
Sampai mereka semua tiba di tempat makan pun semua tak ada yang bersuara. Tasha benar-benar tidak tahu harus bersuara apa saat ini. Ia takut jika ucapan sang anak bisa mengundang amarah sang ayah. Begitu pun dengan Indri yang tak berkata apa pun membiarkan sang cucu terus menekuk wajah tampannya. Gara turun dengan menggandeng tangan sang kakek.
Saat semua makanan di hidangkan sesuai dengan pesanan pun akhirnya Tasha mengusap kepala sang anak dengan pelan.
"Sayang...ayo di makan. Setelah ini kita akan langsung pulang, Nak." tutur Tasha.
Semua mulai menikmati makan dengan tenang tanpa perduli bagaimana Gara tak menyentuh makan sama sekali. Matanya yang menunduk tampak berembun menahan tangis. Bayangan akan hinaan para teman-teman di sekolah sungguh menyakiti hati.
"Kakak tidak menjawab pertanyaanku? Kalau begitu Gara tidak mau sekolah." ujarnya memilih membelakangi tubuh sang mami.
Melihat hal itu Firman yang semula berkeras hati akhirnya menghela napas kasar. Ia sadar berada di keliling Gara tak bisa membuatnya mempertahankan kekerasan hati. Ia pun menggelengkan kepala pelan lalu kemudian mengusap kepala sang cucu.
Di luar dugaan apa yang Firman katakan membuat semua tak menyangka.
__ADS_1
"Pergilah besok bersama Kakak dan Uncle. Okey...sekarang yang terpenting Gara harus makan dulu biar cepat besar dan lawan semua yang mengejek Gara di sekolah." tutur Firman.
Tasha seketika membulatkan matanya menatap sang ibu. Tentu saja ia sama sekali tak berani melirik wajah sang ayah yang sudah bisa ia pastikan bagaimana kacaunya saat mengatakan hal itu.
"Ayah," ujar Tasha menolak perintah sang ayah.
Firman tak menanggapi sama sekali. Ia memilih makan dan melihat hal itu Tasha tahu bagaimana kacau sang ayah kali ini. Keadaan yang membuatnya terpaksa memutuskan hal yang sama sekali tak ingin ia setujui.
"Siap, Ayah. Hore besok Gara bisa pamer sama teman-teman di kelas." ujarnya berseru sangat senang.
Membayangkan berdua dengan Raga mengantar sang anak ke sekolah, sungguh membuat Tasha tidak bisa tenang sampai detik ini.
Tak terasa mobil pun tiba di halaman rumah milik Firman. Mereka memasuki rumah masih dengan suasana yang hening. Berbeda halnya dengan keadaan di perusahaan.
__ADS_1
Di sini Raga justru menjambak kasar rambutnya berulang kali. Jam kerja yang seharusnya di gunakan dengan sebaik mungkin justru terbuang sia-sia. Matanya memerah sangat sedih membayangkan bagaimana ia mendapatkan penolakan dari ayah Tasha.
"Ayah harus membantuku. Yah cuman Ayah yang bisa ku harapkan saat ini dengan ibu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini." gumam Raga yang tak bisa lagi berpikir apa pun.
Semua pekerjaan yang menumpuk di meja kerja Raga terpaksa harus ia tinggalkan saat ini. Bagaimana pun juga urusan Gara dan Tasha merupakan hal yang paling penting dari yang lain termasuk perusahaan. Meninggalkan ruang kerja dan menuju ke arah ruang sang ayah. Di sini lah Raga berdiri saat ini. Beberapa kali mengetuk pintu ruang kerja akhirnya pintu ruang kerja Tuan Dahlan terbuka juga saat itu.
Pemandangan pertama yang terlihat adalah wajah tampan sang anak. Dahlan mengernyitkan kening dalam sebab tak biasanya sang anak berkunjung ke ruang kerjanya di waktu penting seperti ini.
"Ga, ada apa?" tanya Dahlan setelah sang anak duduk di hadapannya.
"Ayah, bantu aku." Air matanya pun jatuh seketika.
Raga tak kuasa menahan kegundahan hatinya. Cukup lama ia menahan diri dengan semua hal yang terjadi dari masalalunya.
__ADS_1
Dua tangan yang bertumpu di atas meja tiba-tiba di genggam hangat oleh Raga. Ia begitu memohon bantuan pada sang ayah.
"Restui Raga dan bantu Raga, Ayah." tuturnya kembali lagi bersuara.