Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Kegigihan Raga


__ADS_3

Tanpa sabar menunggu, ini adalah hari ke empat usai kedatangan Raga ke rumah Tasha. Sesuai perjanjian kontrak seharusnya Gara dan Tasha berada di kantor milik Firman. Namun, kedua manusia itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


“Raga, apa Tasha ada mengabari kamu? Kenapa mereka tidak datang ke kantor juga?” Mendengar pertanyaan sang ayah Raga hanya diam tanpa bisa memberikan jawaban.


Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Bahkan pikirannya pun juga ikut gelisah memikirkan sosok Tasha dan anak kecil itu.


“Ini sudah menyalahi kontrak. Mereka bisa-bisa harus membayar denda kalau begini.” Kepala Raga sontak terangkat mendengar Tasha harus membayar denda sesuai kesepakatan kerja dan tentu saja itu nilainya tidak sedikit.


Tanpa menjawab pertanyaan dari sang ayah, Raga bergegas meninggalkan kantor. Tak perduli jika pekerjaan tengah menumpuk ia tinggalkan. Tujuannya saat ini hanya satu. Yaitu rumah megah yang beberapa hari lalu berisi orang-orang aneh.


“Aku harus menemui Tasha. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya.” ujar Raga dalam hati saat sedang menyetir mobil.


Sudah cukup empat hari ini ia gelisah menahan diri untuk tetap menunggu kehadiran dua orang itu. Hari ini Raga sungguh tak bisa menahan rasa gelisah.


Di sisi yang berbeda, kegelisahan juga terjadi pada sosok bocah kecil. Gara yang tengah menekuk wajahnya sebab permohonannya selalu di tolak oleh sang mami tampak ogah membuka mulut.

__ADS_1


“Gara, ayo sayang makan dulu. Timbangan kamu menurun, Nak. Mami cemas bagaimana kalau sampai Gara sakit?” ujar Tasha membujuk sang anak.


Di depannya Firman dan Indri sudah duduk menyaksikan bagaimana sang cucu yang tidak mau membuka mulut sama sekali.


Pelan Firman merenungi semua yang terjadi. Kasih sayang yang ia berikan pada sang cucu sungguh membuatnya tersiksa saat ini. Takut jika Gara sampai jatuh sakit.


“Gara ayo makan. Kakak mu harus segera menyelesaikan kerjaannya. Nanti setelah makan kita akan pergi bermain di mall. Bagaiaman?” Bujuk Firman yang akhirnya memberi ijin untuk Gara keluar rumah. Tapi tidak untuk Tasha.


Seketika Gara pun mengembangkan senyum. “Horee akhirnya kita boleh keluar rumah, Kak.” seru Gara memegang tangan Tasha yang memegang sendok makan.


Tasha pun tersenyum. Hingga suara Firman terdengar menghentikan semangat keduanya.


Keadaan pun kembali hening. Pelan Tasha mengembalikan senyum tenang di wajahnya.


“Sayang, nggak apa-apa. Nanti setelah kerjaan Mami selesai kita main bareng. Kan Mami sedang banyak kerjaan buat Gara juga. Setelah selesai kita main ke Singapura lagi. Gara suka kan?” Mendengar bujuk rayu sang mami, Gara pun senang.

__ADS_1


Ia sangat suka jalan keluar negeri. Itu artinya ia akan tinggal di hotel lagi.


Sesi bujuk membujuk selesai, kini saatnya Tasha masuk ke butik usai sang anak makan dengan lahap. Rumah kembali sepi saat Gara pergi bersama sang nenek dan kakek.


Tasha fokus bekerja tanpa memikirkan apa pun. Semangatnya begitu besar untuk menghasilkan uang untuk Gara.


Tanpa ia ketahui di depan gerbang Raga tengah berdebat oleh security saat hendak menutup gerbang.


Kedatangan Raga berselisih dengan kepergian Firman. Dimana pria paruh baya itu melihat pria yang beberapa hari lalu membuatnya marah sekali.


“Uncle!” Teriakan kencang dari Gara segera menyita perhatian Raga saat itu.


Bayangan bocah kecil di dalam mobil yang terbuka kaca jendelanya. Baru saja Raga hendak melangkah, tiba-tiba Firman turun dari mobil.


“Kurang jelas apalagi saya meminta kau pergi dari sini? Mengapa masih kembali?” Pertanyaan dingin Firman membuat Raga tak gentar sama sekali.

__ADS_1


Ia justru menatap dengan tegas kedua bola mata Firman saat itu.


“Saya harus bicara dengan Tasha, Tuan.”


__ADS_2