Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Kedatangan Rafa dan Bu Dewi


__ADS_3

Ronda malam yang Firman katakan benar-benar ronda malam sesungguhnya. Beberapa kali pria itu bahkan bangkit dari ranjang keluar kamar demi memastikan suara seseorang melangkah bukan ke kamar sang anak. Beberapa kali ia harus memastikan hingga Dahlan dan sang istri yang menuju dapur untuk mencari buah di tengah malam pun harus di curigai oleh papahnya Tasha itu.


"Ada apa, Pak Firman? Mau makan buah juga?" tanya Rima melihat Firman berdiri memperhatikan mereka dan menoleh ke arah pintu kamar Raga yang tertutup dengan rapat.


"Oh tidak terimakasih." jawabnya kembali masuk ke kamar.


Di kamarnya Indri menggeleng melihat sang suami. "Pah, sudah tidur sini. Kepala mamah jadi pusing gara-gara Papah gerak terus dari tadi." memang benar sejak tadi ia merasa tidurnya sangat terganggu. Setiap kali ingin terlelap ke alam mimpi sang suami kembali bergerak turun dari ranjang. Dan Rima akan selalu terkejut. Andai ia tahu akan seperti ini mungkin dia memilih untuk tidur di kamar sang anak saja malam ini dan di sana ia akan sangat aman tidurnya.


Pagi harinya semua bangun dan memilih berolah raga di sekitar vila. Halaman yang asri dan lingkungan yang luas membuat mereka bebas kemana saja pagi itu. Raga dan Gara sejak pagi awal mereka sudah menghilang sebelum semua penghuni di vila itu bangun. Mereka berkeliling dengan menaiki kuda yang di miliki di vila itu. Tentu saja mereka hanya berdua sebab Raga ingin menikmati waktu ini dengan sang anak. Jika dengan Tasha sudah bisa di tebak pasti akan membuat Firman kebakaran jenggot.


"Jujur aku bukan pria yang kuat menahan rindu, Sha. Tapi demi kamu akan aku usahakan." tutur Raga dalam hatinya.


Satu minggu pun kedua keluarga itu lewati dengan suka cita. Banyak momen yang Gara lewatkan bersama kedua orangtuanya. Ia tentu saja sangat bahagia dan Gara akan pulang ke kota dengan semangat. Sebab di waktu sekolah nanti ia akan bercerita banyak hal dengan para temannya.


Kepulangan Tasha dan keluarga saat itu mendadak membuat mereka mengernyitkan dahinya kala melihat seseorang di depan rumah mereka yang tengah berbicara dengan pelayan.

__ADS_1


"Siapa mereka, Pah? Eh itu kan Dokter Rafa itu itu?" sahut Indri semula yang bertanya dengan sang suami. Firman pun mengangguk. Wanita paruh baya di sampingnya bisa ia tebak jika dia adalah Bu Dewi yang biasa Tasha ceritakan.


"Mereka pasti mau ketemu Tasha. Suruh Tasha langsung pulang, Mah." pintah Firman yang sadar jika Tasha dan Gara tidak pulang satu mobil dengan mereka. Sebab Gara yang meminta untuk di mobil Raga.


Beberapa kali bahkan bocah itu meminta turun saat di perjalanan untuk berfoto. Ia berfoto lengkap dengan sang papi dan mami. Sungguh rasanya Gara menjadi anak yang paling bahagia satu minggu ini. Ia berharap akan selamanya mendapatkan kebahagiaan bersama kedua orangtuanya.


Dan sebab itulah mereka jadi sedikit lambat tiba di rumah. Padahal awalnya Firman meminta untuk ia ikut juga di mobil Raga namun sang istri justru melarangnya.


Pasangan suami istri paruh baya itu datang dan menyambut kedatangan Bu Dewi serta Rafa di rumahnya. Setelah itu barulah ia menghubungi sang anak.


"Apa, Mah? Dokter Rafa dan Bu Dewi di rumah? Sedang apa?" Tasha kaget dan Raga jauh lebih kaget hingga Gara yang terlelap di pangkuan Tasha sampai terhantuk ke dasboard mobil.


"Raga!" mata Tasha membulat pada pria di sampingnya saat itu.


"Sha, ada apa?" Dari seberang sana Indri yang kaget sontak membuat Firman panik.

__ADS_1


"Ada apa, Mah? Kenapa Tasha?" pria itu begitu takut hingga mengambil cepat ponsel sang istri yang masih menempel di telinganya.


Melihat itu Indri pun menggelengkan kepala kesal melihat tingkah sang suami yang selalu saja seperti itu jika menyangkut Tasha dan juga Gara.


"Papah, kami tidak apa-apa. Ini Raga rem mobilnya mendadak jadi aku kaget sama Gara." sahut Tasha menjelaskan.


"Itu kan papah bilang kalian itu tidak boleh ikut dia. Jadi begini jadinya. Seharusnya tadi ikut sama papah saja pulangnya..." panjang lebar pria itu berkata dan Tasha mendengar sembari menghela napas kasar. Hanya karena perkara rem motor saja urusannya jadi panjang seperti ini.


"Sudah yah, Pah. Kami pulang sekarang kok." ujar Tasha yang melirik pria di sampingnya tampak menekuk wajahnya kesal.


Entah apa yang ada di kepala Raga saat ini. Tasha pun memeluk sang anak berusaha menenangkan dan agar Gara kembali tidur.


"Loh loh kok jalanya kayak beda sih, Ga?" tanya Tasha setelah setengah jam mereka mengendarai mobil kembali.


Dengan santainya Raga berkata. "Ini jalan tembusan biar kita cepat sampai. Kan Papah minta kamu segera pulang kan?" jawabnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau kalian ketemu mereka. Pasti dokter cabul itu datang mau melamar kamu sampai bawa ibunya. Itu tidak akan ku biarkan, Tasha." gumam Raga dalam hatinya merencanakan sesuatu saat ini.


__ADS_2