
“Selamat, istriku.” Sebuah buket bunga Papi Raga ulurkan di depan Mami Tasha yang berdiri di tengah-tengah.
Kecantikan dan kemolekan tubuh Mami Tasha terlihat jelas sangat membintangi acara malam ini. Meski di sisi kanan dan kirinya berdiri para model pilihan. Tak sekali pun pandangan Papi Raga beralih dari pesona Mami.
“Mami dan Papi kamu bikin aku iri, Agatha.” Ucapan Mikael membuat aku sadar dari lamunan.
Aku tersenyum kaku pada Mikael. “Mereka memang pasangan yang mengalahkan keromantisan Romeo dan Juliet.” sahutku juga merasa ingin mendapat pasangan yang mencintaiku seperti cinta Papi pada Mami.
Di depan sana Mami dan Papi tersenyum berpelukan kala tepukan tangan terdengar sangat meriah. Sementara di sini aku bersama Mikael memutuskan segera pulang. Acara telah berakhir dengan sangat baik. Beberapa perusahaan mendatangi Mami untuk menawarkan kerja sama.
“Ayo pulang. Aku sudah sangat lelah.” ajakku pada Mikael.
Hari ini semua sangat terbantu dengan kehadiran Mikael. Aku merasa bersyukur memiliki teman sepertinya.
“Tha, malam ini kamu bisa nggak ke rumah? Mamahku mengundang kamu makan di rumah.” Aku terdiam kaget.
__ADS_1
Ingin menolak rasanya tak mungkin ku lakukan. Mikael satu-satunya pria yang ku dekati saat ini. Jika aku membuatnya kecewa maka Gara akan menyangka aku menunggu kepulangannya lagi. Dengan terpaksa aku menganggukkan kepala setuju.
“Baiklah.” jawabku.
Kami pun berpisah ketika mobil sudah tiba di rumah. Aku masuk membiarkan Mikael pulang ke rumahnya. Sama sekali aku tidak tertarik untuk datang malam ini.
Mandi makan malam selesai ku lakukan seorang diri. Jangan tanga Mami dan Papi mengapa belum pulang. Aku sudah sangat hapal tingkah mereka. Jika bukan makan malam pasti check in di hotel.
Lagi-lagi aku sendirian di rumah dengan pelayan. Malam terasa begitu sangat sunyi di rumah ini. Rumah yang sedari kecil menyaksikan tumbuh kembangku bersama Gara. Saat ini terasa sangat membosankan. Bukan bentuknya, tapi suasana setelah kepergian Gara merubah semua kebahagiaanku.
“Tha, Mami nggak pulang yah sama Papi. Kamu baik-baik di rumah.” Mendengarnya saja aku sudah enggan menjawab. Dugaanku benar mereka tidak akan pulang malam ini.
“Em iya, Mi. Aku malam ini ada undangan makan malam di rumah Mikael. Boleh kan, Mi?” tanyaku meminta izin lebih dulu.
Mami pun mengizinkan aku. Tepat pukul tujuh malam Mikael menjemputku di depan rumah.
__ADS_1
“Makan malam, bahkan aku sudah makan duluan karena lapar. Yasudah lah makan sedikit saja. Setidaknya jangan malu-maluin di depan mamahnya Mikael.” gumamku di perjalanan.
“Agatha, this is for you.” Ucapan Mikael membuat aku tersadar dan menoleh padanya.
Meski rasanya biasa saja aku berusaha senyum saat melihat bunga mawar merah Mikael berikan untukku.
Sampai ketika kami tiba di rumah Mikael, keningku mengerut dalam. Menyadari bukan hanya satu wanita yang berdiri menyambut kami. Tapi, ada dua wanita.
“Mikael, dia siapa?” tanyaku menujuk wanita asing di depan sana.
Wanita cantik yang tidak mirip sama sekali dengan Mikael. Entah mengapa aku merasa penasaran dengan sosok wanita itu. Bahkan ada rasa pernah melihat tanpa bisa ingat.
“Ayo turun. Biar kalian kenalan dulu.” Bukannya menjawab, Mikael justru menarik tanganku keluar dari mobil.
Ia menggandeng tanganku berjalan ke arah teras rumah yang indah itu. Banyak bunga yang menghiasi rumah Mikael.
__ADS_1
“Agatha,” sapaan lembut ku dapatkan dari Mamahnya Mikael. Wanita paruh baya yang cantik itu memeluk tubuhku erat.