
Kedatangan Rafa malam itu begitu di sambut hangat oleh Firman dan Indri. Ia datang membawakan sebuah kotak mainan robot dalam ukuran besar. Di ruang keluarga ia di persilahkan untuk ikut duduk bersama Firman, Indri, dan juga Gara yang sibuk merengek pada sang nenek untuk menonton film kartun.
“Mamah, please…Gara bosan.” ujarnya sok dewasa.
“Tunggu sebentar sayang. Itu ada Uncle datang diam dulu yah?” ujar Indri meminta sang cucu jangan ribut.
Rafa tersenyum bersalam dengan kedua orangtua Tasha. Ia pun duduk usai memberikan mainan pada Gara.
“Terimakasih uncle. Gara sayang uncle.” ujarnya setelah mendapatkan mainan. Lagi-lagi semua terkekeh entah bagaimana bisa Gara begitu pandai dalam menggombal orang baru.
Lupa dengan permintaannya. Ia pun sibuk bermain seorang diri. Sedangkan Rafa tampak berbincang dengan dua orangtua di depannya.
“Sebentar saya panggil Tasha dulu yah?” ujar Indri yang tahu jika mereka akan keluar malam itu.
Setelah sisa berdua, di sini Firman nampak menatap dalam wajah Rafa.
“Ada apa yah, Pak?” tanya Rafa dengan bingung.
“Entah mengapa jika dengan anda saya begitu percaya jika Tasha anda bawa keluar. Tak ada keraguan saya pada anda.” jujur Firman mulai mencurahkan isi hatinya.
Rafa yang mendengar tersenyum. “Bapak bisa saja. Saya dan Tasha hanya rekan kerja saja. Tidak mungkin saya macam-macam dengan Tasha.” tuturnya tak habis pikir.
Sebab memang itulah tujuan Rafa datang. Sama sekali bukan tentang perasaan seperti yang di duga Raga dan juga kedua orangtua Tasha.
Firman tersenyum. “Mungkin itu untuk saat ini saja.” ujarnya seolah tak percaya jika Rafa akan seteguh itu dalam berperasaan.
Hingga akhirnya tak lama kemudian dua sosok wanita datang ke ruangan itu dengan Indri yang menyapa lebih dulu.
“Nah ini Tasha sudah siap.” Firman, Gara dan juga Rafa menoleh bersamaan.
__ADS_1
Di detik yang sama Rafa tercekat tak bisa melakukan apa pun. Matanya seolah terkunci dengan kecantikan Tasha malam itu. Bibir yang berglosy seolah sangat mempesona. Dress maroon tampak menyala di tubuh putihnya.
“Baru saya bilang.” lirih Firman berucap terkekeh melihat reaksi Rafa yang mati kutu.
“Kakak tantik. Woh emezing.” Suara Gara memecah keheningan saat itu semua terkekeh gemas.
Mendengar sang anak yang menggoda, Tasha seolah mengerti kode gombalan itu. Akhirnya ia pun memilih mendekati Gara.
“Sayang, mami pergi. Gara yang pintar yah?” Kali ini gombalan Gara tentu saja tidak merubah apa pun. Ia akan tetap tinggal di rumah sesuai dengan kesepakatan sore tadi.
Saat Tasha melangkah bersama dengan Rafa, Gara memperhatikan keduanya dengan mata berkaca-kaca. Hingga akhirnya mobil milik Rafa pun tak terlihat lagi. Ia menangis histeris ketika sudah tak melihat Tasha.
“Kakak! Kakak!” Ia menangis berloncat-loncat.
Firman dan Indri menghela napas melihat bagaimana sang cucu yang begitu histeris. Padahal perkiraan mereka tadi Gara hanya menangis kecil untuk menjatuhkan genangan air yang mereka lihat tadi.
“Gara, kenapa menangis seperti itu? Bukankah tadi Gara begitu pintar mengijinkan Kakak pergi dengan uncle?” tanya Indri memeluk sang cucu.
Firman sampai geleng kepala mendengar ucapan sang cucu. Bisa-bisanya Gara begitu pandai untuk bersandiwara.
Jika di rumah tengah sibuk mendiamkan Gara, berbeda halnya dengan suasana yang hangat di sebuah restauran. Sosok Raga sudah siap sedari tadi dengan sedikit menutup wajahnya menggunakan buku menu. Tepat di depannya berjarak tiga meja Tasha duduk bersama pria yang sudah membakar hangus jenggotnya rasanya.
Raga benar-benar cemburu. Ia harus memastikan jika keduanya hanya sekedar makan malam saja.
“Permisi, Pak. Ada yang mau di pesan?” Seorang pelayan restauran pun datang menyapa Raga yang baru saja duduk.
“Saya mau yang ini.” tunjuk Raga asal.
Segera pelayan itu pun berlalu setelah memastikan tak ada tambahan dari Raga.
__ADS_1
Di meja yang berbeda Tasha sedang berbicara dengan Rafa yang tidak bisa di dengar oleh Raga.
“Saya sudah maafkan anda. Jangan selalu meminta maaf. Semuanya sudah selesai.” jawab Tasha setelah Rafa kembali mengutarakan kata maaf.
Tentu saja Tasha merasa risih mendengar hal itu berulang kali.
“Sha, kapan ke Singapur? Kita pergi bersama yah? Saya pesan tiket untuk kita berdua? Saya janji tidak akan membuat kamu malu lagi atau pun marah.” tutur Rafa tulus.
Ia tidak ingin sebab kejadian waktu itu Tasha akan jauh dari sang ibu yang dimana mereka sangat dekat dalam dunia bisnis. Rafa merasa bersalah pada sang ibu yang sampai saat ini masih belum mau bicara baik-baik dengannya.
Kedekatan Rafa dengan sang ibu membuatnya gelisah jika terjadi sedikit masalah saja.
“Saya masih belum tahu kapan bisa pergi ke sana. Kerjaan saya juga masih banyak.” jawab Tasha.
“Tolong, Tasha. Pertimbangkan ajakan saya ini.” Tanpa keduanya ketahui jika Raga mendengar ucapan Rafa terakhir. Ia begitu kaget mendengar ajakan Rafa untuk mempertimbangkan sesuatu.
“Apa-apaan ini? Rafa minta ajakan apa? Ini pasti menikah. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.” gumam Raga yang frustasi.
Dan saat tengah menguping, Raga kembali di kunjungi pelayan. “Permisi Bapak. Anda ingin memesan sesuatu?” tanya pelayan yang berbeda.
Pelayanan yang sangat ramah di sana membuat Raga tetap harus di sapa melihat ia sudah agak lama duduk seorang diri.
“Yang ini saja.” tunjuknya kembali pada salah satu dessert.
Raga tak melihat. Ia hanya asal memilih.
“Baik. Saya akan pertimbangkan. Tapi untuk saat ini sepertinya belum bisa. Sebab ada yang harus saya selesaikan.” tutur Tasha lagi.
Raga tertunduk lemas. Ucapan Tasha seolah membuatnya tak berdaya. Bayangan jika Tasha akan mempertegas pada Raga untuk menjauh dan ia akan menerima ajakan Rafa.
__ADS_1
Malam itu Tasha dan Rafa makan dengan tenang. Berbeda dengan Raga yang lemas melangkah pulang. Semua makanan di mejanya tidak ada yang ia sentuh sama sekali. Matanya menatap nanar ke depan.
Pria itu masuk ke dalam rumah dengan memarkirkan mobil sembarang arah. Sedang Tasha baru pulang dari mall untuk mencarikan mainan sang anak.