
"Maafkan aku, Mah. Aku sudah berburuk sangka dengan Mamah selama ini. Aku janji tidak akan berburuk sangka dengan Mamah lagi. Mamah bukan wanita ketiga di rumah tangga Mami dan Papi. Aku janji akan menjaga perasaan Mami Tasha dengan baik." Itulah yang ku ucapkan dalam hati setelah mendengar semua kebenaran.
Selama ini aku selalu saja berburuk sangka pada masa lalu Mamah yang bahkan sudah tak ada lagi di dunia ini.
"Ayo di makan." Lamunanku buyar ketika suara Nenek Indri sudah terdengar di depanku. Ada tangan yang menjulur tepat di depan mulutku saat ini. Suapan yang Nenek berikan mau tak mau segera aku terima.
Tak heran jika Mami Tasha memiliki hati yang sangat baik dan penyayang. Sebab aku pun bisa merasakan hal itu juga sama di diri Nenek Indri. Yang nyata bukanlah siapa-siapa untukku. Jika ia memiliki hati yang dengki tentu Nenek Indri tak akan sudi menyuapi aku seperti ini.
__ADS_1
Bisa di bilang aku adalah saingan cucu kandungnya. Kami berdua pun menghabiskan waktu banyak bercerita dimana Nenek masih ingat semua tingkah Gara di masa kecil.
"Semoga saja Gara segera sembuh yah, Nek? Kasihan Mami dan Papi pasti sangat cemas saat ini." ujarku yang menutupi rasa cemas pada diriku sendiri.
Andai tak ada masalah di antara kami tentu saja aku sudah ikut terbang dengan Mami ke Jerman. Ku dengar Nenek Indri menghela napasnya pelan.
"Gara itu sudah seperti anak bagi Nenek. Dimana semua tentangnya Nenek sangat memikirkannya. Tapi, jika Nenek terus ikut andil dalam Gara. Nenek tidak ingin mengambil posisi yang seharusnya Mami dan Papi kamu duduki. Itu sebabnya Nenek memilih bertahan di sini meski Nenek sangat mencemaskan anak itu."
__ADS_1
Aku mendekat pada Nenek dan ku usap punggung tangan Nenek. "Kita berdoa saja yah, Nek. Semoga saja Gara segera membaik di sana. Nenek jangan khawatir, Gara pasti kuat."
Waktu yang bergerak cepat kini sudah berganti malam. Dimana aku hanya berbaring di atas tempat tidur menatap kosong pada ponsel yang tak kunjung ada kabar. Papi juga tak kunjung menghubungi aku. Rasa khawatirku untuk Gara tumbuh kian besar. Tak pernah Gara sakit sampai separah ini di bawa ke rumah sakit.
Pelan tanganku bergerak melihat riwayat pesan yang sering kami kirim. Beberapa percakapan membuat aku tak sadar tersenyum-senyum sendiri. Jika biasanya aku membaca pesan itu dengan wajah tanpa ekspresi berbeda untuk kali ini. Dimana ketika aku membaca kembali semua perhatian yang Gara berikan itu adalah sebuah perhatian yang tidak biasa.
Ada perasaan yang terlibat di setiap kata pesannya.
__ADS_1
"Kenapa perasaan ini beda sekali dengan perasaan ketika bersama Morgan dan yang lainnya? Sampai kapan aku sanggup menahan ini semua? Bagaimana caranya menghilangkan rasa ini, Tuhan?" tanyaku dalam hati sembari mengusap dadaku yang terasa sesak sekali.
Ku lihat sosial media Gara tak menunjukkan ada story yang baru ia unggah. Akun itu tampak sunyi sudah beberapa hari lalu. Postingan terakhir yang ia kirim pun hanya pelangi di samping sayap pesawat ketika pulang dari Indonesia waktu lalu.