
"Wih.. Ada Boss Arif rupanya" Kata Mardan tiba-tiba disela obrolan Haiden dan Arif.
Arif bangkit dari duduknya untuk menyalami Mardan yang baru saja tiba, sembari bertanya "Apa kabar brother?"
"Baik. Gimana kabarmu?" Balas Mardan sembari balik bertambahnya sebelum duduk disalah satu kursi di taman belakang rumah Haiden itu.
"Baik juga bro" Jawab Arif saat sudah duduk kembali ditempat duduknya.
"Mantap" Kata Mardan menanggapi jawaban Arif.
Setelah menyalami Melani dan Haiden, Mardan berkata "Jumlah foto Copy KTP yang diserahkan masyarakat ke posko kita langsung sudah lebih dari cukup bro", kepada Haiden.
"Bagus. Itu real mereka serahkan secara suka relakan?" Tanya Haiden setelah mendengar laporan dari Mardan.
Mardan tersenyum sebelum menjawab "Real lah bro. Mereka datang sendiri dengan sukarela tanpa kita jemput dan tanpa iming-iming apapun".
Haiden tersenyum, lalu berkata "Bagus. Dengan demikian kita tahu berapa banyak jumlah dukungan pasti kita. Kalau masih kurang untuk menang, kita tinggal atur Strategi untuk menambah dukungan dimasa kampanye nanti".
"Oh iya. Kemarin Presiden telepon aku. Beliau minta aku yang pilih orang untuk menjadi ketua Tim Sukses Nasional. Menurut kalian berdua siapa yang layak jadi ketua Tim Sukses Nasional diantara Marwan, Suherman dan kau sendiri Rif?" Tanya Haiden kepada Arif dan Mardan.
"Kalau aku ga mungkin kayanya bro. Seperti saran kau, aku kan harus banyak istirahat" Jawab Arif.
Haiden terdiam sejenak mendengar jawaban Arif lalu berkata "Iya juga sih".
"Lalu menurut kalian berdua, siapa yang layak jadi ketua Tim Sukses Nasional antara Marwan dengan Suherman?" Tanya Haiden lagi kepada Mardan dan Arif.
"Menurut mami, lebih baik papi tanya dulu ke Marwan dan Suherman. Siap ga mereka jadi ketua Tim Sukses Nasional" Kata Melani kepada Haiden.
"Betul kata Melani bro" Kata Arif mendukung usul Melani.
__ADS_1
Mendengar usul Melani dan dukungan Arif atas usulan Melani barusan, Mardan tersenyum lalu berkata "Kalau ditanya siap atau tidak oleh Haiden, mereka berdua pasti akan menjawab siap. Mana berani mereka mengatakan ga siap".
Haiden tersenyum menatap Melani lalu berkata "Mami dengar apa kata Mardan kan?".
"Itu sebabnya papi ga perlu bertanya lagi kepada mereka berdua. Papi hanya ingin meminta pendapat Arif dan Mardan. Kalau mami punya pendapat, siapa yang layak jadi ketua Tim Sukses Nasional antara Suherman dengan Marwan, katakan saja" Kata Haiden menjelaskan kepada Melani.
Melani tersenyum lalu membalas "Kalau untuk menentukan siapa yang lebih layak diantara Marwan dengan Suherman, Mami bingung Pi. Mereka berdua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing".
"Menurut aku Marwan lebih layak bro. Marwan itu tipikal nya lebih keras dari pada Suherman. Yang kita hadapi bukan kaleng-kaleng nanti" Kata Mardan disela pembicaraan antara Haiden dengan Melani.
"Sebenarnya aku juga berpikir sama seperti kau. Tapi Suherman orangnya lebih cermat dan cerdik dari pada Marwan" Kata Haiden menanggapi ucapan Mardan.
"Dari pada pusing-pusing, aku pikir jadikan saja mereka berdua Ketua dan Wakil Ketua bro. Jadi mereka bisa saling menutupi nantinya" Kata Arif pada Haiden, di sela pembicaraan Mardan dengan Haiden.
"Boleh juga. Tapi siapa Ketua dan siapa Wakilnya bro?" Tanya Haiden menanggapi saran Arif.
"Bebas bro. Yang ku tangkap dari penilaian kalian terhadap Suherman dan Marwan, kwalitas mereka setara sebenarnya. Jadi siapapun yang kau pilih menjadi Ketua itu tidak menjadi masalah lagi, sebab siapapun yang jadi Wakilnya akan mampu membantu siapapun yang menjadi Ketua" Jawab Arif.
Sedangkan Arif tidak bisa menolak ketika Haiden memintanya jadi Ketua Tim Sukses di tingkat Provinsi Sumatera Utara. Mardan dan Gubernur A Cin mempercayakan A Cun sebagai ketua Tim Sukses mereka dalam Pilgub Sumatera Utara.
Meskipun belum ditetapkan menjadi Paslon, setiap bakal Calon Kepala Daerah dan bakal Calon Kepala Negara sudah mulai mempersiapkan Tim Sukses masing-masing. Pencitraan sudah mulai terlihat dimana-mana sebagai kampanye awal non resmi.
Keesokan harinya, Mardan menerima kedatangan keluarga almarhum Anak Buah Kapal yang diduga tidak mendapatkan haknya berupa santunan yang sesuai dengan peraturan pemerintah dari perusahaan tempat almarhum bekerja. Yang datang menghadap ke Mardan di kantor Partai Panca Karya saat ini adalah istri dan putra dari almarhum ABK tersebut.
Di ruang kerja Mardan, istri dan putra almarhum ABK tersebut menyerahkan berkas-berkas yang membuktikan bahwa almarhum benar-benar bekerja di perusahaan kapal tersebut. Nama perusahaan tersebut adalah PT. Naga Laut Berjaya. Tbk.
Dalam berkas-berkas tersebut terdapat surat keterangan kematian almarhum. Selain itu juga terdapat bukti pemberian santunan dari perusahaan sebesar enam juta rupiah.
"Jadi almarhum pak Sukirman meninggal di atas kapal akibat serangan jantung ya bu?" Tanya Mardan memastikan kepada istri almarhum ABK yang bernama Sukirman itu.
__ADS_1
"Iya pak" Jawab istri almarhum Sukirman yang sedang duduk berhadapan dengan Mardan bersama putranya.
"Oke. Jadi apa yang bisa saya bantu bu?" Tanya Mardan lagi kepada istri almarhum Sukirman.
"Biar anak saya saja yang bicara ya pak. Anak saya ini yang lebih paham masalahnya" Jawab istri Sukirman sembari menunjuk putranya.
"Silahkan. Ga ada masalah" Balas Mardan.
Mendengar Mardan mempersilahkannya untuk berbicara, Putra Sukirman berkata "Begini pak. Kami memang sudah menerima santunan dari PT. Naga Terbang Berjaya sebesar enam juta rupiah. Tapi itu tidak sesuai dengan peraturan pemerintah Pak".
Mendengar penjelasan dari putra almarhum Sukirman yang duduk dihadapnnya itu mardan tersenyum lalu bertanya "Kamu kok tahu itu tidak sesuai dengan peraturan pemerintah?".
"Iya pak. Saya sudah melihat peraturan pemerintah di google pak. Menurut peraturan pemerintah, ABK yang meninggal diatas kapal wajib diberi santunan oleh perusahaan minimal sebesar dua ratus juta rupiah bila meninggalnya diluar kecelakaan. Dan bila meninggalnya akibat kecelakaan, maka pihak perusahaan wajib memberi santunan minimal sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah".
Mendengar penjelasan putra dari almarhum Sukirman, Mardan kembali tersenyum. Sebenarnya mardan sudah tahu isi peraturan pemerintah tersebut, dia hanya senang melihat anak muda yang mau tahu tentang peraturan pemerintah seperti putra Sukirman ini.
"Siapa namamu?" Tanya Mardan kepada putra Sukirman.
"Wili pak" Jawab putra Sukirman, menyebutkan namanya.
"Kamu masih sekolah, atau kuliah?" Tanya Mardan lagi.
"Tahun ini saya tamat SMU pak" Jawab Wili.
Mardan mengangguk anggukkan kepalanya sebelum bertanya "Tamat sekolah mau kuliah atau kerja?".
"Saya ingin kuliah pak. Kalau santunan dua ratus juta itu diberikan pihak perusahaan ayah saya, saya bisa langsung kuliah pak. Tapi kalau tidak, ya mau tidak mau saya harus mencari kerja dulu, untuk membiayai kuliah saya pak" Jawab Wili.
Mendengar semua jawaban-jawaban Wili barusan, Mardan tersenyum dan berkata "Oh gitu".
__ADS_1
"Anak ibu dengan almarhum ada berapa?" Tanya Mardan kepada istri Sukirman.
"Tiga pak. Wili ini anak pertama. Dua orang adiknya perempuan. Anak saya yang nomor dua kelas satu SMU, dan yang bungsu kelas dua SMP pak" Jawab istri Sukirman.