
Rasanya benar-benar aneh ketika aku harus duduk berhadapan dengan pasangan bucin yang sudah kadaluarsa. Aku dan Mikael tak bisa menolak ketika Mami dan Papi meminta kami untuk bergabung di meja romantis mereka.
“Ayo pesan apa yang mau kalian pesan. Begini lebih seru kan, Sayang? Namanya double date.” seru Mami yang memeluk lengan Papi.
Aku tahu jika saat ini Papi merasa gagal waktu berduaan dengan Mami. Sayang, siapa pun tidak bisa menolak keinginan Mami termasuk Papi.
Malam ini kami pun menghabiskan waktu makan berempat. Mikael jelas canggung sebab ini semua di luar dugaan. Bahkan di depan kami pun Mami dan Papi tak segan untuk saling bersuapan. Yah, cinta mereka memang sebesar itu, aku sangat tahu sejak dulu.
“Mereka benar orangtua kamu yah? Aku pikir kakak atau keluarga jauh tadinya.” Di sini kami duduk di dalam mobil usai menikmati makan malam berempat.
Mikael akhirnya baru berani buka suara setelah diam dan hanya senyum sejak tadi.
“Iya, mereka orangtuaku. Maaf yah ini di luar rencana kita.” Aku merasa tak enak pada Mikael.
Ku lihat ia tersenyum padaku. “Bukan masalah, mereka seru. Jarang ada orangtua seperti itu. Pasti mereka menikah muda buktinya saja kamu sudah sebesar ini dan mereka masih sangat muda.” ujar Mikael lagi.
__ADS_1
Aku tak banyak komentar sebab pria ini adalah orang yang baru masuk ke dalam hidupku. Tak mungkin jika aku berbicara terus terang padanya tentang siapa diriku yang sebenarnya.
“Kita nonton kamu nggak masalah kan, Agatha? Lagi pula ini jamnya masih cukup awal untuk kita pulang.” Kami pun menuju sebuah mall terbesar di kota ini untuk menonton bioskop.
Berharap malam ini bisa jadi malam untuk aku menikmati waktuku tanpa memikirkan Gara. Mikael bukanlah pria nakal setahuku.
Di tempat pembelian tiket kami berdiri. Ingin membeli tiket film romantis. Yah aku memang suka dengan film romantis.
“Yakin nggak mau nonton film horor?” tanya Mikael yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
“Agatha!” Seruan itu membuat aku menoleh kaget.
Sontak saat itu aku dan Mikael saling pandang. “Mami? Papi? Kok di sini?” tanyaku bingung.
Di depanku Mami langsung menjawab dengan tangannya yang menunjuk Papi.
__ADS_1
“Mami nggak ikutin kami kan?” tanyaku dengan curiga.
“Bumi ini terlalu kecil. Tentu saja ini kebetulan. Ini tiket untuk kalian.” Aku menatap tak percaya dengan tiket yang Papi belikan. Di tangannya ada empat kursi yang sudah bisa ku tebak jika kita akan duduk berdekatan semuanya.
Mikael hanya tersenyum mengangguk saat aku menatapnya dengan permohonan maaf.
“Kenapa harus film action begini sih, Pi? Agatha kan kurang paham nonton seperti ini?” tanyaku dengan wajah cemberut.
Aku salah jika aku pikir Gara tidak ada maka hidupku akan bebas. Rupanya Papi lebih tepat dalam memata-matai aku.
“Justru itu yang bagus untuk hiburanmu. Sudah ayo masuk.” Papi menarik tangan Mikael dan aku di belakang berjalan bersama Mami.
“Papi kamu itu cuman takut kamu kenapa-napa, Sayang. Biarkan kita dekat juga sama Mikael. Kalau dia orang baik-baik pasti dia tidak keberatan.” Aku yang selalu tak bisa menolak pendapat Mami hanya bisa mengangguk tersenyum.
Kami berempat pun menonton dengan Mami yang duduk di samping kiri Papi, aku di samping kanan Papi. Sedang Mikael justru duduk di kursi belakangku.
__ADS_1
“Maaf.” Itulah kata yang ku ucapkan tanpa suara setiap kali menoleh ke belakang. Rasanya aku benar-benar tak enak padanya. Papi benar-benar menjagaku dari kegelepan bioskop ini.