
Pasrah yang hanya bisa Tasha lakukan saat sang suami check ini di sebuah hotel. Memang sudah menjadi konsekuensi ketika ia tak memberikan waktu bulan madu untuk sang suami. Keduanya kembali menikmati pagi yang panas di kamar mewah itu meski keadaan di luar begitu segar.
Perlakuan Raga benar-benar membuat Tasha tak hentinya mengeluarkan suara penuh nikmati. Hingga permainan terus berlanjut tanpa terasa memakan waktu setengah hari. Jeda beberapa menit kembali Raga meminta pada sang istri. Puasa bertahun-tahun membuat pria beranak satu itu akhirnya berbuka dengan yang nikmat-nikmat. Tentu ia tak akan mau menyia-nyiakan momen yang sangat di tunggu.
“Enak yah kalau sudah menikah?” ujar Raga bertanya pada sang istri.
“Kenapa?” sahut Tasha justru bertanya balik.
“Kapan aja bisa. Pagi, siang, malam, subuh. Puas.” Keduanya pun terkekeh bersama sembari berpelukan erat. Tak sadar jika mereka sampai terlelap dan membuat si bocah kecil di depan sekolahnya kini mengumpat kesal dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rasanya baru saja tadi pagi ia begitu bahagia di antar kedua mami dan papinya. Sekarang justru tak ada satu pun dari mereka yang menjemputnya pulang sekolah.
“Mami dan Papi lupa denganku yah? Mengapa tidak juga menjemputku?” Ia duduk menopang kedua tangan di dagu melihat para temannya yang sudah hampir habis pulang.
Dan sekolahan pun benar-benar sunyi saat ini. Tersisa para penjaga dan juga guru yang hendak pulang.
“Gara, kenapa belum pulang?” tanya salah satu miss yang mengenalnya hendak pulang.
__ADS_1
Gara menunduk tak menjawab. Raut bocah tampan itu benar-benar sedih saat ini. Sedih mengingat dirinya terlupakan oleh Tasha dan Raga. Sepanjang sejarah selama sekolah ini adalah pertama kali ia telat di jemput.
“Ayo Miss antar pulang naik mobil.” Patuh tanpa bicara apa pun, bersyukur orangtua Tasha sangat mereka kenali sebagai salah satu donatur di sekolah anak kecil itu.
Hingga akhirnya Gara pun tiba di rumah dengan di sambut oleh Indri yang berlari cepat menjemput sang cucu saat mendengar laporan sang pelayan.
“Nyonya, di depan Tuan Gara di antar missnya.” tutur pelayan itu.
“Apa? Kenapa jadi miss nya yang mengantar, Bi?” Indri bertanya sembari terheran-heran.
“Gara anak mamah…” wanita paruh baya itu berjongkok di depan Gara dan memeluknya.
Ada linangan air mata yang hendak ia tahan di matanya saat ini entah sampai kapan.
“Saya hanya mengantar saja, Bu. Sebab Gara tidak ada yang menjemput sejak setengah jam lalu kepulangannya.” Penjelasan dari guru paud itu membuat Indir menoleh ke sana kemari.
Tentu yang ia cari adalah sang anak dan juga menantunya yang tak menampakkan wajah saat ini.
__ADS_1
“Kemana Tasha dan Raga, Bi?” tanyanya.
“Sejak mengantar Tuan Gara tadi mereka belum pulang, Nyonya.” Indri pun di buat geleng kepala. Sepertinya sebagai wajita dewasa dan lanjut usia ia sudah tahu kemana kedua tuyul yang baru lepas dari penjara itu.
“Benar-benar si Raga ini!” umpat Indri dalam hatinya.
Gara yang tak bisa menahan kesedihan langsung berjalan masuk kamar meninggalkan semuanya. Indri yang ingin mempersilahkan miss sang cucu minum sejenak mendapat penolakan.
“Saya harus segera pulang, Ibu. Di rumah anak-anak juga pasti sudah menunggu.” Segera wanita itu pergi setelah Indri mengucapkan permohonan maaf dan terimakasih.
Lalu ia pun berputar arah menuju ke kamar sang cucu. Di lihatnya Gara sudah berganti pakaian sendiri dan baring di tempat tidurnya.
“Gara, ada apa? Kenapa tidak mau bicara sama mamah?”
“Mami dan papi lupain Gara. Mami dan papi mau buat anak yang lain kan, Mah? Kata temen Gara begitu.”
Syok rasanya Indri mendengar ucapan sang cucu. Siapakah teman sang cucu yang bisa berkata demikian?
__ADS_1
“Aduh siapa sih yang bicara seperti itu? Itu nggak benar, Nak. Itu salah nggak baik di denger bicara begitu. Mami dan Papi pasti ada kerjaan mendadak. Kan mereka menikah banyak liburnya. Jadi pasti banyak kerjaan yang harus di selesaikan.”
“Tapi, Mami kan kerjanya di rumah, Mamah. Gara marah pokoknya.”