Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 4


__ADS_3

Di kelas kini perkuliahan akan segera di mulai. Aku dan teman-temanku nampak heboh bahkan suara kami menguasai seluruh ruangan itu. Dosen yang kami tunggu belum juga tiba. Tentu sebagai geng ramai kami semua tak menyia-nyiakan waktu untuk bercerita.


“Wah gelangmu keren, Tha. Beli dimana?” tanya Sisil.


“Ah itu kan banyak di toko-toko gelang.” sahut Endah acuh.


Jika sekilas di lihat memang gelang yang aku gunakan seperti gelang biasa. Tapi ada sesuatu yang spesial di antara manik-maniknya.


“Wah ini lihat keren loh, ini mah gelangnya beda banget. Tuh ada batu warna merah delima lagi.” Sela pun menyahut sembari menarik tanganku.


“Iya ini dari Gara. Katanya sih beli dari sana. Paling juga gelang kayak yang di bilang Endah gelang biasa aja.” Aku pun memperhatikan pergelangan tanganku yang seketika menjadi pusat perhatian teman-temanku.


Mereka heboh kembali kala mendengar aku menyebut nama Gara. Semua tentang Gara pasti akan sangat menarik bagi mereka. Ada sedikit rasa kesal aku rasakan sebab bagaimana mungkin pembahasan kami yang seharusnya seru menjadi tidak nyambung ketika mereka kembali memuja adikku.


“Agatha, boleh nggak sih sehari aja aku nyamar deh jadi kamu. Pasti Gara bakal buat aku bahagia banget. Dia itu adik rasa pacar yah?” tanya Sela.

__ADS_1


Kedua mataku membulat kaget mendengar ucapan Sela yang frontal.


“Hus kalau ngomong. Adik yah adik. Mana ada rasa pacar. Dia itu adik rasa kakak. Selalu jagain aku.” Itulah yang ku rasakan kenyataannya. Gara selalu bersikap seperti kakak untukku.


Hari itu jam kuliah hanya ada satu. Dimana aku akan segera pulang saat ini kala pelajaran telah usai.


“Jadi ikut nggak?” Sisil bertanya padaku dan aku mengangguk tersenyum.


“Ayo pulang.” Di detik berikutnya aku terkejut mendapati tanganku justru di tarik erat oleh pria tinggi yang berjalan di depanku. Topi yang hampir menutup setengah hidungnya serta kaca mata hitam yang ku lihat dari belakang, tentu membuatku tersenyum.


“Ya ampun, Agatha…beruntung banget sih. Nggak adik, nggak pacar semua perhatian.” Aku menggelengkan kepala mendengar ucapan-ucapan temanku yang menatap kagum dengan kehidupanku saat ini.


Yah, aku adalah wanita paling bahagia. Satu pun masalah tak pernah aku dapatkan selama tinggal dan besar bersama Mami dan Papi. Mereka menjadikan aku anak wanita yang paling bahagia. Bahkan rasanya jika di katakan air mataku ini belum pernah jatuh karena sebuah masalah kecuali tentang Morgan waktu itu.


“Kenapa harus nyamar begitu sih, Gar? Bukannya enak yah di gemari banyak perempuan? Aku yakin kalau kamu tadi lihatkan wajah pasti bukan cuman mereka yang histeris. Tapi dosen-dosen juga bakal hilang kewarasannya.” ujarku meledek.

__ADS_1


Di sampingku, kini adikku hanya diam melajukan mobil tanpa menjawab ledekanku.


Kami berdua pulang namun bukan ke rumah. Justru mobil Gara berhenti di sebuah restaurant yang cukup ramai sore itu.


“Itu mereka,” Aku kaget melihat arah pandang adikku yang justru ke arah dalam.


“Loh Mami dan Papi di sini? Loh kok ada Nenek juga?” Kembali aku di buat kaget. Disana Mami dan Papi duduk di kursi dengan Nenek Indri bersama Kakek Firman yang juga berbincang.


Dengan senang aku pun melangkah mendekati semuanya tak lupa aku menyapa dengan mencium punggung tangan mereka serta memeluk sama seperti yang Gara lakukan.


“Kalian ini adik kakak kok terlihat seperti sepasang kekasih? Sama-sama serasi.” Celetukan Nenek membuat aku hanya tersenyum tanpa menanggapi dengan kata-kata.


“Mah, mereka itu adik kakak. Sudah sepantasnya seperti itu kan?” Aku tahu Mami Tasha sangat tidak ingin mendengar ucapan Nenek. Maka dari itu Mami Tasha menyela.


“Tapi itu tidak masalah kan, Nek? Kami kan tidak sedarah.” Aku menoleh pada pria di sampingku. Gara justru bersuara tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.

__ADS_1


Mendadak suasana menjadi hening seketika.


__ADS_2