
Meski beberapa kali aku sudah menolak namun akhirnya Mami tetaplah menang dariku. Sebuah nampan yang di berikan padaku berisi bubur minuman susu hangat dan juga buah harus ku antar pada Gara yang ada di kamarnya saat ini.
"Agatha, Mami sedih loh lihat kalian saling diam seperti ini. Mami rindu lihat kalian nakal berdua. Please baikan lagi yah demi Mami?" aku diam sejenak menatap nampan yang ku genggam tak lama kemudian mataku menatap Mami yang menekuk wajahnya sendu.
Tentu saja aku tak takan tega melihat Mami memohon seperti itu padaku. Wanita yang sudah berbaik hati merawatku sejak kecil bahkan sebelum identitasku terbongkar Mami Tasha begitu baik padaku. Sampai pada akhirnya sebuah kebenaran terungkap. Jika ternyata aku adalah anak mamah dengan kekasihnya sebelum berpacaran dengan Papi.
"Iya, Mi. Kami akan baikan. Maafkan Agatha yah? Mami jangan sedih lagi. Agatha jahat banget kalau sampai buat Mami sedih seperti ini." ujarku yang saat itu di sambut senyuman lebar oleh Mami. Senyuman cantik yang bahkan aku sendiri pun tak bisa memiliki itu.
__ADS_1
Kata orang senyuman indah terpancar di wajah seseorang kala ia memiliki ketulusan yang luar biasa. Tentu akan terlihat jauh bersinar.
Ku ketuk pintu yang tidak terkunci, saat ini aku membuka daun pintu itu dan melangkah masuk. Pertama kali yang ku lihat adalah Gara tengah berbaring dengan bermain ponsel. Jelas aku bisa melihat jika wajahnya masih lemah.
"Makanlah. Jangan membuat Mami sedih." ujarku datar tanpa mau menatap pada pria tampan yang adalah adik angkatku.
"Kenapa harus begini sih, Tha? Nggak enak tau." sahut Gara yang tidak aku tanggapi sama sekali.
__ADS_1
"Gara, berhenti bertindak sesukamu. Aku tidak suka!' ujarku dengan marah. Namun, sebisa mungkin aku merendahkan nada bicaraku agar tidak terdengar sampai keluar.
"Kenapa? Kita bukan adik kakak sesungguhnya kan? Tidak ada ikatan antara kita, Agatha. Tidak ada jarak yang harus kita berikan untuk hubungan ini. Aku mencintaimu, Agatha." Kepalaku menggeleng tak ingin mendengar itu.
Tidak. Aku harus bicara lebih dulu pada Gara sebelum keluar kamar ini meski aku tahu akan sangat sulit sebenarnya.
"Demi Mami, aku mohon sikap kita baik-baik saja di depan mereka. Aku tidak ingin Mami sedih dan memohon padaku." Mendengar penuturanku Gara justru tertawa kecil. Mungkin ini hal gila menurutnya. Tapi itulah aku. Yang hanya memikirkan perasaan Mami dan Papi saja yang sudah berjasa besar dalam hidupku.
__ADS_1
"Hanya Mami dan Papi saja yang kau pikirkan. Lalu bagaimana denganku? Apa tidak sedikit pun kau memikirkan perasaanku, Tha?" Aku tak bisa berkata apa pun saat ini. Sebab hatiku sendiri pun sedang hancur. Bagaimana mungkin ketika aku tahu Gara memiliki rasa padaku justu perasaanku semakin besar padanya. Dari perasaan sebatas kagum kini bertambah menjadi rasa ingin memiliki lebih lagi.
Aku hanya menggeleng kepala meninggalkan Gara di kamarnya. Berbicara padanya saat ini memang sangatlah sulit. Gara tak mengerti bagaimana rasanya jadi aku. Jadi anak yang hidup atas belas kasih orang lain. Tentu tak akan mudah untukku memikirkan diri sendiri dan orang yang ku cintai. Cintaku jauh lebih besar untuk Mami dan Papi yang sudah tulus padaku.