
Kini aku menatap kepergian adikku dari jendela kamar. Di bawah halaman rumah sana Mami dan Papi mengantar Gara ke bandara dengan perasaan tak rela. Aku tahu mereka berat mengantar Gara. Sebab yang kami tahu semua jika liburannya masih beberapa minggu lagi. Awalnya Mami pun sangat terkejut mendengar Gara harus ke bandara hari ini juga.
Tubuhku lemas duduk di kasur setelah melihat mobil rumah keluar dari halaman.
“Kenapa harus seperti ini akhirnya? Entah aku harus senang atau sedih? Gara begitu tulus padaku. Tapi hubungan itu tidak akan pernah mungkin boleh terjadi. Kita adik kakak. Meski pun bukan saudara ikatan darah, tapi aku di besarkan penuh kasih sayang dari Mami dan Papi. Tentu tidak pantas jika aku justru menaruh hati pada anak yang mereka harapkan akan mendapat pendamping yang sempurna. Bukan seperti aku yang tidak jelas asal usulnya dan kecerdasanku di bawah rata-rata.”
Sejak kepergian Gara hari itu aku tak pernah lagi mendapat panggilan atau sekedar pesan singkat yang biasa Gara kirim. Semua perhatiannya hilang begitu saja. Aku tahu ini semua lah yang aku harapkan meski rasanya sangat kehilangan sekali.
“Agatha, ada apa denganmu?” Pagi sekali ketika aku bangun tidur, suara Mami terdengar membuat aku silau membuka mata.
Rasanya tubuhku begitu lemas dan tak nyaman ketika ingin bergerak.
“Mami,” Ku lihat tangan Mami sudah di letakkan di keningku. Hari ini tepat dua minggu berlalu setelah kepergian Gara dari rumah.
“Agatha, kamu demam sayang. Tunggu, Mami ambilkan termometer dulu.” Mami Tasha sangat panik mendapati aku yang demam.
__ADS_1
Mungkin karena kelelahan tubuhku jadi demam. Terlalu lama bekerja demi menyibukkan diri aku sampai tak memperhatikan keadaan tubuhku.
Mami datang memeriksa tubuhku, dan benar saja terlihat 39 derajat panas di tubuhku saat ini.
“Mami, aku baik-baik saja. Jangan cemas seperti itu. Ini sepertinya gejala ingin flu saja.” ujarku yang menahan tangan Mami Tasha saat terlihat sangat panik.
“Kamu harus di bawa ke rumah sakit, Sayang.” Aku menggeleng.
Hingga di saat itu pula suara dari luar kamarku terdengar.
“Aku tidak apa-apa, Mami. Papi pasti sangat panik di luar.” Menghela napas Mami pun pamit keluar sebentar.
Entah apa yang mereka bicarakan di luar sana, yang jelas ketika memasuki kembali kamarku ku lihat Mami sudah nampak sedih.
“Mi, aku baik-baik saja. Jangan sedih seperti ini.” Tak tega rasanya. Wajah yang selalu ceria dan hangat nampak sendu kala mengetahui anak yang tidak bisa balas budi ini sakit.
__ADS_1
“Gara juga sakit, Agatha. Kenapa kalian bisa sama-sama sakit seperti ini? Papi kamu akan berangkat hari ini juga sebab Gara sudah di larikan ke rumah sakit.” Sukses kedua mataku membulat sempurna mendengar ucapan Mami Tasha.
Apa? Adik kecilku sakit? Gara sakit? Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa dua minggu kami tidak saling berkabar dan kini justru aku mendengar kabar buruk tentangnya.
Kepalaku bahkan terasa semakin pusing saat ini. Namun, sekuat tenaga aku meyakinkan Mami jika aku baik-baik saja. Disana Gara jauh lebih memprihatinkan pastinya. Selama ini aku tahu setiap sakit Gara selalu di rawat kedua orangtuanya bahkan aku juga ikut serta merawatnya.
“Mami, pergilah dengan Papi. Aku baik-baik saja di sini. Ada banyak sahabatku yang bisa menjagaku, Mi.” Ku lihat kedua manik mata Mami berkaca-kaca dan kepalanya menggeleng.
“Mami sudah berjanji pada almarhumah ibumu. Mami akan menjagamu, Agatha. Menjaga kamu sepenuh jiwa dan raga Mami. Sama seperti kami menjaga Gara anak kandung kami.” Air mataku jatuh mendengar bagaimana tulusnya Mami Tasha menyayangiku. Bahkan di saat anak kandungnya sendiri di rumah sakit, Mami masih bisa memutuskan harus menjagaku.
“Biarkan Papi mu yang berangkat dengan Kakek dan Nenek saja.” Ku peluk tubuh Mami Tasha meski susah payah tubuhku bangun dari ranjang.
Hingga detik berikutnya aku tak bisa lagi melihat dan mendengar apa pun. Pandanganku mendadak gelap di pelukan Mami.
Anak sedurhaka apa aku ini bisa memiliki rasa pada anak dari wanita yang sangat baik dan tulus padaku. Bagaimana pun posisiku tetaplah salah sebagai kakak dimana usiaku lebih tua justru tak bisa mencegah tindakan salah itu terjadi.
__ADS_1