Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Kedok Vira


__ADS_3

Malam yang sama di tempat yang berbeda, sekumpulan pria dan wanita yang tengah duduk santai menikmati wisky tampak saling bertanya dengan sorot mata dan gerakan kepala mereka. Seolah menanyakan hal yang aneh menurut mereka. Yah, Raga lah objek mereka saat ini.


"Ga, ada masalah dengan perusahaan?" Kini akhirnya yang paling berani bertanya adalah Vira di antara teman-teman Raga yang lain.


Malam ini adalah malam yang sangat langka, jarang sekali Raga setuju jika di ajak berkumpul seperti malam ini. Seolah berpura-pura lupa Vira berusaha setenang mungkin di hadapan semua temannya. Ia tidak ingin semua tahu tentang masalah Raga.


Jeri, Firdan, Bondan, Bunga dan Vira mereka semua dalah teman Raga yang setia di Indonesia. Bertemu ketika sudah di usia dewasa tak membuat mereka lupa jika pernah berteman dekat.


"Kalian ingat Tasha, kan?" tany Raga langsung pada intinya. Mendengar nama Tasha di sebut sontak saja Vira tergagap. Ia panik setengah mati, wajahnya menatap satu persatu temannya itu dengan kedua mata yang melotot seolah meminta untuk tidak mengatakan apa pun.


Sontak, mereka semua pun mengangguk kaku melihat tatapan sedih Raga. Dan mengabaikan tatapan dari Vira.


"Iya Tasha adik kelas kita itu kan?" Bunga ikut menimpali dan Raga mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Tolong bantu gue ketemu dia lagi. Kali ini masalahnya serius. Dan gue nggak tahu lagi mau minta bantuan siapa selain kalian." ujarnya memohon.


Semua teman tampak melongo mendengar permohonan seorang Raga. "Wait, kita nggak salah dengar kan?" Firdan tampak memajukan tubuhnya mendekati Raga.


Lirih Raga menggeleng. "Ada anak yang harus gue pertanggung jawabkan." Semua sampai melongo tak percaya. Untuk kesekian kalinya Raga membuat mereka benar-benar syok.


Kecuali Vira, wanita itu hanya berekspresi seperti sebelumnya. Ia bahkan mengepalkan tangan penuh amarah. Bagaimana mungkin dirinya yang selama ini mengaku memiliki status dekat dengan Raga justru tak di anggap sama sekali. Raga tak sedikit pun melirik ke arahnya.


"Ga, ini nggak lucu. Anak kata lu? Anak sama si adik kelas kita itu? Ah lu ngaco deh." timpal Jeri yang merasa tak percaya sama sekali.


"Tasha memiki anak dariku. Dan aku selama ini bahkan tidak tahu hal itu sampai pada akhirnya aku mencari tahu semuanya sendiri." Raga kini merubah kata-katanya menjadi aku. Kerapuhan yang ia rasakan membuat pria tampan itu tak lagi tampak berwibawa. Ia hanyalah pria yang kehilangan jati diri saat ini.


Di pikiran Raga hanya ada Tasha dan Gara.

__ADS_1


"Dan hubungan lu dengan Vira bagaimana?" Bunga yang sadar pun tampak bertanya hingga membuat Vira tertunduk malu saat ini dan Raga yang mendengarnya mengernyitkan kening menatap pada Vira yang duduk di sebelahnya namun tidak begitu dekat.


Tak tahan mendengar pertanyaan itu dan jawaban yang akan Raga ucapkan. Vira bergegas keluar meninggalkan cafe itu.


"Gue duluan." ujarnya.


Selepas kepergian Vira, Bunga pun bertanya kembali.


"Lu nggak ada pacaran sama Vira atau rencana mau nikah gitu? Sampai mikirkan masalah anak bareng adik kelas kita?" tanya Bunga.


Raga semakin heran. "Pacaran? Nikah? Bunga, jangan bicara omong kosong. Kita ini teman sejak kapan? Sudah lama kan. Mana mungkin." tutur Raga menolak mentah-mentah.


Firdan yang menangkap adanya keanehan segera menengahi. "Tunggu, Ga. Jangan bilang lu juga nggak tahu soal masalah Vira yang minta kita semua diam dengan video Tasha dulu? Dan kita semua yakin video itu pasti lu kan yang jadi pengemudinya?" Mata Raga membulat kian sempurna mendengar kata video. Sumpah demi apa pun ia benar-benar lupa akan hal yang pernah ia miliki itu. Lama fokus bekerja, Raga sampai tak melihat isi ponselnya kembali.

__ADS_1


"Video apa?" tanya Raga memastikan.


Mendengar itu semua menghela napasnya kasar. Selama ini mereka tutup mulut di grup sebab tak ingin membuat Raga memutuskan Vira seperti yang wanita itu katakan.


__ADS_2