Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 33


__ADS_3

"Sayang!" Suara menggema di luar sana membuat Mami segera menoleh. Tentu saja aku tahu siapa pemilik suara gaduh itu. Papi, dialah pelakunya ketika pagi hari akan sibuk berteriak mencari pujaan hatinya ketika tak melihat Mami Tasha di sana.


"Agatha, mandilah. Kita sarapan bersama. Gara, mandi juga yah? Mami akan urus bayi kecil itu dulu." Aku tertawa kecil mendengar ejekan Mami pada Papi.


Dimana tinggallah kami berdua saat ini. Aku yang kikuk melihat Gara menatapku segera ku tinggalkan begitu saja. Aku menuju kamarku untuk mengikuti perintah Mami.


"Aku rindu kita yang dulu." sahut Gara tiba-tiba sebelum aku keluar dari kamar itu sepenuhnya.


Sejenak aku berhenti melangkah dan menoleh padanya. Aku kembali melangkah meninggalkannya. Untuk pagi ini aku tidak ingin berbicara dulu padanya. Aku ingin menikmati sarapan yang Mami buat untuk kami semua.


Selang lima belas menit akhirnya kami semua berkumpul di meja makan. Dan lagi aku harus bertemu pandang dengan Gara.


"Mau aku ambilkan? Sini piringnya." pintahku pada Gara. Berusaha baik-baik saja nyatanya tak senyaman yang aku bayangkan.


Di depan Mami dan Papi aku berusaha membuat keadaan kami baik-baik saja. Berharap ini adalah awal mula hubungan kami membaik. Meski aku tak begitu nyaman ketika harus bertatapan dengan Gara.

__ADS_1


"Kalian akur seperti ini Mami dan Papi kan senang. Yasudah habiskan sarapannya dan Agatha untuk hari ini kamu tidak ada acara kan?" tanya Mami yang membuat aku mengangguk.


"Tidak ada, Mi." sahutku.


"Yasudah kalau begitu temani Gara ke rumah Nenek yah? Kalian berdua itu sejak dewasa sudah jarang sekali menghabiskan waktu libur di sana." Ragu aku pun menganggukkan kepalaku.


"Satu hari aku akan bersama Gara? Bagaimana dengan waktu perjalanan ke rumah Nenek? Kami akan terus berdua sampai pulang dari sana nanti." Tuhan...ini benar-benar tak pernah terbayangkan olehku? Mengapa ketika kami ingin menjauh justru aku harus semakin di dekatkan dengannya?" Kini aku bisa membatin sembari tersenyum pada Mami.


"Terus Mami dan Papi kemana? Mengapa tidak ikut ke rumah Nenek?" tanyaku tiba menemukan ide.


"Mami dan Papi akan ke rumah Nenek Indri. Kalian ke rumah Nenek Rima. Minggu depannya kita akan berpindah. Kalian ke rumah Nenek Indri dan kami ke rumah Nenek Rima." ujar Mami membuat aku semakin kaget.


Di depanku Gara nampak biasa saja. Ia tak perduli dengana apa yang kami bincangkan.


"Gara, apa kau tidak ada acara lain di luar? Lalu bagaimana dengan tubuhmu?" tanyaku masih berusaha mencari cara.

__ADS_1


"Tidak. Aku baik." sahut Gara singkat.


Dan pada akhirnya aku hanya bisa pasrah memasuki mobil bersama Gara. Melihat Mami melambaikan tangan pada kami.


"Takdir memang ingin mempersatukan kita, Agatha." Aku menoleh kaget mendengar ucapan Gara. Ku tatap wajahnya yang fokus menyetir ke depan jalanan sana.


"Setelah aku pikir-pikir mereka bukan kecewa jika tahu kita bersama. Mami dan Papi sangat tahu bagaimana kamu tumbuh kembang. Dan itu bukankah pertanda baik untuk kita bersama?" tambah Gara lagi.


"Gar, berbicaralah dari posisiku. Bukan dari posisimu. Kau tidak mengerti apa yang ku rasakan." sahutku kembali kekeuh dengan pendirianku.


"Aku tahu, Agatha. Aku sangat tahu. Tapi, kita bukan adik kakak yang memiliki ikatan terlarang jika bersama. Mami akan senang ketika kau bersamaku. Itu artinya mereka tidak akan kehilangan salah satu dari anaknya ketika harus menikah." Aku diam.


Sampai detik ini pun Gara tak bisa paham dengan apa yang ku pikirkan. Sangat jelas aku tahu andai Gara menemukan pendamping hidup tentu yang akan jauh lebih baik dariku. Dan Mami akan sangat bahagia menerima keluarga baru. Bukan anak sepertiku yang tidak memiliki keluarga.


Hidupku jelas sangat jauh berbeda di bandingkan hidup keluarga mereka. Sekali pun aku hidup bersama mereka sejak kecil.

__ADS_1


__ADS_2