Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Keberhasilan Raga Untuk Gara


__ADS_3

Susah payah Raga meyakinkan Firman, namun tak kunjung mendapatkan izin. Akhirnya gerbang pun tertutup sempurna sesuai dengan perintah Firman. Raga berdiri mematung melihat kepergian mobil yang membawa bocah kecil itu. Beberapa kali Gara berteriak memanggil namanya.


"Kenapa rasanya mendengar Gara berteriak dadaku sesak?" gumam Raga memegang dadanya yang terasa seperti ada yang mengganjal.


Pagar menjulang tinggi telah terkunci dari dalam. Kini Raga hanya berpikir apa yang harus ia lakukan untuk bisa bertemu Tasha. Bahkan menghubunginya pun juga tidak bisa ia lakukan.


Kegigihan Raga ternyata bisa terlihat oleh sosok wanita yang tengah menyibak sedikit gorden butiknya. Dari arah lantai atas, Tasha menatap mobil yang masih terparkir di luar pagar rumahnya. Ada sedikit hati yang menginginkan pertemuan, namun Tasha sadar ini tidak boleh di biarkan. Raga bukanlah pria yang baik untuknya dan Gara.


"Maaf, Raga. Kamu sudah sepantasnya mendapatkan ini dari kami. Gara adalah anakku dan kedua orangtuaku. Sudap seharusnya kamu pergi dari kehidupan kami." Usai bergumam seperti itu, Tasha pun bergegas mengirim pesan pada Pak Dahlan.


Tanpa menunggu persetujuan, Tasha segera mentransfer sejumlah uang yang menurutnya sesuai dengan perjanjian kontrak kerja mereka. Jika salah satu pihak membatalkan kerja sama, maka wajib mengganti rugi. Isi pesan dari Tasha pun seketika membuat asisten dari Dahlan terkejut.


"Tuan, apa benar perjanjian kontrak dengan Tuan Gara di batalkan?" tanyanya pada Dahlan saat mereka berhadapan di ruang kerja pria paruh baya itu.


Mendengar aduan tersebut, Dahlan menutup berkas di tangannya dan menerima tab yang di pegang sang asisten.


"Ngaco kamu. Apa untungnya saya membatalkan? Ini kerja sama yang sangat menyenangkan." tutur Dahlan masih tak melihat pesan dari Tasha.

__ADS_1


Hingga kedua mata Dahlan membola melihat sejumlah uang yang sudah di transfer oleh Tasha. Pria itu bahkan beberapa kali menggelengkan kepala tak percaya.


"Ini mana mungkin?" gumamnya.


Rasanya kepala Dahlan mendadak sakit, beberapa hari ia berusaha menghubungi Tasha namun tak kunjung mendapat jawaban. Dan saat ini Tasha tiba-tiba saja membatalkan perjanjian mereka sepihak.


Tak bisa tinggal diam, Dahlan pun segera beranjak dari duduknya. Kali ini ia sendiri yang akan bergerak menemui Tasha.


"Raga benar-benar tidak bisa di harapkan!" gerutunya di jalan.


Tanpa ia tahu jika nama yang baru saja di sebut, saat ini tengah merangkak naik tembok belakang rumah Tasha. Raga nekat bahkan meminta ijin pada pemilik rumah di perumahan sebelah untuk bisa memasuki rumah mereka dan memanjat ke rumah Tasha.


"Pak, tolong. Lihat ini pacar saya. Saya sedang terancam di putuskan pak. Minggu depan kami akan tunangan pak. Ini hanya salah paham tapi saya tidak bisa bertemu dengannya. Saya harus menjelaskan semuanya padanya, Pak. Saya mohon. Ini uang untuk pensiun bapak. Saya transfer sekarang juga, mana nomor rekening bapak." Raga memperlihatkan jumlah yang akan ia transfer melalui ponsel.


"Dari tadi dong bilang begitu. Tapi ini uang asli kan? Anda tidak menipu saya?" tanya pria tua itu kegirangan.


Usai mengetik nomor rekening, Raga pun segera mentransfer, dan akhirnya semua berjalan mulus. Pria itu berhasil menembus tembok rumah Tasha yang tinggi dan langsung menuju balkon kamar yang bisa di yakini adalah kamar salah satu pembantu atau pekerja lainnya.

__ADS_1


Bak seorang maling, Raga mengendap-endap menelusuri setiap rumah megah itu. Ia tampak kebingungan mencari di mana kamar Tasha atau tempat Tasha berada saat ini.


"Tasha kemana yah?" tanyanya lirih.


Berkeliling kesana kemari, akhirnya sepasang mata Raga tertuju pada sebuah pintu kamar dimana ia yakini itu adalah kamar Gara kecil. Tanpa sadar langkah kaki pria itu bergerak memasuki kamar Gara. Puas melihat-lihat dekoasi kamar Gara, ia pun keluar.


"Ini kamar Gara, berarti itu pasti kamar orangtua Tasha. Apa aku masuk saja?" belum sempat ia berpikir, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari arah lain.


"Bibi, tolong yah keranjang sisa baju kotor Gara semalam langsung di ambil di kamarnya." Tasha berteriak lembut.


Raga tersenyum mendengarnya. Ia sudah merasa rindu dengan suara wanita itu.


"Baik, Non." jawaban pelayan pun seketika menyadarkan Raga untuk segera beralih dari posisinya saat ini. Dan satu-satunya tempat yang paling aman adalah kamar di sebelah kamar Gara.


Pria itu masuk dan ia terpelongo melihat apa yang ada di dalam kamar itu. Kamar yang ia pikir adalah kamar kedua orangtua Tasha ternyata adalah kamar Tasha. Banyak sekali perlengkapan Gara di kamar itu bahan lemari yang terisi khusus pakaian Gara saat bayi masih tersimpan rapi.


"Ini seperti bukan kamar seorang kakak tapi ini seperti kamar seorang ibu. Dimana Tasha menyimpan foto suaminya?" Raga bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia bingung tanpa bisa mendapatkan jawaban saat itu.

__ADS_1


Beberapa foto yang terpajang di kamar pun hanya Tasha dan Gara yang berpelukan, tak ada sosok pria dewasa di antara mereka.


__ADS_2