Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Menjemput Gara


__ADS_3

Sibuk bekerja sejak pagi, Tasha nampak sangat fokus. Beberapa pekerja di butiknya pun juga sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing. Tasha tak sekali pun terdengar suaranya. Hingga tak berselang lama suara dari sang mamah menyapa indera pendengarnya.


"Sha...sudah siang. Waktunya menjemput Gara." ujar Indri memperingati sang anak.


Mendengar nama Gara, segera saat itu juga Tasha pun bergegas meninggalkan kerjaan. Ia tidak ingin membuat anaknya menunggu lama. Apa lagi membuat Gara merasa lapar siang itu. Anaknya memang sangat suka makan. Tasha berpamitan pada sang mamah lalu keluar rumah. Di depan sana ternyata sosok Raga sudah berdiri di samping mobil.


"Kenapa tidak menghubungiku saja?" tanya Tasha datar.


Raga masuk mengikuti sang mantan masuk ke dalam mobil. Meski Tasha saat ini justru duduk di kursi belakang.


"Aku tidak ingin mengganggu kerjamu, Sha." jawab Raga sabar.


Jika bukan karena sang anak yang menginginkan, pasti Tasha sudah memutuskan untuk menjemput sendiri. Pelan Raga melajukan mobil ke arah sekolah anak mereka. Selama perjalanan keadaan tampak hening seperti biasa. Raga yang tak mendengar satu kata pun dari bibir Tasha akhirnya melirik kaca spion tengah. Ia tersenyum melihat paras cantik milik Tasha.

__ADS_1


Tak sadar tatapan mereka tiba-tiba saja bertemu kala Tasha menggerakkan matanya ke arah depan dan melihat spion tengah. Ia salah tingkah lalu membuang pandangan ke arah lain. Begitu pun dengan Raga yang kembali menatap ke depan jalanan.


Hingga beberapa menit kemudian mobil pun tiba di halaman sekolah milik Gara, bocah tampan yang sibuk di kelilingi teman wanitanya tampak membuat Tasha menggeleng heran. Beberapa kali ia melihat Gara menoel pipi cuby teman wanitanya.


"Hati-hati," ujar Raga memperingati Tasha saat hendak turun dari mobil.


Bukannya mendengarkan, Tasha justru hampir terjatuh ketika heels miliknya menyangkut pada jalanan yang tidak rata itu. Segera Raga pun menahan tangannya agar tidak tertelungkup ke tanah.


Tasha melayangkan tatapan galak pada Raga. "Aku sudah bilang hati-hati kan?" sahut Raga kembali.


"Anak ini nurun siapa sih?" gerutu Tasha tak suka dengan tingkah sang anak yang kijil menurutnya di depan sana. Bahkan karena ulah Gara, ia sampai hampir malu di depan umum termasuk di depan Raga jika sampai benar-benar terjatuh.


Raga melihat itu dari kejauhan tersenyum. Bayangan saat remaja dulu begitu jelas ia ingat. Bahkan saat ini wajah Gara di depan sana bisa ia bayangkan menjadi wajahnya di masa dulu yang selalu di kelilingi banyak wanita.

__ADS_1


"Pesonanya Gara sama denganku yah?" ujar Raga di samping Tasha berjalan dan hal itu membuat kedua mata Tasha medelik tak suka.


"Buang jauh-jauh jika hanya itu warisan yang bisa kau berikan pada anakku." ketus Tasha berucap.


"Sha...maaf." ujar Raga yang menari tangan Tasha pelan. Ia merasa bersalah telah mengingatkan Tasha pada masa lalu mereka.


"Mami! Papi!" Gara berteriak, ia berlari cepat menuju kedua orangtuanya yang ia sangka masih bohongan itu.


Raga segera menggendong tubuh sang anak membawanya ke dalam mobil. Sedangkan Tasha yang merasa sedikit jauh lebih sensitif akhirnya mendatangi teman-teman wanita anaknya.


"Adiik-adik, lain kali jangan memegang-megang Gara yah? itu tidak boleh. Kalian kan beda, laki-laki dan perempuan. Itu dosa." ujar Tasha dengan ambigunya.


Semua anak kecil yang di depannya hanya terheran tak mengerti. Sebab mereka melakukan itu lantaran merasa gemas dengan pipi Gara lagi pula mereka adalah salah satu fans Gara di majalah anak kecil.

__ADS_1


"Mami, ayo pulang. Kita makan di mall." teriak Gara lagi yang membuat Tasha segera meninggalkan para anak kecil itu.


__ADS_2