
Seketika semua lamunan di halaman pagi itu buyar oleh suara Gara yang cempreng. Bocah itu meminta di turunkan dari gendongan Raga.
"Uncle turunkan Gara. Kakak ayo kita berangkat." ajaknya berlari menuju Tasha melewati sang kakek dan nenek.
Namun, Tasha justru menghentikan lari sang anak. "Gara, tunggu dulu. Ini rambutnya di sisir dulu sayang."
Kelihatan jelas Gara yang nampak gelisah saat sang mami menyisir rambutnya. Bocah itu ingin berlari mendekati sang kakek dan nenek untuk berpamitan. Ia pun susah payah menarik tangan Tasha agar ikut keluar dari rumah. Sedangkan di depan sana Raga tengah bersalaman dengan kedua orang tua Tasha.
Yah, untuk pertama kali tangannya di terima oleh Firman. Suasana tampak begitu canggung. Sekedar bersuara pun Raga tak kuasa. Ia merasa sudah sering kali mendapatkan penolakan dari pria di depannya ini. Hingga tanpa di sangka jika suara yang sangat di nantikan tiba-tiba saja terdengar kembali.
"Hati-hati membawa mobil. Jaga Tasha dan Gara." ucapan dari Firman membuat Indri yang berdiri di sampingnya bahkan melongo tak percaya.
Ada rasa haru yang teramat Raga rasakan saat ini. Ingin rasanya ia memeluk pria tua di depannya saat ini. Namun, melihat ada Tasha, Gara, dan yang lain tentu saja Raga masih harus menjaga wibawanya.
"Baik, Pak. Saya akan menjaga mereka dengan baik. Kami permisi dulu." ujar Raga nampak sangat sopan sekali.
__ADS_1
"Papah, Mamah, kami pergi dulu." ujar Tasha di ikuti oleh Gara yang mencium punggung tanggannya.
Firman masih saja diam menyaksikan kepergian mereka semua. Mobil Raga pun kini sudah menghilang. Indri yang tersadar dari lamunannya akhirnya tersenyum lega. Ia memegang tangan sang suami dan menuntunnya ke dalam mobil.
"Papah hati-hati yah? Siang nanti mamah ke kantor bawa makan siang. Oke semangat kerjanya." ujar Indri mencium punggung tangan sang suami.
Singkat cerita, mobil mewah milik Raga kini sudah terparkir rapi di halaman sekolah milik sang anak. Dan benar apa yang Gara katakan. Kini semua teman-temannya begitu antusias melihat kedatangan teman mereka yang turun dari mobil.
"Wah papanya Gara tampan sekali."
Berbagai dugaan terdengar jelas di telinga Gara mau pun kedua orang tuanya. Hilang sudah keceriaan Gara saat itu juga. Ia menundukkan kepala tanpa mau melangkah menuju kelas.
Tasha dan Raga kini paham apa yang anak mereka rasakan selama ini. Keduanya saling menatap dalam diam hingga akhirnya Raga pun berjongkok di depan sang anak.
"Hei anak papi kenapa murung? Ayo semangat sekolahnya. Nanti pulang Mami dan Papi jemput Gara mau?" mendengar ucapan Raga yang terdengar lantang sontak wajah Gara kembali ia angkat.
__ADS_1
Teman-teman di sekolahnya pun kembali berbisik. Dan itu membuat Tasha turut mengikuti drama Raga.
"Anak Mami dan papi harus semangat. Gara harus bangga punya Mami dan papi yang sama-sama orang sukses. Bahkan Gara ingin apa saja kita bisa berikan. Siang nanti kita akan jalan-jalan untuk menebus waktu kita yang kurang selama ini. Gara setuju?"
Tanpa menolak, Gara segera menganggukkan kepala dengan wajah ceria. Ia sangat menantikan moment berjalan bersama.
"Dada Mami, papi. Gara sayang kalian." Di peluknya erat Tasha dan Raga yang berada di sisi kiri dan kanannya. Bocah itu benar-benar senang hari ini mendapat pembelaan dari Tasha dan Raga.
Hingga akhirnya mereka pun berpisah dengan Gara yang berjalan sombong. Ia mengangkat wajah yang selama ini terus saja menunduk. Gara bahkan tampak acuh melihat temannya yang membicarakan ketampanan dan kecantikan kedua orang tuanya.
Meski dalam hatii Gara saat ini tengah berpikir keras.
"Apa aku tidak salah? Mamah dan Papah kan papah Firman dan mamah Indri. Aku berdosa yah Tuhan? Mengapa Kakak Tasha aku panggil Mami? Aku sedih Tuhan. Aku ingin punya mami dan papi sungguhan seperti tadi." Di kelasnya Gara begitu murung kembali.
Ia sadar bagaimana pun dirinya mampu menunjukkan pada temannya, namun sesungguhnya semua adalah palsu. Sejenak Gara menunduk meneteskan air mata dan mengusapnya kasar.
__ADS_1