
Ternyata momen makan bersama saat ini adalah sebagai perpisahan kembali dengan Gara. Aku tidak menyangka jika Gara akan kembali secepat itu. Kami semua pulang dengan kendaraan masing-masing yang membawa kami tiba di restoran sebelumnya. Di rumah tidak ada makan malam lagi sebab kami semua masih merasa kenyang. Aku ingin sekali tidur untuk mengistirahatkan tubuh. Tapi, Gara justru meminta aku menemaninya bergadang sebelum besok siang ia berangkat.
“Gar, aku ngantuk banget loh. Besok pagi masih ada waktu setengah hari buat kita ngobrol. Lagian aku kan juga ngantar kamu ke bandara.” Aku berusaha menawar. Mataku terlalu berat untuk ku tahan lagi.
“Nggak ada penolakan buat adiknya yah? Tetap harus patuh. Ayo buat kopi hitam untuk kita. Dan, Bibi!” Aku menoleh pada bibi yang berjalan ke arah kami saat ini ketika Gara memanggilnya.
Dimana aku melihat ia sudah menunduk siap menerima perintah Gara.
“Iya, Tuan?” sahut Bibi
“Tolong saya minta buatin cemilan versi bibi deh. Saya kangen makan masakan bibi.” Mataku membulat sempurna mendengar ucapan yang seolah tengah menggombal itu.
Gara benar-benar memanfaatkan wajahnya untuk menikmati semua hal yang ingin ia lakukan. Mungkin Papi Raga dulu seperti itu. Sampai bisa mengikat hati Mami Tasha sekaligus mamahku juga. Aku menggeleng berusaha membuang pikiran buruk yang tiba-tiba masuk ke dalam kepalaku lagi.
Bintang yang kerlap kerlip kini menemani kami berdua duduk di ayunan sekitar kolam samping rumah. Dari arah lain aku lihat Mami dan Papi sempat menggeleng melihat kami.
“Gar, nanti kita di marah sama Mami dan Papi loh begadang,” kataku.
Meski mereka semua baik tetap saja aku merasa tak enak hati jika sampai membuat kesalahan.
Mami dan Papi adalah orang yang begitu baik. Bagaimana pun aku harus tetap tahu diri posisiku sebagai anak yang hanya di titipkan oleh mamah.
“Mereka sudah tahu hal ini sejak siang tadi. Sudah, sekarang fokus dengan pesan-pesanku sebelum pergi.” ujar Gara. Keningku mengenyit mendengar kata-kata dari Gara.
Pesan-pesan? Memangnya mau pergi untuk selama apa? Begitu batinku bertanya. Segera ku tarik telinga yang lebih lebar dari milikku. Usia kami memang berbeda, tapi tidak dengan postur perkembangan tubuh kami. Gara jauh lebih besar dariku.
__ADS_1
“Kamu ini ada-ada aja sih ngomongnya. Coba mikir deh. Nggak boleh bicara begitu.” tuturku dan Gara hanya berdecak kesal saja.
“Kalau boleh jangan pacaran dulu deh. Tunggu aku selesai kuliah dan pulang ke sini. Oke?” Ucapan yang ia lontarkan sukses membuat aku membuka mulut tak percaya. Kali ini aku rasa Gara sedang bercanda.
Ia menoleh menatapku dengan dalam. “Gar, apaan sih? Untuk saat ini aku memang belum pikirin buat pacaran lagi. Tapi nggak mungkin selama itu juga dong? Kamu masih beberapa tahun kuliah di sana. Dan ingat. Bukan hanya untuk s1 tapi sampai s2. Mau nikah umur berapa aku kalau pacarannya di tunda selama itu?” Wajahku nampak berubah dari ceria menjadi kesal.
Adik tapi mengapa jadi mengalahkan Papi yang sebagai ayah dalam menjagaku.
“Aku akan menjaga kamu, Agatha. Kamu mau hal yang sama terjadi lagi? Kamu itu jadi incaran banyak pria di luar sana. Sudah jangan membantah deh.” ujar Gara tegas.
Aku hanya diam, masa iya perpisahan dengan adikku malam ini justru aku rusak dengan perdebatan. Aku tidak mau. Kepergian Gara sering kali membuatku sepi sekali di rumah ini.
Mami yang selalu sibuk dengan segala kemanjaan Papi membuat aku tak banyak mendapat waktu bercerita.
Meski Papi adalah ayah angkatku yang dulunya cukup dekat denganku saat aku di bawa ke rumah ini, tapi tetap saja rasanya aku begitu canggung. Semenjak dewasa aku merasa ada jarak antara aku dengan Papi. Entah mengapa? Yang jelas jawaban dari segi pemikiranku tentu karena aku bukan anak dari mereka.
“Malah diam? Bisa kan dengar omonganku? Di luar sana laki-laki kalau sudah gila sama wanita bisa hilang kewarasan. Ingat, Agatha. Aku jauh butuh banyak waktu untuk tiba di sini. Siapa yang bisa melindungi kamu?” Kembali Gara bersuara.
“Kan ada Papi, Gar. Apaan sih seolah kamu melebihi kasih sayang dari Papi buatku.” Aku menyela dengan bibir berdecak.
Gara hanya menghela napas. Malam pun semakin larut suasana mulai beda dan aku sesekali tertawa mendengar Gara yang kembali membacakan pesan dari para teman-teman wanita ku.
Banyak gombalan yang bahkan membuat Gara jijik sekali saat ini. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin para wanita bisa seberani itu menggombalnya.
“Kan lumayan Gar buat ganti-ganti teman kencan. Lagian teman-temanku semua cantik. Nggak ada salahnya kan jalani dulu? Kenapa kamu terus jomblo sih? Lihat, aku aja sudah berapa kali ganti pacar?” sahutku lagi.
__ADS_1
“Tapi nggak ada yang benar kan?” Ucapanku yang panjang lebar seketika mendapat potongan dari Gara yang benar-benar tepat sasaran.
Bibirku terbungkam tak mampu menjawab. Meski singkat tapi apa yang Gara katakan memang benar adanya.
“Aku mau punya istri yang cantiknya melebihi kamu dan seperti Mami. Kalau sudah aku temukan, maka aku akan langsung menikahinya.” ujar Gara.
Tangan yang mendorong segelas kopi ke mulutku sukses membuat aku menyemburkan semua minuman itu keluar dari mulut.
Wajahku basah bahkan sampai pada pipi mulus adikku.
“Hahaha maaf. Maafkan aku, adikku. Sorry yah ini benar-benar bukan sengaja. Habis kamu ngomongnya dramatis banget sih.” Sedikit rasa bersalah rasanya aku melihat Gara mengambil tisu dan mengelap wajahnya.
“Dramatis apa sih? Emang benar kok. Ngapain pacaran banyak-banyak, ganti-ganti kalau sekali ketemu dan yakin bisa langsung buat nikah? Emangnya aku kamu?”
Perbincangan terus berlanjut hingga kami pun tertidur di sofa bed yang ada di tepi kolam. Tempat yang sering kami gunakan untuk kamping waktu kecil. Dan ini membuat kebiasaan papi saat dulu kembali muncul. Yaitu menutup atap di atas kolam dengan lapisan yang tidak transparan. Serta selimut ku rasakan menghangatkan tubuhku. Mungkin dengan Gara juga.
Meski Papi sangat cuek, tapi aku tahu jika hatinya begitu besar mencintai kami.
Hingga waktu berlalu kian cepat dimana kami semua sudah berada di bandara. Tentu dengan Kakek dan Nenek juga yang tidak mau ketinggalan mengantar cucu kesayangan mereka.
Gara adalah cucu dan anak yang paling beruntung memiliki keluarga yang sangat lengkap. Sementara Kakek dan Nenek dari Papi Raga sedang berada di luar negeri untuk berlibur.
“Ingat, Kak. Jaga diri dan jangan pacaran dulu. Aku akan fokus kuliah. Kalau sampai terjadi apa-apa lagi aku akan berhenti kuliah dan pindah ke Indonesia.” ujar Gara.
“Gara, nggak boleh bicara begitu, Nak.” Mami Tasha memperingati adikku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tanpa mau memperpanjang masalah. Kami berpelukan sangat erat. Adikku yang kecil kini sudah tumbuh dewasa dan akan pergi menuntut ilmu. Sedih dan bahagia bersamaan ku rasakan. Andai aku pintar dan berani mungkin aku bisa mengikuti jejaknya. Sayang, keberuntungan lagi-lagi tak berpihak padaku.