
Satu minggu sejak keterdiaman Raga pada Tasha, mendadak ada perasaan bersalah. Tasha tak suka dengan Raga yang pendiam seperti ini.
“Kenapa jadi dia yang begini sih? Kan aku nggak ada ngelakuin apa pun. Huh perkara Bu Dewi ngajak makan malam jadi panjang urusannya.” geruru Tasha di depan rumah menatap kepergian mobil sang mantan yang melaju kala meninggalkan pelataran rumah.
Ia tak tahu jika di belakangnya ada Indri yang tersenyum-senyu mendengar gerutuan anaknya.
“Sha…itu tandanya butuh di bujuk. Terkadang bukan hanya wanita yang memiliki sisi manja. Pria juga ada. Tuh buktinya papinya Gara.” Tasha terjingkat kaget hingga ia memutar tubuhnya ke belakang.
“Mamah, kok nguping sih? Lagian siapa yang mau bujuk? Buat apa coba? Kan aku nggak ada buat salah apa-apa, Mah.” Keduanya tampak berbicara di depan pintu.
Raga dengan rutinitasnya kembali ke kantor dan Tasha pun juga kembali bekerja. Pikirannya saat ini tengah mempertimbangkan keberangkatannya kembali ke Singapur. Berat rasanya jika harus berpisah dengan Gara lagi.
“Mah.” Panggil Tasha pada Indri yang baru saja duduk di ruangan itu.
__ADS_1
“Lusa aku akan ke Singapur. Gara aku bawa tidak apa-apa yah?” ia meminta izin terlebih dulu pada sang mamah barulah menghadap papah berikutnya.
Indri tampak menghela napas mendengar ucapan sang anak. Mau tidak memberi izin tapi ini adalah pekerjaan Tasha.
“Kalau bawa Gara berarti kamu harus bawa Raga,” ujarnya memberi masukan. Sebab keterdiaman Raga jangan sampai menjadi masalah besar karena Tasha pergi ke Singapur lagi.
“Kalau bawa Raga berarti harus bawa mamah, papah dan yang lainnya.” sambung Tasha saat ingat posesifnya sang papah bagaimana.
Hal ini pun menjadi pertimbangan Tasha hingga ia kembali meminta persetujuan Raga saat keduanya hendak menjemput Gara sekolah.
Tasha jelas melihat aura dingin di wajah Raga saat itu juga. Entah apa lagi masalah yang akan terjadi pada mereka setelah ini. Namun, Tasha memang harus berangkat. Pekerjaan yang ia ambil adalah tanggung jawabnya.
“Biarkan Gara bersamaku.” Hanya itu jawaban yang Raga berikan tanpa mengatakan apa pun lagi.
__ADS_1
Tasha tak menyangka. Jika sebelumnya ia berpikir Raga mungkin akan melarangnya. Ternyata salah besar. Pria itu tak ada melarangnya sama sekali untuk pergi. Hanya Gara yang ia minta.
“Kenapa ha-rus begitu? Aku tentu akan pergi bersama anakku.” ujar Tasha tak mengerti akan pikiran dari Raga.
Tanpa ia tahu jika di dalam hati memang inilah yang Raga pikirkan. Menahan Gara sama saja dengan melarang Tasha untuk pergi. Melihat keadaan Gara yang tak bisa jauh dengannya tentu membuat Tasha tak mungkin pergi seorang diri.
“Dimana pun Gara, aku tentu akan di situ.” Kembali Raga berucap tanpa menatap Tasha.
Tasha terdiam tak bisa mengatakan apa pun saat ini. Tidak pergi itu tentu tidak mungkin. Tapi, jika membawa Raga semua urusan akan semakin runyam.
Mobil kembali berjalan, hari itu mereka tak langsung pulang. Raga berjanjian dengan sang anak untuk pergi ke salon pria memotong rambut mereka. Sungguh keduanya begitu kompak dengan model rambut.
Tasha sampai kehilangan kesadaran melihat dua pria tampannya begitu sangat menggemaskan. Sejenak bayangan mereka hidup bersama dengan sangat bahagia terlintas di pikiran Tasha.
__ADS_1
“Astaga apa yang ku pikirkan ini?” umpat Tasha mengerjapkan mata heran.