
Samar melihat bayangan tubuh dari arah mobil yang terparkir. Sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah Rima berjalan pelan dan pelan mendekati pria yang ternyata adalah sang anak. Keningnya berkerut melihat sikap Raga yang tak biasanya melamun tanpa tahu tempat.
“Raga,” sapanya pelan namun membuat Raga terjingkat kaget.
Pria itu berdiri tegak menatap sang bunda di depannya. Rima menatap dua netra hitam sang anak yang tiba-tiba saja menjatuhkan air mata tanpa tahu apa yang terjadi.
“Bunda…” lirihnya runtuh dari berdiri tegaknya.
Rima terperangan menunduk menatap sang anak yang sudah memeluk lututnya kini. Sumpah demi apa pun Raga begitu syok mengetahui kebenaran. Selama ini ia hidup baik-baik saja dengan berusaha sukses melawan pikirannya yang tertuju pada Tasha. Dan ternyata ada suatu hal yang sangat tidak ia ketahui.
“Raga, ada apa ini? Apa yang terjadi? Katakan pada Bunda, Raga.” Rima menunduk meraih kedua pundak sang anak.
Susah payah ia menggapai tubuh Raga setelah menyuruhnya berdiri. Kini Raga beralih memeluk tubuh sang bunda. Kedua lutut yang kokoh rasanya begitu sulit Raga buat penopang tubuhnya. Ia benar-benar tak berdaya saat ini.
“Bibi! Bibi, tolong bantu saya!” Rima berteriak memanggil pelayan.
__ADS_1
Akhirnya dua pelayan datang dan membantu sang nyonya membawa Raga ke dalam rumah. Di dudukkan Raga di sofa.
“Ini minumnya, Tuan.” Raga meminum air putih di bantu sang bunda.
“Bunda, Gara adalah anakku. Tasha adalah wanita yang menjadi salah satu korban kenakalan ku dulu.” Betapa kagetnya Rima mendengar pengakuan sang anak.
Bahkan gelas yang ia genggam saja sampai jatuh berserakan di lantai kacanya serta sisa air putih itu.
Tidak, Rima pasti salah dengar saat ini. Wanita itu menggelengkan kepalanya lirih. Matanya berkaca-kaca sulit untuk percaya ini semua.
Raga menggeleng lirih. “Aku tidak bercanda sama sekali, Bunda. Gara adalah anakku. Tasha menutupi ini semua entah apa tujuannya?” gumamnya kesal.
Seingat Raga di masa lalu Tasha hanya meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya. Bukan pertanggung jawaban atas kehamilannya.
Memang benarlah apa yang Raga ingat. Dulu Tasha memintanya bertanggung jawab sebab malu dengan keadannya. Tanpa Tasha ketahui jika di kemudian hari setelah Raga pergi sekolah di luar negeri, video mereka justru tersebar.
__ADS_1
Sulit percaya bagi Rima. Mengingat Gara sudah begitu besar dan tampan. Bahkan wajah bocah itu begitu mirip dengan Tasha.
“Kamu pasti salah, Raga. Mereka itu adik kakak. Gara sangat mirip dengan kakaknya. Apa kamu mau berbohong dengan Bunda? Jangan bikin Bunda jantungan.” Rima pun hendak melangkah pergi meninggalkan sang anak di sofa seorang diri.
Ia mengira jika Raga tengah mabuk entah sedang mabuk apa. Yang jelas sang anak bicara dengan begitu ambigu menurutnya.
“Bunda, semua ini kebenaran. Gara bukan adik Tasha. Tasha sudah melahirkan Gara tanpa ada status pernikahan. Dan itu adalah anak Raga, Bunda.” Tegas Raga berucap.
Rima pun menjatuhkan air matanya. Sulit rasanya percaya jika ini nyata. Selama ini ia sudah begitu akrab dengan Tasha dan Gara. Bagaimana mungkin jika bocah itu adalah cucunya?
Keduanya tidak sadar jika pembicaraan itu terdengar oleh seorang wanita yang bari memasuki pintu rumah itu.
“Siapa maksud kamu, Ga? Tasha siapa? Bukan adik kelas kita itu kan? Heh ada-ada saja telingaku ini dengar nama itu kau sebut. Mana mungkin seorang Raga Mahendra menyebut nama gadis so eksis itu.” kekehnya berjalan mendekati Raga bersama Rima di ruang tengah.
Lagi-lagi Rima memutar matanya malas melihat wanita yang sangat kurang attitude di rumah orang datang lagi dengan sesukanya tanpa berucap salam.
__ADS_1