
"Ikut yah? Please...pengen lihat kampus di luar negeri." Pagi itu aku merengek di depan Mami dan Papi kala Gara bersiap untuk pergi ke kampusnya. Penampilannya begitu keren menurutku. Gara menghela napasnya saat mendengar rengekan ku. Entah kenapa pagi ini aku mendadak ingin ikut ke kampusnya. Sepertinya sangat menarik menemukan teman-teman yang berbeda dari biasanya. Yah aku ingin memperluan jaringan pertemananku.
"Yah, ikut?" Aku kembali berucap.
"Mi, Pi, aku berangkat dulu." Bukannya setuju Gara justru melepas pelan tanganku pada lengannya dan meninggalkan aku pergi begitu saja.
Melihat penolakan tersebut kini aku masuk ke kamar. Memikirkan apa sih susahnya Gara tinggal mengajakku. Lagi pula aku bukan anak kecil yang akan sulit dia jaga.
"Bersiaplah nanti pulang kuliah kita akan jalan." Tiba-tiba saja suara itu terdengar di balik pintu kamarku.
Aku tak menanggapi adikku yang ternyata kembali lagi ke dalam rumah setelah membuat kakaknya kesal bukan main.
Setengah hari ku habiskan waktu dengan berbaring di kamar. Sedangkan mami dan papi yang semula mengajak ku untuk ikut jalan ku tolak. Berakhirlah saat ini aku sendirian saja. Tak sadar mataku kembali terpejam ketika merasa kantuk. Hingga siang hari aku belum juga mandi ketika Gara membangunkan aku dari tidur.
"Agatha. Hei! Agatha, bangun. Kau belum mandi juga?" Ku lihat tatapan adikku yang kesal melihat penampilanku masih mengenakan piyama. Kedua mataku mengerjap melihat wajah tampan adikku.
"Hah? Ada apa?" tanyaku bingung.
"Cepat mandi segera bersiap. Kita akan jalan-jalan." tutur Gara menarik tubuhku yang lemas lalu di gendongnnya ke depan kamar mandi. Aku segera menutup kamar mandi dan Gara pun segera berganti pakaian santai.
Siang itu kami makan di luar berdua. "Gar, ke Oktoberfest yuk?" ajakku setelah mencari-cari tempat yang asik di Jerman.
Saat itu Gara sedang meneguk air di gelas usai menghabiskan steak di piringnya. Karena penuturanku yang membuatnya kaget sontak saja Gara menyemburkan air minumnya ke depanku.
"Gara!" suara ku memekik kesal melikhat tanganku yang terkena semburan airnya. Beruntung wajahku yang sudah ku poles make up tak terkena aksinya itu.
"Mau kesana artinya kita pulang." Mataku membulat sempurna. Apaan sih baru juga keluar apartemen masa sudah pulang lagi. Segera aku menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" tanyaku penasaran.
"Kenapa juga harus ke tempat seperti itu? Kamu itu perempuan. Nggak pantas ke tempat begituan." Bibirku mengerucut ke depan kesal mendengar ucapan Gara. Padahal di sana tengah sangat ramai pastinya acara festivalnya.
"Sekali aja..." Lagi aku berucap namun ku lihat Gara menggeleng frustasi.
"Nggak ada mau sekali dua kali berapa kali pun nggak ada yang namanya ke sana. Di sana itu tempatnya orang minum. Kamu mau ngapain kesana? Aku lapor ke Papi baru tahu."
Bibirku pun terdiam mendengar nama Papi di sebut. Jika Papi Raga sampai tahu maka habislah aku. Kami pun hanya berkeliling-keliling ke tempat-tempat yang ramai pengunjungnya. Rasanya juga asik sebab pemandangan kota di luar negeri memang sangat berbeda dari negaraku. Mau setahun pun liburan di sini pasti aku akan sangat betah. Sayang liburku sebentar lagi akan usai.
Saat aku dan Gara berjalan kaki di keramaian, tiba-tiba saja aksi Gara membuat aku kaget.
"Eh?" Mataku membulat mendapati adikku tengah menarik rambutku untuk ia ikat.
"Angin di sini kencang. Wajahmu akan terganggu jika mengurai rambut seperti ini." tutur Gara.
Semakin lama jalanan justru terlihat semakin ramai. Aku mulai mengeluh dengan kedua kakiku yang mengenakan boots heels.
"Gar, pulang yuk. Kakiku sakit banget." ujarku yang tak kuasa melangkah lagi. Sejak tadi aku berusaha kuat melangkah sebab suasana yang memang memanjakan mata.
Ku lihat Gara yang menahan tanganku dan ia menoleh ke bawah. Dimana kakiku berdiri sakit saat ini.
"Siapa suruh pakai heels setinggi itu? Sudah tahu mau jalan-jalan. Sudah sini ku gendong." Belum sempat aku berkata apa pun tiba-tiba saja Gara sudah menarik tanganku melingkar di lehernya dan tubuhku di gendong dari arah belakang.
Terharu rasanya ketika aku memiliki adik seperti Gara. Kelak ketika aku mendapatkan jodoh aku berharap bisa memiliki pria seperti Gara. Kami pun berjalan, ikatan rambut yang di buatkan Gara sudah lepas hingga rambut panjangku terurai sampai ke dadanya. Ku sandarkan kepalaku di pundak adikku. Begitu tenang rasanya. Saat ini aku merasa begitu di lindungi oleh malaikat. Tak sadar jika perlakuan Gara itu membuat aku terlelap hingga kini saat aku bangun sudah berada di kamarku.
Samar aku mendengar suara ramai tertawa di luar kamar. Itu seperti suara Mami dan Papi bersama Gara. Ku lihat jam sudah sangat larut. Tubuhku yang lelah pun rasanya tak kuat membuat aku untuk ikut bergabung. Aku memilih melanjutkan tidurku kembali.
__ADS_1
Keesokan paginya, di meja makan begitu lengkap dengan semua masakan Mami yang super lezat. Aku datang menyapa Mami di dapur sembari memeluknya.
"Pagi, Mi..."
"Eh sudah bangun. Sudah cuci muka belum?" Mami Tasha yang melihatku sontak bertanya hal demikian. Aku hanya mengangguk tersenyum lalu membantunya menata makanan yang sudah selesai di masak.
Liburan begitu terasa cepat berlalu. Kini sudah hampir dua minggu terlewatkan dimana aku dan kedua orangtua ku akan segera kembali ke Indonesia meninggalkan Gara kembali seorang diri.
Ada perasaan sedih rasanya ketika harus berpisah. Sejak kecil kami selalu bersama tentu setiap kali akan berpisah rasanya begitu tak enak.
"Mami dan Papi pulang dulu. Kamu jaga diri yah? Ingat makan makanan yang sehat. Jangan ikut pengaruh teman-teman. Perjalanan kamu masih panjang, Gara." Mami Tasha yang memeluk Gara serta mencium seluruh wajahnya penuh cinta membuat aku sangat terharu.
Gara begitu di perlakukan seperti anak kecil oleh Mami. Kemudian Papi yang memeluk Gara sembari berkata, "Segeralah luluskan kuliahmu dan pulang. Papi sudah tak akan lama lagi menanangi perusahaan. Papi butuh kamu secepatnya." Aku melihat Gara mengangguk.
Sadar akan kemampuan, aku memang tak pantas membantu Papi di perusahaan. Sebab aku sendiri merasa ragu dengan kemampuanku mengelola perusahaan yang begitu besar.
Terakhir adalah giliranku untuk berpamitan dengan adikku. Ia memelukku dan mengusap puncak kepalaku.
"Ingat bahagia itu jangan bergantung pada orang lain yang bisa pergi kapan pun. Kerja keraslah untuk bisa hidup sendiri tanpa mengandalkan mereka." ujar Gara.
"Tapi, bantu aku yah?" ujarku memohon dan Gara hanya mengangguk.
Kami bertiga segera memasuki bandara meninggalkan Gara yang sempat ku lihat menunduk menyeka air matanya. Mungkin ia begitu merasa kehilangan setelah cukup lama kami bersamanya.
Perasaan sepi pasti ada di rasakan oleh setiap anak perantau. Dan itu adalah satu alasanku juga tak ingin pergi dari rumah. Menurutku tempat kuliah di kota tempatku tinggal sudah cukup baik dan aku akan terus bersama Mami dan Papi.
Sepanjang jalan aku terus tidur hingga bangun ketika harus melakukan buang air kecil. Kami naik pesawat tentu dengan layanan class business. Papi memang tak pernah tanggung-tanggung dalam memanjakan keluarganya. Mungkin karena itu pula rejeki Papi selalu lancar.
__ADS_1