Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Sarapan Bertiga


__ADS_3

Pagi kini kembali menyapa, dimana sudah saatnya waktu yang ayah dan anak itu selalu nantikan. Gara pagi ini tak lagi berdiri di depan rumah. Ia tampak menikmati pemandangan di kolam samping rumah dengan menggambar. Tasha yang sedang bersiap tentu saja tidak memperhatikan jika anaknya tengah sibuk pagi itu.


Di luar Raga yang baru tiba tampak melangkahkan kakinya mendekati pintu utama kediaman Firman. Ia di sambut baik oleh Indi, ibu Tasha. Keduanya melangkah menuju ke dalam rumah.


"Dimana Gara, Tante?" tanya Raga yang sering kali berubah. Terkadang ia memanggil tante terkadang memanggil ibu.


"Tadi sudah siap-siap. Kemana sih anak kecil itu?" ujar Indri yang juga bingung kemana Gara sebab biasanya ia dengan antusias menunggu kedatangan sang papi.


Hingga saat Indri melangkah ke arah kamar sang cucu, Raga justru melangkah ke setiap sudut rumah itu. Ia berjalan hingga suara sosok kecil tengah berdendang dalam gumaman mencuri perhatian Raga. Pelan ia terus mendekat ke arah sumber suara dan tampaklah punggung kecil milik Gara yang tengah duduk di tepi kolam.


Raga tersenyum melihatnya, anaknya begitu sangat menggemakan dari arah belakang seperti ini. Sejenak ia melihat lekukan di tengkuk leher anak yang begitu dalam. Raga terkekeh lucu saat mengingat ucapan sang mamah.


"Kalau besar jangan pelit-pelit sama teman, Raga. Kata orang dulu leher kamu yang menekuk dalam seperti ini tandanya pelit loh." peringatan dari sang mamah tampak membuat Raga jadi bisa melihat apa yang ia miliki kini menurun pada anaknya.


Meski hanya  mitos setidaknya ada satu hal yang bisa ia lihat di tubuh sang anak. Wajah mereka tampak begitu berbeda sekali dan itu membuat Raga sedih.


"Papi, Mami, Gara...ini papah dan mamah. Ini adik adik Gara nanti." Mendengar ucapan di iringi senandung ria dari sang anak sontak saja Raga terenyuh. Pelan ia bergerak mendekati sang anak dan memperhatikan setiap gerakan tangan mungil anaknya.


"Wah gambar yang bagus." pujian Raga sontak membuat Gara menoleh ke belakang. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran sang papi.


Sontak Gara berdiri dan memeluk erat tubuh Raga. Respon Raga pun juga tak kalah antusiasnya. Ia memeluk erat tubuh sang anak lalu menggendong tubuh mungil itu.

__ADS_1


"Hehehe Papi geli." Gara terkekeh merasakan ciuman di wajahnya dari sang papi.


Suara tawa keduanya yang riuh di tepi kolam begitu menyita perhatian para penghuni rumah. Bahkan Tasha sampai tergesa-gesa mendekati sumber suara di ikuti sang ibu.


 "Ya ampun ternyata Gara di sini. Mamah cari kemana-mana." ujar Indri menggelengkan kepalanya.


"Gara," panggil Tasha sontak menghentikan tawa mereka berdua. Raga menurunkan tubuh anaknya dan membiarkan Gara mendekati sosok Tasha.


"Ayo sarapan dulu."


Mereka semua melangkah menuju meja mkan. Di sana sudah ada Firman yang duduk menunggu. Di lihatnya Raga yang melangkah di belakang. Seketika selera makan pagi itu hilang begitu saja.


Jelas saja Firman tak tenang berlama-lama di rumah jika melihat Raga. Rasanya semua masih begitu sulit untuk ia lupakan.


"Papah ada kerjaan penting." sebelum pria paruh baya itu melangkah pergi, Raga yang sadar pun segera bersuara.


"Om, duduklah sarapan. Saya akan tunggu Gara di dalam mobil saja." tutur Raga memilih untuk mengalah.


Bagaimana pun ia tidak ingin menjadi perusak kehangatan di rumah Tasha. Sebab dirinya bukanlah siapa-siapa di sana.


"Papi mau kemana?" Gara tampak merengek manja melihat Raga yang hendak meninggalkannya.

__ADS_1


Tasha kini merasa kasihan pada anaknya. Mungkin saat ini Gara sedang ingin makan bersama sang papi, bukan hanya sekedar untuk berangkat dan pulang sekolah dengan sang papi.


"Ayah makanlah bersama Ibu. Biarkan kami sarapan di luar saja. Ayo Gara." Akhirnya Tasha mengambil jalan lain. Ia bergegas meninggalkan rumah setelah berpamitan pada kedua orangtuanya.


Setelah bersalaman, akhirnya mereka bertiga melangkah ke luar rumah. Gara begitu senang dalam gendongan Raga menuju ke mobil. Ia benar-benar merasa puas dengan keseharian yang begitu menyenangkan. Ada saja hal yang membuatnya merasakan suasana baru dari banyak cerita temannya di sekolah. Tanpa sadar satu persatu mulai Gara inginkan dari sosok Raga.


"Pagi, Tasha, Gara..." sapaan dari sosok pria tampan tiba-tiba menyapa mereka yang hampir tiba di mobil Raga.


Tak menyerah meski di tolak oleh Tasha, Rafa kembali datang pagi ini dengan tangan terisi. Yah, satu buket bunga mawar putih begitu menggoda indera mata Tasha. Tak pernah sekali pun ia mendapatkan hal semanis ini. Bahkan untuk pertama kalinya Tasha melihat buket indah itu di depan matanya.


"Ini hadiah untukmu. Dan ini untuk Gara." satu paper bag robot ia serahkan pada bocah kecil tampan itu yang sedang memeluk leher Raga.


Gara tersenyum lebar menatap wajah tampan Rafa. "Wah uncle tampan baik sekali. Asik aku dapat hadiah robot. Kak, ayo ajak uncle ini juga sarapan bersama. Nanti Gara mau foto bertiga deh." ajak bocah itu dengan sangat senang.


Tak sadar jika ucapannya justru membuat wajah senang Raga berubah mendung saat itu juga. Panggilan yang biasa Gara sematkan padanya justru kini di dapatkan juga oleh Rafa. Itu artinya jika pria di depannya ini juga di terima dengan baik oleh Gara. Tidak boleh. Raga tidak akan biarkan hal itu terjadi. Ia tidak akan rela posisinya di geser oleh sosok pria yang ia sendiri tidak kenal.


Rafa mengalihkan pandangan matanya dari arah Gara pada Tasha dan Raga. Wajah keduanya yang sulit di tebak. Tidak, lebih tepatnya hanya Tasha. Sebab Raga sudah jelas jika sangat menolak usul sang anak.


"Ayo benar kata Gara. Sebaiknya anda ikut saja dengan kami sarapan bersama." ajak Tasha setelah berpikir lama.


Ia juga tidak ingin membuat anaknya kecewa. Pada akhirnya Rafa pun mengendarai mobil dengan mengikuti dari arah belakang. Sepanjang jalan Raga terus menampakkan wajah kesalnya. Tasha tahu hanya saja ia pura-pura buta. Biarlah toh apa yang ia lakukan tak ada salahnya.

__ADS_1


__ADS_2