
Atas perintah dari sang mamah, di sinilah Tasha saat ini. Sebuah gedung tinggi yang menjadi tempat alasan untuk perpisahan dirinya dan Raga setiap hari. Perusahaan tempat Raga mencari rezeki dan hari ini Tasha datang tanpa membuat janji dengan sang suami. Atas perintah dari sang ibu, Tasha rela datang menemui sang suami demi menyelesaikan masalah antara mereka. Melangkah dengan di sambut hangat oleh security di depan, Tasha hanya tersenyum melangkah melewatinya. Ia berjalan menuju lift untuk sampai di ruang kerja sang suami.
"Ada apa sih?" gumam Tasha heran melihat banyak mata yang memandang aneh padanya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tasha berusaha melangkah menuju ruang kerja sang suami dan ternyata ruangan itu kosong. Tak ada sosok Raga di ruangan itu. Tasha mengedarkan pandangan mencari sosok sang suami namun tak ada juga.
Tasha merasa sedih menatap ruangan itu. Berbagai prasangka buruk muncul di benak Tasha. Sedih tentu saja pikirannya sangat sedih kala sang suami tak ada di kantor. Bukankah Raga mengatakan jika ia kerja di kantor. Lama Tasha melamun hingga matanya beralih pada ponsel yang ada di tangannya. Entah mengapa pikiran Tasha begitu penasaran melihat banyak notifikasi di ponselnya yang entah sejak kapan tidak ia lihat. Air mata Tasha berjatuhan dengan tangan yang gemetar memegang ponsel.
Sebuah foto anak kecil perempuan berpose menggemaskan serta di slide berikutnya seorang pria yang sangat familiar tengah duduk di sisi ranjang pasien dengan seorang wanita pucat berbaring menutup matanya. Tak lupa Tasha membaca tulisan di bawahnya.
"Akhirnya melihat ayah dan Bunda bersama." bibir Tasha tak kuasa menahan getaran tangis lagi. Ia menggeleng membungkam bibirnya syok mendapati kenyataan yang entah apa artinya ini.
__ADS_1
Di sana banyak akun yang membagikan postingan tersebut dan Tasha tentu saja mengenal mereka semua. Teman-teman di masa SMA yang masih jelas dalam ingatan Tasha.
"Siapa mereka sebenarnya?" lirih Tasha bertanya.
Matanya berulang kali memperhatikan satu demi satu setiap bagian foto itu hingga akhirnya sebuah nama rumah sakit bisa Tasha temukan di sana. Segera ia pun bergegas keluar dari perusahaan menuju rumah sakit tersebut. Besar kemungkinan orang yang ia cari saat ini ada di sana.
"Iya, namanya Rizka Anita. Dikamar mana yah?" tanya Tasha tidak sabaran dan ia pun segera mendapatkan alamat ruangan rawat atas nama Rizka Anita.
Tak tinggal diam tangan Tasha terus menekan panggilan untuk menghubungi sang suami.
__ADS_1
Hingga akhirnya air matanya jatuh melihat sebuah pintu rumah sakit terbuka dan panggilan di ponsel itu hanya di abaikan begitu saja. Tasha berdiam diri mematung di depan pintu memperhatikan apa yang ada di depannya saat ini.
Punggung tegap seorang pria tengah memperhatikan dengan seksama wanita yang berbaring di depannya dengan wajah sangat menyedihkan. Dan seorang bocah kecil perempuan yang jelas Tasha sudah melihatnya di sesial media kini tengah berbaring di sofa sudut ruangan itu dengan ponsel di tangannya bermain game.
"Apa tidak bisa mengangkat panggilanku, Ga?" pertanyaan dari Tasha seketika membuat tubuh tegap itu bangkit berdiri dengan memutar menghadap padanya. Raga, yah pria itu benar-benar terbungkam bibirnya kala tak tahu harus berkata apa ketika di hadapkan dengan wanita cantik yang sudah beberapa hari ini ia diamkan.
"Tasha..." lirih bibir itu bergerak mengucap nama Tasha. Setiap tetasan air mata yang jatuh di pipi Tasha terus di perhatikan oleh pria itu.
"Sha, aku jelaskan semuanya. Tolong dengarkan aku..."
__ADS_1