gara, kak. Gara malu katanya papahnya sama maminya tua sekali dan satu muda sekali. Gara mau kayak teman-teman, mama papahnya sama-sama muda. Kayak Uncle dan kakak." tutur Gara menjelaskan isi hatinya yang selama beberapa hari ini coba ia tahan demi menunggu kepulangan sang kakak.
Semua terdiam mendengar ucapan Gara. Tasha tak menyangka jika seusia mereka sudah bisa mengatakan hal seprivasi itu. Dan semua yang ia takutkan perlahan demi perlahan sudah mulai terasa mendekati kehidupan mereka.
__ADS_1