Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Momen Haru


__ADS_3

Kepulangan keduanya di Indonesia kini di sambut dengan sebuah kejutan. Berbagai macam bunga tampak berhiaskan di setiap sudut halaman rumah hingga memasuki rumah megah milik Firman. Seperti yang di minta oleh sang pria, semua bertemakan bunga berwarna putih. Kursi yang di lapisi dengan pita berwarna putih semua begitu nampak cantik. Seorang laki-laki yang terlihat seperti penghulu telah duduk di depan sana dengan berbincang kecil bersama Firman dan Dahlan. Sedangkan wanita yang berdiri di samping mobil ketika baru tiba tercengang tanpa kata. Yah, kepulangan Tasha dan Gara dari Singapura sudah di sambut kejutan yang tak terduga.


Happy weding Tasha dan Raga. Beragam model ukiran bunga di karangan bunga besar berjajar rapi di sepanjang halaman rumah itu. Air mata Tasha menetes, semua sungguh di luar dugaan, dan Tasha begitu mengagumi persiapan dekorasi ini.


“Sha, kok diam aja? Ayo segera bersiap.” Sang mamah yang datang menyambut kedatangannya membuat Tasha tak kuasa memeluk sang mamah. Ia memejamkan mata menjatuhkan air mata haru dan bahagia.


“Mamah, ini Tasha nggak mimpi kan?” tanyanya membuat Indri tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Ini nyata kehidupan kamu ke depannya sayang. Kehidupan kamu yang sesungguhnya adalah setelah ini. Kamu akan bahagia bersamanya dan juga Gara.” Keduanya saling memeluk erat.


Raga yang menggendong sang anak nampak tersenyum senang. Hari akhir dari perjuangannya akhirnya terwujud juga. Meneteskan air mata Tasha untuk sebuah kebahagiaan yang teramat sangat.


“Ayo, kita harus segera ganti baju.” ajak Raga dan Gara mengangguk.

__ADS_1


“Memangnya kita mau ganti baju apa, uncle?” tanya Gara yang masih belum paham.


“Kamu akan ganti baju pengantin kecil dan mengantar Mami ke acara. Uncle akan ganti baju pengantin besar.” Mendengar hal yang belum pernah ia tahu tentu Gara hanya tersenyum tak tahu harus melakukan apa selain menurut saja.


Mungkin akan seru pikir Gara. Kedua pria berbeda usia itu melewati Tasha setelah Raga mengusap kepala Tasha yang di bujuk sang ibu untuk berhenti menangis.


“Berdandanlah yang cantik untukku.” tutur Raga tersenyum hangat.


Tasha menunduk malu. Indri pun menggandeng tangan sang anak menuju kamar. Lagi-lagi Tasha harus di kejutkan dengan kamar miliknya yang di desain dengan begitu cantik dan romantis. Wajahnya malu membayangkan akan ada adegan apa selanjutnya di kamarnya ini? Tak pernah ia bayangkan jika kamar sejak kecil ini akan menjadi tempat pertemuan dirinya dan Raga kembali. Tasha yang duduk di make up berulang kali mengerjapkan mata berusaha menenangkan diri.


“Wah anak mamah cantik sekali. Sha, kamu benar-benar mempelai wanita yang sesungguhnya. Mamah sangat senang melihat wajahmu saat ini. Peri kecil mamah sudah benar-benar tumbuh dengan dewasa.” tutur Indri menatap lekat wajah sang anak dari pantulan cermin.


Sementara hal yang tak jauh berbeda dari kamar mempelai wanita, Raga yang berada di kamar sang anak Gara juga kedatangan Firman dan Dahlan.

__ADS_1


Dua pria yang begitu berarti bagi kehidupan Raga dan juga Tasha. Firman lebih dulu mendekati Raga dan memegang pundak pria tampan itu. Tatapan matanya terlihat begitu merah menahan cairan bening di kedua mata.


“Tasha adalah wanita yang saya jaga sekuat kemampuan saya sebagai papahnya.” Raga mengangguk mendengarnya.


“Saya percayakan padamu anak saya yang sudah pernah kamu kecewakan, Raga. Saya harap kesempatan pertama dan terakhir ini tidak pernah kau sia-siakan. Sebab jika itu terjadi, maka sampai mati pun saya tidak akan lagi mau memberikan kesempatan padamu untuk melihat Tasha dan juga cucu saya, Gara.” Tolong jaga dia sebagai ibu dari anakmu. Hargai dia sebagai wanita yang begitu memberikan kasih sayang tulus pada anakmu. Jangan pernah membuat air matanya jatuh dengan kesalahanmu yang sangat fatal.”


“Saya paham, Pak. Maafkan saya sekali lagi atas masa lalu yang saya benar-benar sangat menyesalinya. Saya akan menjaga Tasha dengan seluruh tenaga saya. Saya sangat mencintai anak bapak. Saya mengucapkan terimakasih banyak atas kemurahan hati bapak mau memaafkan dan menerima saya sebagai menantu.” Untuk pertama kalinya Firman pun meneteskan air mata dan memeluk erat tubuh Raga.


Kini tugasnya telah benar-benar selesai menjaga sang anak dan cucunya. Ada perasaan sedih yang amat sangat ia rasakan. Namun, inilah kehidupan sesungguhnya yang harus Tasha dan Gara hadapi cepat atau lambat. Mereka berhak memulai kehidupannya dengan orang yang akan menjaga mereka. Hidup berdua dengan sang istri tak pernah Firman bayangkan akan sesunyi apa setelah ini.


Tubuh pria itu bergetar menahan suara tangis di pelukan Raga. Ia benar-benar merasa kehilangan setelah ini.


“Opa, kok papah menangis? Papah cengeng yah?” celetuk Gara pada Dahlan yang terdengar sampai ke telinga Firman dan Raga.

__ADS_1


Mendengar di katakan cengeng oleh sang cucu sontak Firman pun melepaskan pelukannya dan mengusap kasar air matanya. Malu tentu saja bahkan Raga hampir tertawa jika tak mengingat restu Firman menentukan kelanjutan acara hari ini.


__ADS_2