
Wanita yang tidak tahu malunya memasuki rumah orang tanpa permisi seolah tengah menjadi pemilik hak atas rumah tersebut.
“Vira?” Raga sedikit kaget melihat wanita yang sudah lama berteman dengannya justru datang ke rumahnya.
Bukannya diam melihat kondisi yang tidak stabil. Vira justru kekeuh melanjutkan ucapannya.
“Tasha siapa maksud kamu? Kamu jangan mudah di tipu sama wanita di luar sana. Apalagi kalau sampai benar dia itu Tasha yang aku maksud.” tuturnya dengan nada tak suka.
Melihat sok kuasa sosok gadis itu, Rima menggelengkan kepala lalu melangkah pergi. Usia yang tidak lagi muda tak ingin ia sia-siakan dengan hanya menghadapi sosok Vira.
“Bunda, mau kemana?” tanya Raga justru tak ingin di tinggal sang bunda.
Saat ini pikirannya sedang kacau. Bagaimana pun juda ia butuh ketenangan. Tentu saja Raga tidak akan dapatkan itu dari sang teman.
“Bunda mau rebahan di kamar. Kepala Bunda rasanya tegang kalau di sini lama-lama.” ujar Rima menatap tak suka pada Vira.
“Yasudah aku ikut Bunda. Bibi! Tolong temani Vira.” Raga pun dengan mudahnya melangkah meninggalkan Vira seraya menggandeng tangan Rima.
Ia tampak acuh bagaimana saat ini ekspresi wajah Vira yang tak menyangka jika dirinya justru di temani oleh sang pelayan.
“Dasar Raga! Awas saja kamu.” gumamnya dalam hati lalu bergegas keluar rumah.
__ADS_1
Beberapa pelayan yang melihat itu pun hanya bisa tertunduk terkekeh. Mereka miris melihat Vira yang begitu di acuhkan oleh Raga.
Setibanya di kamar, Raga tampak duduk di sisi ranjang. Dimana sang bunda berbaring menatapnya teduh.
“Benarkan dia anak kamu, Raga? Bagaimana mungkin? Tasha itu wanita baik-baik. Bunda memang tahu anak bunda. Tapi apa gadis seperti Tasha juga menjadi korbanmu?” Rasanya Rima tak habis pikir mengingat kenakalan sang anak di masa remaja.
Sedikit Raga terdiam bingung. Ia juga sendiri tak menyangka bagaimana bisa dirinya begitu nakal di masa remaja. Anda saat ini ia di hadapkan dengan masa itu, mungkin ia akan menjadi pria idaman seluruh wanita sebab begitu memuliakan sang kekasih jika wanita itu adalah Tasha.
“Aku juga tidak menyangka jika dulu sebejat itu anakmu ini, Bunda. Tapi yang jelas akulah pria pertama dan aku yakin aku satu-satunya pria yang menyentuhnya.” ujar Raga penuh keyakinan.
Semula Rima tampak sedih namun di akhir wanita paruh baya itu justru tersenyum.
“Bunda sangat senang tiba-tiba memiliki cucu seperti Gara. Bunda sendiri tidak akan ragu jika cucunya seperti Gara. Tunggu,” wajah Rima tiba-tiba nampak bingung.
***
Berbeda halnya dengan kediaman Firman. Sepulang dari berjalan justru pria itu sangat murka wajahnya.
“Mamah bawa Gara ke kamarnya.” titahnya dengan tegas.
“Papah, tolong Pah. Kendalikan emosi papah.” Indri begitu bingung.
__ADS_1
Ingin mencegah sang suami bertemu dengan Tasha, namun di sini ada Gara yang harus ia amankan lebih dulu. Jangan sampai Gara melihat sang kakek marah pada maminya.
“Mamah, kita jangan ke kamar dulu. Gara mau ketemu Kakak.” cegah bocah itu.
Sayang, Indri justru mempercepat gerakannya menarik tangan Gara. Tubuh yang padat membuat Indri tak kuasa jika harus menggendong sang cucu.
“Sayang, kita ke kamar dulu. Kamu harus istirahat. Kakak sedang sibuk. Nanti pasti ke kamar datangi kamu yah?” bujuknya yang sulit Gara terima.
Kebiasaan bocah itu setiap lama berjauhan dengan sang mami, ia merasa sangat rindu dan tidak sabar untuk segera bertemu. Menceritakan apa pun yang ia lakukan saat berpisah dengan sang mami.
“Tapi…” Indri mendengar ucapan sang anak kembali berusaha membujuk.
Hingga ia pun tidak bisa mencegah pertemuan anak dan suaminya.
Di sini Tasha yang sedang menangis berbaring di tempat tidur terkejut kala pintu kamarnya yang tidak ia kunci di buka kasar dari luar.
“Papah,” ujarnya sontak bangun dari kasur.
Belum sempat Tasha bertanya lagi, tiba-tiba tangan dari sang papah mendarat kasar saat itu juga. Tangan yang hanya sekali membuatnya merasakan sakit di masa lalu. Dengan masalah yang sama. Kini Tasha kembali merasakannya.
Tasha terduduk di kasur saat mendapat tamparan kuat itu. Air matanya semakin banjir.
__ADS_1
“Masih kurang Papah dan Mamah menutupi ini semua, Tasha?” Teriak Firman begitu mendidi amarahnya.