SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
PERUSAK CITRA


__ADS_3

Usai sarapan bersama, Haiden bersama Melani dan sahabat-sahabatnya keluar dari Villa. Mereka akan ke pantai Danau Toba bersama para pengawal tanpa mengendarai mobil, alias jalan kaki saja.


Jarak dari Villa ke pantai tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Haiden dan sahabat-sahabatnya ingin berjalan kaki ke pantai itu karena mereka ingin menikmati suasana di area Danau Toba.


Seorang pengawal ditugaskan Haiden untuk merekam Video saat di perjalanan menuju pantai, dan seorang lagi di tugaskan untuk mengambil gambar Foto mereka. Tiga pengawal fokus mengawal di depan Haiden dan sahabat-sahabatnya, dan tiga pengawal lainnya fokus mengawal di belakang Haiden dan sahabat-sahabatnya.


Sebelum tiba di pantai Melani ingin singgah di pasar khusus menjual hasil kerajinan tangan masyarakat Danau Toba. Haiden menuruti keinginan kekasihnya itu.


Medan, Wanti, Suherman, Rina, Marwan, dan Fani juga ikut kedalam pasar untuk melihat-lihat haris karya tangan masyarakat Danau Toba. enam orang pengawal terlihat fokus mengawasi keadaan di luar pasar, sedangkan pengawal yang bertugas merekam video Haiden dan sahabat-sahabatnya.


Pengawal yang bertugas mengambil foto juga terlihat selalu mengambil gambar Haiden bersama Melani dan sahabat-sahabatnya tanpa harus di atur. Melani terlihat senang melihat-lihat barang-barang hasil karya tangan masyarakat Danau Toba yang terlihat cantik-cantik dan unik itu.


Para pedagang tampak ramah melayani Haiden dengan rombongan nya. Wajah ceria terpancar dari pedagang-pedagang ketika Haiden dan sahabat-sahabatnya memutuskan untuk membeli barang-barang yang mereka sukai.


Cukup banyak barang yang dibeli Haiden dan sahabat-sahabatnya. Mulai dari cincin, gelang, kalung, hingga perhiasan untuk dinding dirumah mereka masing-masing.


Kini tugas keenam pengawal Haiden bukan hanya mengawal saja, tapi juga membawa barang-barang yang baru saja di beli oleh Haiden dan sahabat-sahabatnya. Haiden dan sahabat-sahabatnya itu terlihat benar-benar menikmati perjalanan dengan berjalan kaki.


Sesampainya di Pantai, Haiden langsung menyewa pondok di pinggir pantai. Usai meletakkan tas yang berisi pakaian mereka, Haiden dan sahabat-sahabatnya tidak membuang-buang waktu lagi.


Mereka menceburkan diri mereka ke air Danau Toba yang terlihat jernih itu. Wisatawan asing yang sedang mandi-mandi di pantai Danau Toba juga terlihat cukup banyak.


"Sudah lama juga aku ga kesini yank. sudah setahun lebih" Kata Melani kepada Haiden, sembari bermain dengan air Danau Toba.


Haiden tersenyum sebelum membalas ucapan Melani barusan "Aku malah lebih lama dari kamu yank. Terakhir aku kesini SMP kelas tiga".

__ADS_1


Baru saja Haiden membalas ucapan Melani tiba-tiba Haiden dengan Melani dan sahabat-sahabatnya mendengar keributan di pinggiran pantai. Mereka melihat ada yang sedang adu jotos.


Haiden segera berlari mendekati kedua pemuda yang sedang terlibat adu jotos itu. Saat salah seorang pemuda yang terlibat adu jotos itu hendak memukul lawannya yang dalam posisi jongkok, Haiden sempat menahan tinjunya.


"Apa-apaan kalian ini" Kata Haiden saat tangan kirinya mencengkram tinju tangan kanan pemuda yang akan memukul lawannya itu.


Tubuh pemuda itu penuh dengan tatto, hingga di kedua tangannya. Wajahnya cukup terlihat bengis saat menatap wajah Haiden.


"Siapa kau, berani ikut campur urusan orang" Kata pemuda bertatto itu setelah Haiden melepas cengkraman tangannya dari tinju pemuda bertatto itu.


Lawan pemuda bertatto itu berdiri dari jongkok nya sebelum berkata pada Haiden "Dia minta uang sama kami bang. Uang keamanan katanya".


"Benar yang di katakan nya?" Tanya Haiden pada pemuda bertatto yang hanya mengenakan kaus kutang dan celana ponggol itu.


"Kau tahu, kelakuan kau ini bisa merusak citra Danau Toba, dan juga membuat wisatawan ga nyaman. Baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing" Kata Haiden ke pada pemuda bertatto itu.


Mendengar ucapan Haiden, pemuda bertatto itu tertawa lalu berkata "Itu bukan urusan aku dan bukan urusan kau".


"Aku hanya melakukan tugas aku untuk mengutip uang keamanan dari semua pendatang di Danau Toba ini, termasuk kau" Kata pemuda bertatto itu lagi kepada Haiden.


Belum sempat Haiden membalas ucapan pemuda bertatto itu, tiba-tiba sepuluh orang pemuda datang menghampiri Haiden dan berdiri dibelakang pemuda bertatto yang sedang berbicara dengan Haiden. Ternyata pemuda bertatto itu tidak sendirian.


"Ramai rupanya bro" Kata Mardan yang berada di belakang Haiden bersama Melani, Wanti, Suherman, Rina, Marwan dan Fani.


Delapan orang pengawal Haiden berpura-pura tidak tahu, karena memang mereka tidak boleh melakukan apa-apa sebelum ada perintah dari Haiden. Itu peraturan yang dibuat oleh Haiden.

__ADS_1


Berbeda dengan tugas pengawal yang di tugaskan nya untuk mengawal Melani saat Melani tidak bersamanya. Mereka harus bergerak lebih cepat dari bahaya yang akan menimpa Melani.


"Kau tenang saja. Kau bawa yang lainnya agak jauh kebelakang. Jaga Melani dan lainnya sekarang" Kata Haiden pada Mardan.


"Aku disini saja bantu kau" Balas Mardan.


"Ga usah. Kau bawa aja Melani dan yang lainnya kebelakang bersama pengawal" Kata Haiden lagi kepada Mardan.


Setelah Mardan mengajak Melani, Wanti dan sahabat-sahabatnya mundur kebelakang menjauh darinya, Haiden berkata pada pemuda-pemuda bertatto itu "Lebih baik kalian hentikan perbuatan pungli kalian dan pergi dari sini sekarang".


Ucapan Haiden itu di sambut dengan tawa oleh sebelas orang pemuda bertatto itu. Usai tertawa, pemuda yang terlibat adu jotos tadi berkata pada Haiden "Besar sekali nyali mu ya".


"Sudah kubilang lebih baik kalian hentikan pungutan liar kalian, dan pergi dari sini. Menyesal kemudian ga ada gunanya" Kata Haiden lagi sembari tersenyum.


Mendengar ucapan Haiden, salah seorang dari sebelas pemuda bertatto itu tiba-tiba menyerang Haiden, setelah pemuda bertatto yang terlibat adu jotos tadi mengatakan "Maju Jok", kepadanya.


Saat tinju pemuda bertatto yang bernama Joko itu akan mendarat di wajah Haiden, dengan cepat Hain menghindar ke samping kiri, kemudian melayangkan pukulan ke rusuk pemuda bertatto itu. Haiden hanya mengeluarkan.sepuluh persen kekuatan tangan besi nya, sehingga pemuda tersebut hanya jatuh tersungkur ketanah tanpa meremukkan tulangnya.


Meski hanya menggunakan sepuluh persen dari kekuatan tangan besi nya, tapi pemuda bertatto itu tetap merasakan sakit yang cukup membuatnya merintih di tanah. Melihat teman mereka tergeletak di tanah sambil merintih kesakitan, sepuluh pemuda bertatto lainnya langsung menyerang Haiden bersamaan.


Haiden bergerak dengan cepat menghindari setiap serangan dari sepuluh orang pemuda bertatto itu. Dengan cepat pula dia mampu menyerang balik.


Bukan sulap bukan sihir, dalam sekejap mata sepuluh orang pemuda bertatto itu sdah menyusul temannya yang sudah tergeletak di tanah terlebih dahulu. Kini sebelas pemuda bertatto itu sama sama merintih kesakitan di tanah.


Semua wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing terpukau melihat aksi Haiden seorang diri yang mampu melumpuhkan sebelas pemuda bertatto itu dengan cepat. Haiden diberi hadiah tepuk tangan oleh seluruh wisatawan yang melihat aksi Haiden tadi.

__ADS_1


__ADS_2