Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Mengantar Pulang


__ADS_3

Benar dengan apa yang Raga duga jika murungnya sang anak ke dalam kamar pasti tengah bersedih. Dan ia yakin ini adalah sebab berjauhan dengan Tasha dan kedua orangtua Tasha. Meski senang dan betah di rumah ini, Gara tetaplah anak kecil yang masih begitu mudah mengikuti apa yang ada di pikirannya saat itu. Semua kebiasaan yang ia lakukan terus membuatnya ingin mengulang dengan orang yang sama. Kedatangan orang yang baru bukan berarti membuatnya lupa dengan keluarga yang lama.


Pelan Raga pun ikut berbaring dengan Gara dan memeluk anaknya yang enggan menatap wajahnya. Berat rasanya jika harus merelakan momen ini batal. Namun, Raga tak bisa egois ketika melihat kesedihan sang anak. Tentu rasa kecewa bisa Raga rasakan. Harapannya bisa menjadi sosok ayah pada umumnya yang bisa bergantian menjaga sang anak dengan ibu dari anaknya. Raga sadar sekali jika perannya sebagai ayah pun belum terlalu dalam masuk ke sang anak. Itu sebabnya Gara tak bisa tenang di rumah ini tanpa ada sosok sang mami.


"Gara rindu Kakak Tasha?" akhirnya dengan berat hati Raga pun bertanya.


Tak masalah jika malam ini gagal itu artinya ia harus meluangkan lebih banyak lagi waktu untuk sang anak agar bisa menjadi orang yang juga sulit di lupakan sang anak. Pelan ia pun melihat kepala sang anak yang mengangguk.


"Oke boy. Sekarang juga kita pulang. Uncle akan antar kamu ke rumah. Besok uncle akan jenguk ke sana pagi-pagi." tutur Raga dengan semangat. Ia tak ingin sedih di depan sang anak. Mendengar hal itu Gara pun langsung sekejap mengusap air mata dan menoleh pada Raga.


"Benarkah, Uncle? Maafin Gara. Gara kangen sama Kakak. Gara mau di peluk Kakak." tuturnya yang merasa tak tega.


Sesuai janjinya tadi jika malam ini ia akan tidur bersama Raga dan bercerita banyak hal. Namun, entah kemana janji Gara saat itu kini hilang begitu saja berganti dengan perasaan ingin pulang. Raga pun menunjukkan jempolnya sebagai tanda ia baik-baik saja dan itu bukan masalah.

__ADS_1


"Lets go...kita pulang." Raga menggendong sang anak.


Keadaan Gara masih belum begitu pulih. Ia takut jika pikiran Gara yang kacau justru membuatnya kembali demam tinggi. Tentu sebagai seorang ayah, Raga tidak ingin sang anak sakit.


Keduanya pun keluar dengan Raga menggendong sang anak yang memeluk bonekanya. Di sana di sofa masih ada terlihat Dahlan dan Rima yang menatap kedatangan keduanya.


"Bunda, Ayah, aku harus mengantar Gara pulang dulu." mendengar ucapan sang anak mereka tak bertanya lagi. Sebab mereka tahu benar jika ini pasti akan terjadi.


Dimana anak-anak akan sulit meninggalkan apa yang mereka miliki. Sekali pun ia memiliki hal baru, tetap ia akan lebih egois untuk memiliki semuanya. Seperti yang Gara lakukan. Ia ingin bersama Raga dan juga tidak ingin meninggalkan keluarganya di rumah.


"Gara, ayo pamit dengan opa dan oma dulu." pintah Raga yang menurunkan tubuh anaknya.


Setelah bocah kecil itu mencium punggung tangan kedua opa dan omanya, kembali Raga menggendong dan menuju mobil. Mereka pulang ke rumah Firman malam ini.

__ADS_1


Baru saja Indri meninggalkan sang anak di kamar sang cucu, ia justru di kejutkan dengan kedatangan mobil di halaman rumah. Pelayan nampak berjalan cepat untuk membuka pintu rumahnya.


"Siapa yah, Pah?" tanyanya pada sang suami.


Firman pun hanya mengedikkan bahunya acuh sebab terlalu asik dengan ponsel menonton berita tentang pengusaha yang terkena kasus. Hingga rasa penasaran Indri akhirnya terjawab saat Gara datang di gendong dengan Raga. Pelayan turut mengekor di belakang.


"Tuan Gara, Nyonya." jawab pelayan itu setelah tadi ia tak tahu saat di tanya oleh Indri.


Mendengar nama sang cucu, saat itu juga Firman menoleh. Ia terkejut melihat Gara berada di gendongan Raga.


"Loh Gara, kenapa? ada apa, Raga?" tanya Indri.


"Dia meminta pulang, Bu. Katanya kangen sama Tasha." jawab Raga apa adanya.

__ADS_1


"Benar-benar anak sama mami sama saja." ujar Firman lirih yang masih bisa di dengar oleh Raga.


Penasaran, namun ia masih sadar diri untuk tidak bertanya apa pun tentang Tasha dimana akan mengundang ingatan masa lalu lagi pada kedua orang tua Tasha. Raga tidak ingin membuat mereka marah padanya lagi.


__ADS_2