
Kepanikan di wajah Raga semakin menjadi tatkala melihat sang istri sudah keluar dari kamar mereka dengan penampilan begitu rapi. Tasha bahkan di ikuti oleh pelayan di belakangnya membawa dua koper yang jelas itu adalah berisi pakaian. Saat itu juga Raga berdiri mendekati sang istri. Sedangkan Gara masih duduk tenang menikmati sarapannya. Ia tak berniat mengetahui perdebatan papi dan mami nya.
"Sha, apa-apaan ini? Kamu mau kemana, Tasha? Aku suamimu." Raga bahkan sampai menunduk memegang kedua tangan milik Tasha yang menatapnya begitu nanar penuh kekecewaan.
"Aku akan pergi berlibur dengan anakku. Dan kau selesaikan masalahmu sendiri. Aku tidak ingin ikut campur." Tasha menepis tangan sang suami dan berjalan di sambut oleh putra tampannya. Mereka berjalan tanpa perduli dengan Raga yang mencoba menghalangi langkah keduanya.
Dari kejauhan Indri menatap sedih pemandangan itu namun ia ingat dengan ucapan sang suami untuk tidak ikut campur dengan semua prahara rumah tangga anaknya.
"Tasha, Gara, tolong jangan pergi. Tunggu sebentar papi akan ikut, oke?"
__ADS_1
Tasha membuang pandangan lurus ke depan ketika tahu jika sang suami sudah menatapnya dengan tatapan nanar. Ini bukanlah maunya Gara, tapi semua sudah terjadi. Ia sendiri pun paham apa yang terjadi di masa lalu. Namun, tak di sangka justru masa lalu yang tidak ia ketahui justru mengantarkannya pada sebuah masalah. Dimana selama ini Rizka tak berniat menghubungi Raga sampai ia membesarkan anaknya sendiri. Hingga keadaan koma yang membuat wanita itu tak tahu jika ada orang yang mencari Raga dan memberi tahu kebenarannya selama ini.
Tak mampu mencegah langkah sang istri, akhirnya Raga memegang kedua tangan Tasha dan berlutut di depan wanita itu. Tasha terdiam seketika, sedangkan Gara justru menepis tangan Raga yang satu di tangan sang mami.
"Papi jahat. Biarkan kami pergi. Aku ingin tidur di hotel." ujar bocah polos itu terdengar lucu di tengah-tengah perdebatan kedua orangtuanya.
Ternyata Tasha sudah menjanjikan hal yang paling Gara sukai itu sebabnya bocah tampak itu antusias untuk pergi tanpa tahu betapa sesaknya dada sang mami saat ini.
Tasha benar-benar luka saat ini tanpa bisa berkata apa pun lagi. Berharap mendapat masukan atau perlindungan dari sang ayah yang selama ini begitu menjadi pahlawan untuknya, nyatanya ia justru harus menghadapi semua ini sendiri.
__ADS_1
Tasha lupa jika kini ia sudah dewasa dan menjadi seorang ibu. Tentu sang ayah melakukan ini semua bukan karena jahat. Tetapi karena ingin anaknya mandiri dan menyelesaikan semuanya sendiri. Seketika air mata jatuh di pipi mulus milik Tasha. Ia mengusap kasar saat Raga menoleh ke belakang menyaksikan kepergian sang istri dan anaknya.
"Mungkin benar aku harus menyelesaikan semua ini baru bisa menemui Tasha. Ini adalah masalahku tak seharusnya Tasha ikut memikirkan ini semua bahkan menemaniku untuk menghadapinya."
Raga beranjak dari duduknya mempersiapkan diri untuk ke rumah sakit. Ia akan memutuskan semua yang terbaik untuk pernikahannya. Sampai kapan pun pernikahannya dengan Tasha tak akan ia biarkan bubar begitu saja karena masa lalu yang datang.
"Ga..." langkah jenjang Raga terhenti kala mendengar suara dari ibu mertuanya.
"Mamah," sahut Raga menoleh dan melangkah mendekati sang ibu mertua.
__ADS_1
"Jangan pernah kecewakan restu mamah pada kalian. Pertahankan apa yang harus di pertahankan." Indri menepuk bahu sang menantu lalu ia melangkah pergi meninggalkan Raga yang terdiam mematung.