Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Kebingungan Raga


__ADS_3

Awalnya semua teman-teman Raga tampak saling menatap seolah bertanya apakah boleh memberi tahu Raga, hingga pada akhirnya Bunga yang angkat suara. Tubuhnya ia dekatkan dengan Raga sembari tangannya membuka ponsel miliknya.


“Nih Ga, gue ada nyimpen videonya. Soalnya waktu itu yang share cepat hapusnya mungkin takut kena kasus penyebaran.” ujarnya dan Raga yang belum saja menonton lama matanya membulat sempurna. Tampak ia meneguk kasar salivahnya.


Sebelah tangan tampak ia kepal erat saat ini. Sungguh Raga sangat marah melihat apa yang ada di depannya saat ini.


“Siapa yang sebarin ini semua?” tanya Raga lirih namun bibirnya tampak gemetar menahan emosi.


Kini Raga tahu apa yang membuat Tasha sangat marah dan juga kedua orangtua Tasha.


Bunga kini tak berani untuk berkata. Giliran Firdan yang bersuara kala melihat sang teman tak ada yang berani berucap.


“Vira yang menyebarkan video itu. Entah apa alasannya. Yang jelas kami selama ini diam karena dia mengatakan kamu pacaran dengannya. Dan kami tidak mau kalian putus gara-gara kami.” terang Firdan.


Untuk kesekian kalinya Raga di buat syok. Ia menggelengkan kepala tak habis pikir dengan semua ini. Raga pun bergegas pergi meninggalkan mereka semua.


“Raga, mau kemana?” teriak mereka serentak. Namun Raga tetap tidak menghiraukan.

__ADS_1


Ia berjalan cepat lalu melajukan mobil miliknya. Satu tujuan yang ia fokus saat ini. Yaitu rumah Tasha. Raga ingin segera menjelaskan semuanya.


“Aku yakin mereka salah paham. Semoga dengan semuanya mereka mau menerimaku.” gumamnya berharap penuh.


Malam yang sudah semakin larut nyatanya tak mengurangi fokus kedua mata Raga untuk melajukan mobil. Bagaimana pun ia akan tetap menemui Tasha dan juga Gara.


Beberapa menit kemudian akhirnya Raga pun tiba di sebuah gerbang tinggi yang menjaga rumah megah milik sang mantan. Matanya mengedar mencari cara untuk bisa bertemu kedua orangtua Tasha.


“Hey…pergi sana! Mau apalagi kemari!” Pak satpam yang sudah begitu kesal dengan Raga. Karenanya ia di bentak oleh ayah Tasha.


Raga bukan mau pergi mendengar dirinya di usir, melainkan ia justru menaikkan kedua tangan untuk memohon.


Mengetahui semua ini ia begitu merindukan sosok Gara. Ingin sekali rasanya Raga memeluk bocah tampannya itu.


“Aduh Tuan, ini juga menyangkut masa depan saya. Kalau anda paksa masuk ke sana bisa-bisa saya dipecat sama istri saya juga, Tuan.” Mendengar itu rasanya Raga sama sekali tak tenang.


Entah malam ini ia begitu sulit untuk memikirkan apa pun. Hanya ingin menjelaskan semuanya pada keluarga Tasha, itu saja di isi kepala pemuda tampan itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya Raga memutuskan masuk kembali ke dalam mobil dan berpikir. Tak terasa air matanya jatuh saat memejamkan mata.


“Selama ini aku punya anak. Bagaimana aku tidak tahu soal itu sama sekali? Apa karena itu Tasha meminta pertanggung jawabanku? Tapi…saat itu masih baru saja kami melakukannya. Tasha, apa yang terjadi sebenarnya?” Bayangan tentang masa lalu mulai terus berputar di kepalanya.


Hingga tanpa sadar Raga pun terpejam di dalam mobil.


Sedangkan di kamar tempat Indri dan Firman berada, keduanya tengah berbaring sambil saling memeluk.


Hening, keduanya sama-sama tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Papah tidak ingin sama sekali sebenarnya memukul Tasha, Mah. Tapi kenapa rasanya Papah sangat kesal hari ini. Papah tidak mau Tasha sampai mengulangi kebodohan yang sama. Pria seperti itu tidak boleh di kasih hati.” Lengan Firman mendapat usapan lembut dari sang istri.


Indri sangat paham kecemasan sang suami. Terlebih ia begitu kenal bagaimana suaminya yang mudah emosi. Selama ini Firman banyak berubah karena memang Indri yang terus berusaha membantu menenangkan sang suami.


“Tasha sekarang sudah dewasa, Papah. Ada Gara yang menjadi pertimbangannya untuk berbuat sesuatu. Mamah yakin anak kita sudah bisa memikirkan segalanya. Tidak selamanya kita ada untuk Tasha, Pah. Biarkan dia mandiri. Biarkan dia berani memutuskan segala hal apalagi tentang Gara.”


Sejenak Firman mendengar ucapan sang istri dan mencermati setiap kata sang istri.

__ADS_1


Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menenangkan diri malam itu.


“Besok Papah harus bangun pagi antar Gara sekolah. Ayo kita tidur saja, Mah.” ajaknya memeluk sang istri semakin erat usai menarik selimut.


__ADS_2