Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Tidak Untuk Bercerai


__ADS_3

“Gimana keputusan mu? Dia lagi kritis, Raga.” Wanita yang bernama Tia Desiana. Dia adalah gadis yang mengetahui kabar tentang Rizka dari mamahnya Rizka. Inisiatif Tia memberi tahu Raga hanya karena kasihan melihat keadaan Renata. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa justru harus menangisi keadaan sang mamah setiap harinya.


Tia memang tak salah. Raga tentu berhak tahu jika ternyata ia memiliki anak. Namun, semua keputusan ada di tangan pria itu.


“Aku hanya akan bertanggung jawab dengan Renata. Bagaimana pun juga keadaan Rizka saat ini tidak memungkinkan untuk menjaga Renata.” Raga berucap demikian yakin.


Selebihnya semua perkara tentang pernikahan akan Raga usahakan. Meluluhkan hati Gara tentu tak akan semudah yang ia bayangkan.


“Lalu Tasha bagaimana?” Tia kembali bertanya lantaran sangat penasaran.

__ADS_1


“Akan aku usahakan untuk memperbaiki semuanya…” Raga membawa Renata kembali ke ruangan sang mamah. Malam ini ia akan pulang bersama Raga ke rumah Kakek Dahlan. Sebab Raga tak mungkin membawa anak hasil hubungan masa lalunya ke rumah sang mertua.


Melihat kepergian Raga ke dalam ruangan ICU, Tia pun bergegas pergi usai pamitan dengan ibu dari Rizka yang sama sekali tak mengucapkan apa pun dengan Raga. Kemarahannya selama ini tentu saja tak bisa hilang begitu saja.


Sedangkan di sisi lainnya, tepatnya di kediaman milik Firman. Dimana kedua orangtua Raga datang untuk meminta maaf atas apa yang di lakukan sang anak. Bahkan Dahlan sendiri pun sudah mengatakan jika ia telah memberi pelajaran yang mungkin tak akan bisa juga mengembalikan semuanya.


Firman nampak menghela napasnya kasar. “Semua sudah terjadi. Cepat atau lambat ini pasti akan menjadi bom di pernikahan mereka. Sekarang jalan satu-satunya adalah dengan Tasha menerima semua masa lalu itu dan berdamai dengan masa lalu suaminya. Lelaki yang sudah ia pilih.”


“Kami benar-benar telah gagal mendidik anak kami. Saya sekeluarga sangat memohon maaf atas semua yang terjadi saat ini. Saya gagal menjadi ayah.” Berulang kali Dahlan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Melihat itu Firman dan Indri saling pandang tak tega. Mereka pun pernah di posisi ini. Ketika Tasha hamil penyesalan mendalam menjadi orangtua adalah ketika anak mereka gagal mereka didik dengan benar.


“Keputusan pernikahan di kedua anak kita. Sebagai orangtua kita wajib mengarahkan mereka pada pernikahan yang tidak mudah untuk kawin cerai. Sebab hal itu sangat di benci oleh Tuhan. Biarkan saat ini Tasha dan Gara menenangkan pikiran mereka. Dan kita beri kesempatan pada Raga untuk menyelesaikan masalahnya lebih dulu. Kami paham apa yang Pak Dahlan rasakan. Sebab kami pun pernah di posisi ini. Tidak ada yang perlu di sesali selain kita mengambil hikmah dari ini semua.” Kata-kata Firman begitu terdengar bijak.


Jika sebelumnya Dahlan mengira kedatangan mereka kemari mungkin akan di sambut dengan makian dan sumpah serapah. Ternyata tidak. Firman jauh lebih tenang ketika menghadapi masalah anaknya. Sebab pernikahan baginya tak ada kata untuk bercerai. Dan semua keputusan Tasha menerima Raga juga berarti dengan menerima masa lalu suaminya.


Kedua pihak keluarga pun saling berbincang menentukan jalan ke depannya untuk mereka bisa mengarahkan kedua anak masing-masing. Serta pertimbangan tentang anak dari Raga dan Rizka.


Tak ada yang tahu jika di pesawat saat ini Tasha duduk meneteskan air mata meski kedua matanya terpejam. Pikirannya benar-benar kacau. Ia terisak dalam diam takut jika sang anak mengetahui ia sedang menangis di pesawat. Gara begitu lelap dalam tidurnya.

__ADS_1


“Aku menerima semua masa lalu kamu, Ga. Tapi bukan berarti dengan masa lalu kamu yang akan terus mengingatkan aku dengan semua itu ke depannya. Bagaimana mungkin aku hidup berdampingan dengan benih mu yang kini tumbuh besar dari rahim wanita lain?”


__ADS_2