
Siang itu setelah puas bermain di mall dengan sang papi, akhirnya Gara pun di antar pulang kembali ke rumah oleh Raga. Ia menepati janjinya dengan Tasha untuk tidak memaksakan segala hal yang ia inginkan termasuk membawa Gara ke rumah bertemu dengan kedua orangtuanya. Tasha ingin Raga berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan orangtua.
Mobil yang biasa di hentikan oleh security pun kembali terjadi. Raga beberapa kali membunyikan klakson hingga akhirnya security itu berlari mendekati mobil tanpa mau membuka gerbang lebih lebar lagi.
"Mau apa..." pertanyaan security itu terhenti kala melihat sosok Gara di samping pria tampan ini.
"Pak tolong buka pintunya. Saya hanya mengantar Gara sesuai perintah Tasha." ujarnya dan security itu pun segera berlari menekan tombol gerbang.
Mobil masuk terparkir rapi. "Gara habis ini langsung istirahat yah? Uncle harus segera kembali untuk kerja. Besok uncle jemput lagi sekolahnya." tutur Raga.
Mendengar hal itu tentu saja Gara sangat senang. Ia tersenyum mengangguk. "Bersama Kak Tasha, Uncle?" tanyanya antusias.
Namun, Raga justru menggelengkan kepala. "Kita berdua saja. Nanti kalau Uncle tidak sibuk baru kita berdua. Kak Tasha juga sedang kerja kan untuk cari uang susu Gara." tuturnya seperti yang di katakan Gara sebelumnya. Jika Tasha memang sangatlah sibuk untuk membeli susunya.
Mengatakan hal itu entah mengapa Raga merasa tersentil hatinya. Sesungguhnya itu adalah tanggung jawabnya. Dan Raga tidak akan membiarkan itu terjadi berlangsung lama.
"Gara akan aku berikan haknya. Tasha tidak boleh menolak ini." gumam Raga membayangkan apa yang harus ia lakukan setelah pulang dari sini.
__ADS_1
Keduanya pun akhirnya berpisah di halaman rumah dengan Indri yang menyambut sang cucu. "Gara, akhirnya pulang juga. Mamah nungguin dari tadi. Tuh ada kue Mamah baru buat loh kesukaan Gara. Dadar gulung." seru Indri memeluk sang cucu memberikan beberapa ciuman di wajah tampan Gara.
"Gar main dengan Uncle tampan, Mah. Wah kue kesukaan Gara? Uncle ayo masuk ikut rasain kue buatan Mamah." ajaknya menarik tangan Raga.
Mendengar itu Raga mematung. Matanya menatap Gara sementara Indri menatapnya bingung. Marah di hatinya mungkin saja sudah menghilang. Namun, sakit yang ia rasakan mengetahui sang anak di hancurkan seperti itu sungguh Indri tak terima sampai saat ini.
Yang ia tahu memang hanya soal Gara dan juga video keduanya tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Uncle kan harus kerja, Gara. Lain kali saja yah Uncle akan sempatkan waktu memakan kue itu." tutur Raga yang sadar jika kehadirannya tentu tidak di terima dengan baik oleh keluarga Tasha.
Mendengar penolakan tersebut, Gara pun hanya bisa menundukkan kepala sedih. Bibirnya maju menandakan sedang kesal.
Ragu rasanya Raga melangkahkan kakinya. Namun, Gara yang mendengar ijin sang nenek segera menarik kuat tubuh besar Raga.
Ketiganya berjalan menuju ke arah meja makan. Di sana sudah terhidang kue kesukaan Gara yang berwarna khas hijau segar itu. Tanpa sabar lagi Gara menggenggam dua sekali gus dan melahapnya dengan tangan keduanya.
"Gara, pelan-pelan Nak." tutur Indri lembut.
__ADS_1
Lagi Raga menatap perlakuan hangat wanita paruh baya di depannya pada anaknya. Sedih terasa saat sadar jika selama ini Gara hidup dengan di kelilingi kasih sayang orang terdekatnya tanpa adanya sosok ayah kandung.
"Di makan, Nak Raga." pintah Indri yang memang sudah tahu nama pria ini.
Pelan Raga mulai mengambil dan melahapnya. Benar kue itu memang sangat enak, lembut manis tidak begitu berlebihan. Meski banyak di temukan di pinggir jalan namun Raga sendiri bisa merasakan perbedaannya.
Beberapa menit mereka menikmati kue hingga akhirnya Indri meminta pelayan untuk membawa Gara ke kamar mengganti baju.
"Apa yang terjadi pada saat itu? Apa anak setampan cucuku tak bisa menyentuh hatimu untuk menjadi pria bertanggung jawab saat itu?" pertanyaan bernada dingin membuat Raga menegakkan tubuhnya yang duduk berhadapan dengan Indri.
Ini adalah kesempatan Raga menjelaskan semuanya, pikirnya.
"Apa anakku begitu hina hingga mendapatkan cemoohan dari orang-orang di sekolah?" Indri tak lagi bisa menahan air mata yang jatuh saat mengingat Tasha berjuang untuk mengambil surat kelulusan di sekolah. Semua menghinanya hingga Tasha pulang ke rumah dengan tubuh yang bahkan tak berbentuk baju putih lagi. Penuh dengan kotoran.
Entah apa yang terjadi saat itu, yang jelas Tasha sampai detik ini masih bungkam dengan semua masalalunya. Ia benar-benar tak sanggup mengeluarkan kata demi kata yang terjadi padanya. Tasha sadar banyak yang ia ikut andil dalam hal hancurnya masa depannya.
"Saya dan Tasha hanya melakukan hubungan itu sekali, Bu. Saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Tasha hanya datang pada saya saat saya belum lulus sekolah menengah. Ia meminta pertanggung jawaban, namun saya mengira jika Tasha hanya menginginkan saya tanpa saya tahu jika ada Gara yang hadir saat itu di dalam rahimnya. Dan saya benar-benar tidak tahu apa pun yang terjadi sebab saya ke luar negeri, Bu..." panjang lebar Raga menjelaskan hingga terjadinya penyebaran video yang ia sendiri tidak tahu dan baru saat inilah Raga tahu siapa dalangnya.
__ADS_1
Keduanya saling berbicara, tak jarang Indri meneteskan air mata kembali mengingat banyak hal yang harus ia lewati bersama sang suami. Hingga proses persalinan yang di buat oleh Firman seprivasi mungkin. Bahkan semua orang tahu jika Gara adalah anak mereka.