
Langkahku seketika terhenti kala pintu mobil yang baru saja ku buka kini di tutup begitu kuat oleh wanita yang saat ini sudah bersimpuh di depanku. Ia memohon maaf padaku meski itu sangat mustahil untuk ku maafkan.
“Aku benar-benar tidak tahu semua yang terjadi, Agatha. Tidak mungkin aku berani melakukan itu semua. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak mau persahabatan kita putus karena ini.” Aku membuang wajah kala mendengar ucapannya.
Bagaimana mungkin dia tidak tahu semuanya? Sementara jelas Morgan adalah kakak Rifana. Segera aku pun menghela napas kasar.
“Maaf Rifana. Sampai kapan pun persahabatan kita tidak bisa kembali lagi. Waktu itu kamu yang sangat kekeuh untuk aku mengikuti permintaan kakak mu. Bahkan kamu sampai meyakinkan aku jika pertemuan malam itu adalah untuk momen penting bertemu kedua orangtuamu. Lalu dimana kamu setelah kejadian itu? Absensi di kelas mengatakan kamu sakit sampai harus mendapat tugas via email. Kamu menghindar dari aku kan?” Nada suaraku berapi-api kala mengatakan semua yang ada di dalam pikiranku.
Tubuhku bahkan gemetar saat terpaksa kembali aku mengingat apa yang hampir terjadi malam itu. Derasnya hujan masih jelas di ingatanku ketika aku menangis berlari keluar rumah dengan keadaan yang kacau. Meski lolos dari perlakuan tercela Morgan, tetap saja rasanya aksi paksaan pria itu masih membekas di pikiranku.
Segera ku tarik kasar tubuh Rifana dan ku dorong menjauh. Aku tak lagi perduli jika semua orang menatapku jahat. Yang jelas hanya keluargaku yang paling paham dengan keadaanku sejak saat itu.
__ADS_1
Aku bergegas pergi tanpa perduli dengan semua panggilan yang ku dengar.
“Agatha! Tunggu, Tha.” Sela mengejarku namun tak juga ku hiraukan.
Mobilku melaju meninggalkan cafe. Dan sejak saat itu selama liburan aku tak kunjung keluar rumah. Aku terus mengurung diri di kamar dengan melamun.
Mami Tasha bahkan sampai sering kali mengunjungiku di kamar ketika Papi pergi ke kantor. Yah papi sudah sehat seperti sedia kala. Ia tampak gagah dan kuat bekerja di kantor.
Aku hanya menggeleng dan memaksakan senyum di wajahku.
“Aku baik-baik saja kok, Mi.”
__ADS_1
“Kamu itu bohong sama Mami. Ada masalah dengan teman-teman kamu?” Mami kembali bertanya dan aku hanya diam. Enggan mengatakan apa pun.
Di peluknya erat tubuhku saat ini. Aku tahu Mami pasti bisa mengetahui semua dari perubahan sikapku selama di rumah.
“Bersahabat itu ada masalah tentu hal yang wajar. Tapi, jangan sampai berlarut-larut. Nggak ada pertemanan yang nggak pernah ada masalah. Justru itu ujian buat kalian. Kalian itu kan sahabatan sudah sejak lama. Bertahun-tahun loh. Masa nggak sayang sama momen yang sudah kalian lewati bersama harus bubar gitu aja?”
Aku terus mendengarkan kata-kata nasihat dari mami. Sedikit banyak aku hanya bisa menjawabnya dalam hati.
Mungkin saat ini aku hanya butuh waktu untuk menghadapi semuanya. Entah bagaimana sikap sahabatku saat ini padaku. Aku tidak tahu sebab dua minggu sejak pertemuan itu batal aku sama sekali tak ada komunikasi dengan mereka lagi. Bohong jika aku tidak rindu dengan mereka. Meski sering kali membuatku pusing, tapi aku selalu bersama mereka dan saat ini aku kehilangan mereka.
Entah apa yang di ucapkan Rifana benar atau tidak, yang jelas aku merasa sulit percaya padanya.
__ADS_1