
Duduk berempat membuat Tasha merasa canggung. Di depannya saat ini ada dua pria dengan ketampanan yang berbeda. Sementara Gara begitu asik berbicara pada dua pria di hadapannya.
“Uncle, ayo suap Gara juga.” ujarnya memakan suapan dari Raga.
Mendengar ucapan sang anak, Raga berdehem tak suka. Gara adalah anaknya. Tidak ada satu pun pria yang boleh merasakan kasih sayang Gara kecuali dia.
“Gara, uncle tidak boleh menyuapi Gara. Kan ada Papi dan Mami. Tidak sopan sayang.” tutur Raga secara lembut tak lupa tangannya mengusap lembut kepala sang anak.
Tasha menggeleng mendengar ucapan sang anak. Namun, Tasha justru memilih diam membiarkan Raga melakukan apa pun yang terpenting tidak melewati batasnya.
“Sha…kapan bisa ke Singapura lagi? Ibu sangat ingin bertemu denganmu. Ini semua salahku. Aku akan mempertanggung jawabkan tuduhanku.” Kini Rafa justru berbicara pada Tasha. Ia membiarkan Raga dan Gara terus saling berbicara.
Tasha mengangkat wajah menatap Rafa dengan tatapan datar. “Aku sibuk. Kau tidak perlu khawatir. Proses desain terus berjalan jadi rasanya aku tidak perlu pergi ke sana.” jawab Tasha apa adanya.
Rafa semakin bingung. Bagaimana membicarakan semuanya? Sedang sang ibu terus mendesak dirinya bisa dekat dengan Tasha. Begitu pun juga pekerjaan di rumah sakit sedang menanti kehadiran Rafa.
“Malam ini boleh saya mengajakmu keluar? Sebelumnya saya sudah izin dengan Tuan Firman. Saya mohon, Tasha.” tutur Rafa sontak membuat Tasha tak percaya.
__ADS_1
Kemana sikap tegas Rafa sebelumnya. Ucapan ketus yang sering ia lontarkan pada Tasha kini tak lagi nampak. Bukan hanya Tasha, Raga juga sama terkejutnya. Pria itu menatap nyalang Rafa.
“Tidak. Ini tidak boleh. Pria ini harus pergi. Tasha milikku.” gumam Raga tak ingin jika Tasha mengiyakan ucapan Rafa.
“Keluar kemana, Uncle? Kita ke restauran enak?” Bukan Tasha yang merespon. Justru Gara yang antusias mendengar ajakan dari Rafa.
Melihat bagaimana ceria wajah Gara, dengan cepat Rafa pun mengiyakan. Ini adalah kesempatan untuk keluar bersama mereka tanpa adanya Raga.
“Hore kita jalan-jalan.” Gara bersorak senang.
Melihat kesenangan sang anak, Raga begitu kesal. Pria itu bahkan tak sanggup untuk mengendalikan perasaannya. Kini Raga hanya bisa diam memperhatikan pergerakan sang anak yang terus sarapan. Hingga akhirnya tibalah waktu untuk Gara bersekolah.
“Sha…jangan menimbulkan masalah baru dengan ketidak pastianmu.” Di ambang pintu Tasha mendengar ucapan sang ibu saat memasuki rumahnya.
Suara itu sontak membuat Tasha menghentikan langkah. Tubuhnya menghadap pada sang ibu dan keningnya mengerut dalam.
“Maksud Mamah?” tanyanya dengan bingung.
__ADS_1
“Mereka berdua butuh kepastian dari kamu. Jangan membuat keadaan justru semakin rumit, Nak.” ujar Indri.
Tasha menggeleng tak mengerti. Sebab setahunya ia dan Rafa tak ada hal apa pun selain pekerjaan. Sedangkan Raga tentu saja ia tak akan mau bersatu kembali dengan pria itu dengan alasan apa pun.
“Apa pun yang terjadi, Tasha tidak akan kembali padanya, Mah. Gara bisa bahagia dengan kami seperti ini saja.” jawabnya menolak tuduhan sang ibu.
Indri sebagai wanita yang jauh lebih tua tentu saja paham apa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi ke depannya. Pelan wanita paruh baya itu mengusap rambut anak wanitanya.
“Sha…dengan selalu berduaan saling bertemu. Dengan satu nama yang menjadi alasan, Gara. Bukan tidak mungkin bisa terjadi hal-hal lainnya. Ibu hanya tidak ingin apa pun yang tidak terduga bisa terjadi. Bentengi diri kamu, Nak. Katakan iya atau tidak dengan tegas. Jangan setengah-setengah. Mamah dan Papah sudah menyerahkan semua keputusan pada kamu meski papah belum bisa tegas dengan keputusannya. Tapi pikirkan semuanya dengan baik? Tanyakan pada diri kamu bagaiamana perasaan kamu saat ini?”
Setelah mengatakan panjang lebar, kini Indri akhirnya pergi meninggalkan sang anak.
Ia melenggang masuk ke dalam kamar, sementara Tasha berdiri mematung mencerna setiap kata dari sang ibu. Pelan ia melangkah menuju kamarnya.
“Tanyakan pada hatiku?” gumamnya berpikir keras.
Tasha memegang dadanya pelan. “Aku sudah tidak membencinya lagi. Tapi…aku tidak ada rasa apa pun jika bersamanya. Benarkah perasaan ini?” Bingung rasanya bagi Tasha saat ini.
__ADS_1
Jujur ia sendiri merasa tak menentu arah tujuannya. Hidup sendiri dengan melihat kebahagiaan sang anak begitu membuat wanita satu anak ini sampai lupa cara menyenangkan hatinya sendiri. Tasha merasa terlalu nyaman dengan kesendirian.
“Aku baik-baik saja jika hidup berdua dengan Gara, anakku.” tuturnya dengan yakin.