
Pertengkaran mulut pun tak terhentikan hingga tidur Gara akhirnya terganggu. Bocah itu membuka mata mendengar Tasha dan Raga yang saling mengotot. "Raga, kita mau kemana?" tanya Tasha bingung melihat jalur yang menuju kota lain.
Seharusnya mereka sebentar lagi akan tiba di rumah. Raga terus melajukan mobil sambil mengatakan protesnya pada Tasha. "Pokoknya tidak ada lamar-lamaran, Tasha. Kau milikku, apa kau lupa ada Gara?" tanyanya dengan nada tinggi.
Manik mata Tasha mendelik kesal mendengar ucapan Raga.
"Jangan pernah bawa-bawa Gara dalam hal apa pun itu, Ga. Ini bukan ada sangkut pautnya dengan Gara. Aku tidak tahu kalau mereka-"
"Kalau mereka apa? Kalau mereka mau datang melamar kamu? Terus kalau sekarang sudah tahu kamu mau terima? iya kan? Apa karena dokter cabul itu kamu selalu menolak aku, Natasha Veronika?" iya?"
Tasha begitu heran dengan sikap Raga kali ini. Ia menggeleng mendengar ucapan Raga yang terbawa emosi.
"Kalau kamu memang mau terima pria itu, oke. Aku akan biarkan kamu terima dia tapi jangan harap kita akan pulang ke kota itu lagi. Kita akan pergi bersama." Raga pun melajukan mobilnya lagi hingga Tasha berteriak.
"Raga, hentikan. Aku takut!" ia berteriak, Raga pun yang hilang kendali seketika mengerem mobil kala mendengar suara Gara dan Tasha yang menangis.
Astaga, apa yang terjadi padanya saat ini? Apa karena cemburu membuatnya sampai kehilangan akal. Raga pun menghentikan mobil di tepi jalan dan memeluk Tasha dan juga Gara.
__ADS_1
"Tasha, maafkan aku." tuturnya dengan suara gemetar.
Ia mencium kepala Tasha sembari memejamkan mata. "Kamu benar-benar nggak berubah, Ga." Tasha mendorong kasar tubuh Raga dan melepas seatbelt di tubuhnya. Gara yang menangis ketakutan serta nyawanya belum kembali semua hanya memeluk tubuh Tasha yang menggendongnya. Tasha berniat ingin mencari taksi untuknya pulang. Ia benar-benar kesal dengan sikap Raga yang terlalu kekanakan bahkan tanpa mendengar penjelasannya dulu.
Hilang sudah momen bahagia usai liburan, Gara justru merasa semuanya menjadi rusak karena keduanya berkelahi dan membuatnya takut.
"Mamah, Papah." panggilnya pada sang nenek dan kakek.
"Tasha! Tunggu, Sha." Raga berlari mengejar Tasha yang sudah menjauh dari mobil. Beberapa kali Tasha menepis kasar tangan Raga yang menahannya.
Ia sungguh kesal dengan sikap Raga yang bisa saja membahayakan sang anak. Hanya karena kedatangan seseorang yang bahkan ia sendiri pun tidak tahu apa tujuannya ataukah karena bisnis yang terjalin dengan Bu Dewi, ia tidak tahu pasti. Dan Raga sudah menyimpulkan dengan kemauannya sendiri sungguh Tasha tak suka.
"Uncle kenapa marahin Kakak? Gara nggak suka." ia berkata sembari menjatuhkan air matanya tanpa henti. Tasha yang mendengar pun masih berdiam mematung. Ia benar-benar syok ketika Raga melajukan mobil sekencang itu. Jantungnya rasanya berpacu begitu sangat cepat hingga ingin melompat.
"Maaf kan uncle, Uncle tidak sengaja. Kita masuk dan pulang yah? maafkan aku, Sha. Ayo masuk ke mobil. Di sini sangat banyak kendaraan lewat bahaya." pelan Tasha pun patuh masuk ke mobil dengan Raga yang menarik tangannya.
Keduanya melanjutkan perjalanan tanpa berbicara apa pun lagi. Raga berinisiatif berbicara dengan tenang meski seujujurnya dalam hati pria itu sangat gelisah mendengar Rafa di rumah Tasha bersama sang ibu. Ia pun tidak akan mau kalah dari pria itu. Sampai kapan pun Tasha adalah miliknya.
__ADS_1
Dan akhirnya mereka pun tiba di rumah dengan Tasha yang di sambut oleh Bu Dewi. Wanita itu memeluk Tasha dan mencubit kecil pipi Gara. Mereka masuk ke dalam dengan Raga yang tanpa di aja juga ikut masuk. Kali ini ia tidak boleh lengah.
Firman dan Indri saling tatap, meski pusing melihat tingkah Raga mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Jelas pria itu sedang cemburu saat ini.
Sementara Rafa dan Bu Dewi menatap Tasha saat ini.
"Sha, kapan ke Singapura lagi?" satu pertanyaan itu sontak membuat Raga mendidih.
"Masih belum tahu, Bu. Saya masih sedang mengejar desain yang harus di selesaikan dulu dari perusaa ibu." sahut Tasha dengan sopan.
"Saya datang mau meminta maaf atas perlakuan Rafa waktu itu. Dia memang terlalu takut jika ibunya dekat dengan orang baru." Tasha tersenyum dan mengangguk. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Rafa saat baru kenal dengannya. Pria itu begitu sinis dan tidak suka padanya.
Raga masih anteng mendengarkan kata-kata selanjutnya. Debaran di jantungnya berpacu saat menunggu setiap kelanjutan kata yang Bu Dewi lontarkan pada Tasha mau pun keluarganya.
Hingga beberapa lama mereka berbincang hangat akhirnya Bu Dewi mengatakan tujuannya. "Untuk rasa terimakasih saya sudah di maafkan, saya berniat mengundang makan malam nanti malam di luar. Tasha dan keluarganya boleh ikut yah? Saya akan sangat merasa di hargai jika bapak dan ibu bersedi datang." Kini Raga menegakkan punggung mendengar ucapan Bu Dew.
Namanya sama sekali tidak di sebut saat itu yang mana memang Bu Dewi tidak tahu siapa dirinya. Mungkin supir pribadi atau teman Tasha mungkin itulah yang ada di dalam pikiran Bu Dewi saat ini.
__ADS_1
Tasha pun beralih menatap Raga seolah bingung bagaimana dengan posisi pria itu. Bu Dewi tak mengajaknya sama sekali dan Tasha pun tidak tahu apa pantas jika ia meminta Raga untuk ikut? Sedang yang memiliki acara adalah Bu Dewi sebagai pengundang.