Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Ulah Bu Dewi


__ADS_3

Di Singapura, Bu Dewi tampak mendiamkan sang anak sudah berapa hari lamanya. Kepulangan Rafa tanpa membawa Tasha membuatnya kecewa. Berharap beberapa hari di Indonesia Rafa mampu menaklukkan hati Tasha. Entah mengapa ia sudah begitu menyukai Tasha sejak pertama kali bekerja sama. Dan kini ia akan meminta Rafa tetap berusaha sebab ia tahu jika Tasha belum memiliki kekasih.


"Ibu tidak mau tahu, Fa...pokoknya kamu harus kembali ke Indonesia dan bawa Tasha kesini. Kamu kan sudah janji?" tuturnya menatap kesal sang anak.


Rafa menghela napasnya kasar. Pulang dari praktek bukannya di sambut hangat oleh sang ibu, ia justru di marahi. "Bu, sudah berapa kali aku jelaskan? Tasha itu memiliki hidupnya dengan keluarga. Bukan seenak itu di bawa sana sini. Dia punya orang tua dan kerjaan, Bu. Lagi pula mau di bawa ke sini untuk apa sih?" ujarnya heran melihat tingkah sang ibu yang tergila-gila pada wanita.


"Ibu tidak menyukai sesama jenis kan?" akhirnya pertanyaan gila itu muncul juga dari pikiran Rafa dan Bu Dewi yang mendengar sontak membulatkan matanya marah. Bisa-bisanya anaknya sendiri mengatakan itu padanya.


"Siapa memang yang lahirkan kalian semua kalau ibu ini penyuka sejenis? Kamu kalo bicara sembarangan seperti itu." kesal ia pun melangkah meninggalkan sang anak menuju kamarnya.


Rafa pun juga bergegas menuju kamar sendiri untuk membersihkan diri. Ia masih tak ingin memikirkan sang ibu yang tergila-gila pada Tasha. Saat ini pekerjaannya sangat banyak dan Rafa tidak mau hanya karena Tasha yang tidak penting ia harus mengorbankan kerjaannya.


Di kamar, Bu Dewi nampak berbaring lemas. Berbagai cara ia pikirkan sebab cara pertama ternyata masih belum membuahkan hasil.

__ADS_1


"Percuma saja aku menyabotase semua di pabrik bahkan membuat nama perusahaanku tercoreng. Ternyata tidak ada hasilnya. Aku harus memikirkan cara lain. Kalau tidak Rafa bisa jomblo seumur hidup ini." gerutunya.


Frustasi dengan sang anak yang sama sekali tak memikirkan soal jodoh, Rafa terlampau menikmati kerjaannya hingga lupa untuk memikirkan masa depan berkeluarga. Sementara Bu Dewi yang semakin tua tentu tidak akan tenang sebelum anaknya menikah.


Di belahan negara yang berbeda, kini Tasha tengah asik bercerita membacakan sebuah dongeng untuk Gara. Malam ini Gara memilih tidur di kamar sendiri. Ia ingin menikmati liburannya dan tentunya Raga akan lebih leluasa masuk ke kamar itu saat Tasha tidak ada.


Samar terdengar dari luar kamar, Raga mendengarkan suara Tasha yang mendongengkan sang anak. Pelan pun membuka pintu tanpa suara. Matanya mengintip dan tersenyum melihat bagaimana Tasha sangat menyayangi anaknya.


"Kau wanitaku, Sha. Hanya saja kita belum di akui negara dan agama. Aku akan sabar menunggu waktu itu akan tiba." ujar Raga dan kembali ke kamarnya.


"Mau apa kamu?" tanyanya.


"Em...tadinya saya mau nengok Gara, Om. Tapi ada Tasha. Jadi tidak jadi." jawab Raga pelan takut jika terdengar sampai ke dalam.

__ADS_1


Firman memang akan selalu berjaga di vila itu. Ia akan mengawasi pertemuan Tasha dan Raga. "Yasudah, masuk ke kamarmu sekarang sudah sangat malam." pintah Firman yang di patuhi oleh Raga.


Padahal waktu baru menunjuk sepuluh kurang. Yang artinya waktu belum begitu malam. Namun, Raga hanya bisa patuh tanpa membantah. Untuk mendapat restu menikah tentu tidak akan mudah itu sebabnya ia harus berlaku baik pada semua keluarga Tasha.


"Papah?" Tasha pun yang baru keluar nampak kaget melihat sang papah berdiri di depan pintu kamar Gara. Firman sejak tadi masih menatap pintu kamar Raga yang tak jauh dari sana. Ia ingin memastikan benar-benar jika pria itu tidak mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Sha, cepat masuk kamarmu dan kunci pintunya. Jangan begadang." pintah Firman pada sang anak.


Kening Tasha mengerut dalam mendengar ucapan papahnya. "Sudah jangan banyak menatap papah seperti itu. Masuk papah bilang! Dari pada ada curut gatal yang datang lagi." gerutu Firman lirih namun terdengar jelas oleh Tasha.


Tanpa berani membantah, Tasha pun menuju kamarnya di mana pintu kamarnya berhadapan dengan pintu kamar sang papah.


"Pah, dari mana saja?" tanya Indri mendapati sang suami masuk kamar tanpa menutup pintu. "Loh kok pintunya nggak di tutup, Pah?" Indri kembali bertanya sebelum sang suami menjawab pertanyaan pertamanya.

__ADS_1


"Papah mau ronda malam. Mamah tidur saja sudah." ujarnya.


Bukan tak mengerti maksud perkataan sang suami. Indri pun jelas melihat di depan sana adalah kamar sang anak. Ia hanya menghela napas ternyata sifat posesif sang suami yang belum juga hilang di tambah dengan rasa trauma gagal menjaga sang anak. Ia pun tidur tanpa mendapat pelukan sang suami yang saat ini sibuk berbaring menatap pintu di depan sana.


__ADS_2