
Di sinilah pria yang baru saja menyandang status seorang ayah itu. Duduk tanpa memakai baju di tepi kolam renang dengan bibir yang bergetar kedinginan. Sudah sejak tiga jam lalu ia menemani Gara bermain di tepi kolam sayangnya bocah tampan itu tidak mengizinkannya naik.
"Ayo papi berenang lagi. Temanin Gara." ajaknya yang masuk ke kolam renang.
"Gara, ayo naik. Sudah terlalu lama kita di sini nanti sakit." bujuk Raga yang memang hanya berdua saja di kolam. Sebab Tasha hanya di suruh istirahat oleh sang anak.
Melihat wajah kesal sang anak, akhirnya Raga kembali masuk ke kolam renang. Padahal hari sudah mulai sore namun hukuman untuk terus bermain di kolam renang belum juga berakhir. Yah memang hanya sebatas itulah hukuman dari Gara. Menemaninya bermain selama yang ia mau di kolam renang. Namun, siapa yang bisa menahan dinginnya air jika harus berjam-jam lamanya di air.
"Untung anak sendiri," gerutu Raga dalam hatinya.
Tak ada yang tahu jika dari atas balkon Tasha tampak menggeleng melihat sang anak yang mengerjai sang suami. Mereka benar-benar lucu sekali.
"Raga nanti bisa sakit, Sha. Kasihan loh..." ujar Indri yang menghampiri sang anak ikut melihat aksi di bawah sana.
__ADS_1
Beberapa kali Gara memaksa sang papi untuk kembali berlomba renang dengannya. Anak kecil itu mulai lincah berenang saat ini. Itu sebabnya ia meminta di temani sebab tak enak jika hanya berenang sendiri saja. Bersama Tasha pun rasanya tak puas karena sang mami mudah lelah. Sedang sang papah atau kakeknya tak bisa lama berenang karena ada jantung yang di khawatirkan akan kambuh.
"Yah gimana Mah, Gara nanti pasti marah ke aku juga kalau belain papinya." ujar Tasha memilih pasrah saja.
"Memang segitu ngebetnya yah pengen buat adik untuk Gara?" pertanyaan frontal dari Indri membuat Tasha sontak membulatkan mata kaget.
"Mamah." tegurnya hanya mendapat kekehan dari sang mamah.
"Kok papi di situ sih?" baru saja lampu kamar hendak di matikan, Gara sudah bangkit dari pembaringan dan duduk melihat sosok Raga yang menyelip di belakang tubuh sang istri.
"Ada apa, Gara? Ayo tidur sudah hampir tengah malam ini." ujar Raga yang sudah puas memeluk sang anak sejak pukul delapan malam tadi. Kini sudah waktunya ia berganti peran menjadi suami yang baik jka sebelumnya menjadi ayah yang baik.
Tasha yang memang sudah tidur tak tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
"Papi sini," panggil Gara menepuk kasur di sebelahnya.
"Papi di sini saja yah? Ayo tidur." ajak Raga seolah memohon pada sang anak. Memang malam ini ia sendiri yang memutuskan untuk tidur bertiga.
"Huaaaa...papi jahat. Papi jahat. Gara nggak mau tidur sendiri!" tangisan yang tiba-tiba tentu saja membuat Raga terlonjak kaget. Tasha yang terbangun seketika heran.
"Ada apa ini? Gara, kenapa menangis?" tanya Tasha mendekati sang anak.
Merasa ada pergerakan di belakangnya, sontak wanita itu menoleh ke belakang. "Loh kok di sini?" tanyanya heran.
"Papi jahat. Papi tinggalin Gara di sini, Mi." adu bocah itu yang membuat Raga segera kembali ke tempat semula.
"Tadi kan Papi sudah temani Gara. Masih mau di temani yah? Yasudah ayo papi peluk lagi." ajak Raga buru-buru membujuk sang anak sebelum sang istri mengamuk melihat tingkahnya.
__ADS_1