
“Mami,” Aku dan Gara sama-sama bersuara menyapa wanita cantik yang berdiri dengan seragam tidurnya saat ini.
“Belum selesai makannya?” Mami bertanya padaku. Sebab Gara pun sudah selesai makan sejak tadi. Buru-buru aku mengangguk. Ketakutan akan Mami tahu semuanya membuatku gugup saat ini.
Bisa saja Mami dan Papi justru mengasingkan aku pergi dari rumah ini jika tahu apa yang terjadi antara aku dan Gara. Aku yang hanya anak dari wanita lain tentu tak memiliki kekuatan apa pun di rumah ini.
Mungkin Gara hanya mendapat kemarahan tapi bukan pengusiran seperti yang ku dapatkan.
“Yasudah habis itu istirahat. Mami mau ambil minum buat Papi kalian yah?” Aku pun mengangguk saat melihat Mami tersenyum. Sepertinya tak ada yang Mami dengar dari percakapan ku dengan Gara barusan.
Setelah kepergian Mami buru-buru aku pergi meninggalkan meja makan.
“Besok temui aku di taman kampus siang. Kita harus bicara.” ucapku meninggalkan Gara.
__ADS_1
Kehangatan yang biasa kami rasakan jika berdua kini tak lagi bisa terjalin. Gara sudah menghancurkan semuanya. Hanya ada kecanggungan setiap kali kami bertemu pandang.
Aku tak bisa lagi sepenuhnya bermanja pada adikku seperti dulu. Gara kini sudah tumbuh begitu dewasa.
Singkat cerita usai jam kuliah berakhir aku buru-buru meninggalkan kelas.
“Tha, mau kemana? Nggak ke kantin dulu? Kita mau ada kuliah lagi?” Endah bertanya padaku di susul dengan semua mata yang memandang ke arahku.
Aku menggeleng cepat. “Aku ada urusan penting. Kalian pergilah.” Meski pertemanan kami sudah kembali normal dengan sendirinya, tapi hubungan yang hangat seperti dulu pun belum bisa kembali pulih. Seakan kepercayaanku pada mereka masih belum bisa ku berikan lagi. Aku terkesan memberi pembatas pada mereka semua.
“Sudah dari tadi.” jawabnya singkat. Aku pun mengakhiri percakapan basa-basi itu.
“Gar, tolong mengerti posisiku. Aku anak yang Papi ambil demi belas kasih. Jangan membuat aku merasa bersalah pada Mami. Mami sudah begitu baik padaku.” Mungkin dengan berbicara lembut pada Gara akan bisa menyentuh hati adikku ini. Berharap Gara akan paham dengan keadaanku.
__ADS_1
Permasalahan ini cukup sampai di sini saja. Aku tak ingin semakin besar sampai di telinga Papi.
“Tapi bagaimana dengan perasaanku yang justru semakin kesini semakin besar?” Ia bertanya membuat aku diam. Jujur aku sendiri justru merasakan perasaan aneh yang semakin sulit ku pendam.
Tatapan mata yang penuh cinta kini bisa ku rasakan menyentuh hangat relung hatiku.
“Pikirkan perasaan Mami dan Papi. Mereka akan sangat sakit mengetahui itu, Gar. Ku mohon menjauhlah untuk kebaikan semuanya. Jika kau tidak bisa melakukan itu, maka aku yang akan pergi dari rumah.” Ancamanku tak main-main.
Meski rasanya sangat menakutkan tinggal seorang diri. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan di luar sana jika aku memutuskan pergi dari rumah.
Mungkin satu persatu ketulusan sahabatku akan kembali ku gunakan demi menjauhi Gara dan menjaga perasaan mami dan papi.
“Oke. Jika itu mau mu. Aku akan menjauh.” Terkejut aku mengangkat wajah menatapnya. Tak terbayang jika Gara justru akan mengalah bukannya membiarkan aku yang pergi.
__ADS_1
“Tetaplah di rumah temani Mami dan Papi, hari ini juga aku akan berangkat kembali.” Dadaku terasa sesak mendengar adikku akan pulang ke tempatnya berkuliah. Baru saja ia datang beberapa hari lalu, kini Gara justru akan pulang.
Dimana kepergiannya di sebabkan adanya masalah antara kita berdua.