
Tak lagi bisa aku tutupi. Tentang perasaanku pada Gara dan semua usahaku menjauhinya. Sela sangat syok mendengar ceritaku panjang lebar. Namun, bukan itu yang aku pikirkan saat ini. Aku tidak perduli lagi bagaimana Sela akan memandangku. Di sini hatiku tengah berantakan di buat Gara.
“Agatha, kamu kenapa nyiksa diri begitu sih?” Tangisku terhenti kala mendengar ucapan Sela. Tangannya bahkan mengusap pelan pundakku. Dia benar-benar nyaman di ajak berbicara.
“Kamu bukan saudara kandung mau pun tiri. Akui saja perasaanmu itu dan pertahankan. Tidak akan ada yang marah, Agatha. Aku yakin Om dan Tante pasti paham perasaan mu. Lagi pula wajar sih perasaan itu tumbuh secara kalian tinggal satu atap tanpa ada ikatan darah. Itu sangat sulit menghindarinya. Yang sedarah saja kadang kesulitan membatasi hati mereka.” Ucapan Sela yang panjang membuat aku terdiam menatapnya dalam.
“Gimana bisa kamu bicara begitu, Sel? Aku kakaknya Gara. Apa aku anak yang tidak tahu terimakasih sama Mami dan Papi, tega menyukai anak mereka. Aku sudah sangat berhutang budi pada mereka. Rasanya sangat memalukan kalau aku sampai melampaui batasku, Sel.” Kepalaku menunduk.
Andai saja aku anak orang berada dan terhormat mungkin aku akan penuh percaya diri mengakui perasaanku. Tapi, aku sadar dari mana berasal. Bahkan sampai saat ini pun aku tidak tahu dimana Ayah kandungku. Untuk mencarinya aku sama sekali tidak ada niat. Sudah cukup penderitaanku dengan Mamah dahulu tanpa ia perdulikan nasib kami.
“Agatha, Mami kamu dan Papi kamu itu orang baik dan berpendidikan. Pikiran mereka itu luas. Tidak mungkin mempermasalahkan hutang budi atau siapa kamu. Yang jelas kamu sejak kecil sudah mereka didik dengan baik. Itu bisa jadi balas budi kamu ke mereka dengan mencintai anaknya dan merawatnya sampai tua nanti. Kan beres.” Sela tersenyum. Namun mendengar ucapannya aku rasa itu sangat tidak masuk akal. Aku hanya bisa menggeleng lemas.
__ADS_1
Berbicara dengan Sela pasti ujung-ujungnya akan membahas Gara. Aku memilih duduk diam memikirkan apa yang harus ku lakukan. Sampai akhirnya jam kuliah pun hampir tiba. Aku bersiap di kamar Sela dan menghubungi Mikael. Memintanya menjemputku. Berharap dengan banyak waktu yang kami habiskan perasaanku pada Gara akan menghilang sendirinya.
“Tha, mau kemana?” Sela berlari mengejarku keluar kamar.
“Mau ke kampus lah. Aku duluan yah? Makasih tumpangannya.” ujarku berlalu pergi. Sela yang terus mengejar sampai di pintu utama terpaksa aku hentikan.
“Ikut dong. Kok nggak ngomong-ngomong sih kalau sama Mikael? Kan aku bisa di belakang juga.” Sela tersenyum genit menatap pria yang sudah turun dari mobilnya.
Mikael terlihat tampan. Aku menolak permintaan Sela. Sudah cukup rasanya semalam Papi membuat Mikael kecewa. Kali ini tidak ada yang boleh mengganggu kami. Dan aku akan buktikan pada Gara jika aku bisa bersama pria baik juga.
Oke kali ini aku akan meminta maaf pada Mikael soal semalam. Dan selanjutnya aku akan menerima Mikael jika ia menginginkan aku menjadi kekasihnya. Gara tidak akan bisa menghalangi ini semua.
__ADS_1
“Kamu habis nangis?” tanya Mikael ketika kami sudah di dalam mobil.
“Hah? Nggak kok.” jawabku cepat.
Mikael hanya tersenyum tipis mendengar jawabanku.
“Em soal semalam aku minta maaf, Mik. Papi aku begitu karena terlalu takut aku dapat perlakuan nggak baik lagi seperti sama Mario dulu.” ujarku merasa tak enak ketika mengatakannya.
“It’s okey. Itu bukan masalah kok.” Kami berdua pun menikmati perjalanan menuju kampus dengan perasaan sama-sama canggung.
Jelas aku melihat saat ini tangan Mikael bergerak meraih tanganku. Ia menggenggam tanganku tanpa aku hentikan. Rasanya biasa saja untukku. Entah mengapa aku tak merasakan kegugupan sama sekali saat ini.
__ADS_1
“Tha, aku mau ngomong sesuatu sama kamu…”
“Astaga!” Aku memekik kaget. Belum saja Mikael melanjutkan ucapannya tiba-tiba sebuah mobil menghalangi perjalanan kami. Dan Mikael yang refleks menghentikan mobil secara tiba-tiba sontak membuat aku berteriak.