
“Hey, Agatha…akhirnya kamu datang juga. Tuh di atas ada beberapa model yang bisa kamu nilai buat bantu Mami yuk?” Sambutan Mami Tasha membuat aku tersenyum paksa.
Sejujurnya sangat berat untuk aku pergi ke butik Mami sore ini. Pikiranku sudah terlalu kacau karena Gara. Aku ingin istirahat saja di rumah. Namun, sebagai anak angkat rasanya aku seperti sangat tidak diri. Bagaimana bisa aku bersantai sementara kedua orangtuaku nampak sibuk bekerja keras. Di usiaku saat ini sudah wajib untuk membalas budi Papi dan Mami.
“Oh iya, Mam. Ayo kita ke atas.” Kami berdua berjalan menaiki tangga.
Rupanya di dalam sana ada sepuluh orang model serta asisten Mami juga. Aku hanya datang memberi pendapatku. Mami di rumah sudah sering memintaku menonton fashion show.
“Mami jadi kangen sama adikmu, Tha.” Tiba-tiba saja aku kaget mendengar ucapan Mami. Sebab di pikiranku saat ini bahkan Gara masih saja melintas tanpa henti.
“Hah? Sabar yah, Mami. Gara kan harus sukses kuliahnya.” jawabku hanya bisa singkat seperti itu.
Bukan hanya Mami saja yang rindu. Aku pun sangat merindukan Gara. Aku tahu alasan Mami mengatakan rindu tentu karena mengingat Gara yang dulu menjadi model ciliknya. Di ruangan ini pun begitu banyak foto Gara saat kecil hingga remaja dengan pose layaknya model pria.
__ADS_1
Tanpa sadar aku tersenyum melihat foto-foto tampan yang tinggal kenangan itu. Berbanding terbalik dengan saat ini. Gara bahkan sama sekali jarang mau di foto. Sementara waktu kecil ia begitu suka di foto.
“Ayo bantu Mami sesuaikan desain sama tubuhnya yah?” Aku hanya mengangguk mendengar perintah Mami.
Yah, besok Mami akan ada acara fashion show di mall terbesar di kota kami. Salut di usia Mami yang tak lagi muda saat ini semangatnya masih begitu besar.
“Mam, ini kayaknya bagus pakai yang warna twotone ini. Wajahnya jadi kontrak dengan warna gaun ini.” saranku.
Salah satu model yang menurutku tidak begitu cocok dengan warna yang polos. Mami mendekat sejenak ia terdiam memperhatikan saranku.
Melihat saranku sesuai, Mami tersenyum. “Kamu benar, Sayang. Sangat cocok. Kita lanjut yang lain lagi yah?” Pekerjaan itu berlanjut hingga pukul tujuh malam.
Kali ini aku sudah mengirim pesan pada Papi untuk pulang duluan. Mami bahkan meminta maaf terus pada Papi karena tidak bisa menyambutnya pulang.
__ADS_1
“Aduh Papi kamu sepertinya marah. Mami pulang aja kali yah?” Aku menghela napas kasar.
“Mam, Papi nggak marah. Ini kan cuman sekali masa marah sih? Papi sudah jawab iya tadi. Mami jangan takut gitu dong.” Bujukanku sepertinya sama sekali tidak masuk ke kepala Mami.
Tetap saja Mami terlihat gelisah. Benar-benar pasangan bucin. Aku sampai menggeleng pusing melihat Mami uring-uringan.
“Mami, ini bagaimana kalau di tinggal? Agatha kan belum paham soal payet dan yang lainnya. Mereka semua sudah Mami suruh pulang. Nggak mungkin sempat kalau besok pagi.” ujarku menunjuk pada gaun yang masih ada kekurangan setelah kami revisi.
Wajah Mami terlihat sedih. Aku tahu Mami tidak ingin membuat Papi marah.
“Astaga Mami, bahkan fashion show seperti ini jarang sekali Mami adakan karena sibuk dengan pesanan orang. Sekarang justru Mami ingin menyerah hanya karena takut Papi marah.” gumamku dalam hati.
“Tha, coba kamu telpon Papi deh pastiin kalau dia nggak marah.” Akhirnya aku hanya bisa patuh menghubungi Papi.
__ADS_1
Beberapa kali panggilan itu terdengar, tak kunjung Papi menjawab. Mami pun semakin gelisah ingin pulang.
“Sayang,”