Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Patah Hati


__ADS_3

“Ayo, aku antar kamu pulang sekarang.” Aku menoleh ke bawah dimana tanganku di genggam erat oleh Mikael.


Kami baru saja usai menonton bioskop pilihan Papi. Menurutku filmnya cukup menegangkan. Sayang, perasaanku selalu saja tak enak melihat wajah pria yang bersamaku.


“Ayo.” sahutku.


Kami berjalan hendak menuju mobil Mikael terparkir. Di belakang Mami dan Papi tampak bergandengan tangan.


“Agatha, ayo cepat masuk!” Panggilan itu membuat aku terhenti melangkah.


Bingung mendengar perintah yang lagi-lagi dari Papi.


“Em maaf, Om. Eh maksud saya Paman, Agatha tadi saya yang menjemput. Apa tidak bisa pulang bersama saya…” Belum saja aku mengangguk menyetujui ucapan Mikael, Papi sudah menolehkan kepala padaku lalu bergerak ke arah mobil dimana itu adalah sebuah perintah.


Lagi-lagi aku tidak bisa menjawab sesuai keinginanku. Papi sedang menjaga ketat diriku saat ini. Aku hanya tersenyum penuh permintaan maaf pada Mikael.

__ADS_1


“Tidak masalah, Agatha. Pulanglah dan hati-hati. Besok kita ketemu di kampus.” ujar Mikael sembari tersenyum.


Aku, Mami, dan Papi pulang dengan satu mobil yang sama. Kami di antar supir malam itu sampai tiba di rumah. Sepanjang jalan rasanya aku cukup kesal melihat ulah Papi malam ini.


“Pi, Agatha kan sudah dewasa.” ujarku memulai ucapan di perjalanan malam itu.


Aku sedikit menoleh ke belakang melihat Mami yang bersandar pada pundak Papi di belakang.


“Jika Papi tidak menjagamu dengan baik. Adikmu akan mengancam pindah kuliah kesini. Sekarang menurutlah apa yang Papi lakukan. Lagi pula pria itu baru saja berteman denganmu. Bagaimana Papi bisa percaya begitu saja?” Helaan napas aku keluarkan begitu kesal.


“Agatha, Papi kamu benar. Lagi pula Mami dan Papi tidak melarang kalian berkenalan lebih jauh lagi. Asal keamanan tetap terjamin.” sahut Mami yang kini berada di pihak Papi.


Menurutku itu bukan hal yang buruk. Hanya saja aku merasa tidak enak pada Mikael sebab tak bisa memiliki waktu untuk berbicara padaku.


Singkat cerita malam setelah kami tiba di rumah. Aku melihat ponsel yang ramai sekali di grup. Entah apa yang membuat benda itu begitu brisik.

__ADS_1


“Siapa sih?” gumamku sembari membuka benda pipih itu.


“Ah so sweet Gara! Gila kenapa selera dia di bawah ku yah?” ujar Sela


“Nggak. Ngaca dong itu justru di atas rata-rata buat kita. Selama ini kita pikir seleranya yang Indonesia. Ternyata harus blasteran gitu?” tambah Sisil.


“Agatha! Woi muncul dong. Kencan mulu. Tuh calon kita kenapa sampe di gebet orang luar sih? Bantuin sahabat-sahabat lu dong, Tha.” Aku hanya bisa menggeleng melihat pesan para sahabatku yang terus ribut menyebutnya.


“Nggak ada apa-apa di grup?” gumamku turut penasaran. Sampai akhirnya aku membuka sosial media dimana beranda Instagram milikku memunculkan pertama kali wajah tampan seorang pria yang berpose tengah makan malam bersama wanita cantik sekali. Rambutnya panjang pirang lurus dan wajahnya benar-benar manis.


“Gara?” Aku terduduk di tempat tidur menatap ponsel itu dengan mata berembun.


Hal yang ku pikir akan biasa saja ketika aku melihat nyatanya begitu terasa menyakitkan saat ini. Aku kehilangan semangat untuk menghubungi Mikael. Malam ini kencan gagal bersama pria itu akibat Papi yang di utus Gara. Namun, di sana Gara justru memamerkan kedekatannya dengan wanita yang pertama kali masuk ke dalam hidupnya.


Yah, tidak ada wanita yang pernah masuk ke hidup Gara kecuali aku sebagai Kakak dan Mami Tasha sebagai Maminya.

__ADS_1


__ADS_2