
"Tenang Cun. Aku sudah introgasi mereka. Sekarang aku minta kau cari tahu, benar atau tidak mereka ini hanya pemuda setempat di Air Bersih, yang tidak pernah terlibat dengan organisasi manapun" Kata Mardan kepada A Cun.
Mendengar ucapan Mardan kepadanya, A Cun langsung berhenti mengomeli keempat pemuda yang masih dalam keadaan terikat di kursi masing-masing itu.
"Siap ketua. Siapa nama mereka berempat ketua?" Tanya A Cun kepada Mardan.
"Alwi, Danu, Raden dan Feri" Jawab Mardan.
Setelah menerima nama beserta alamat lengkap keempat pemuda yang nyaris menculik istri dan anak-anak Mardan, A Cun langsung bergegas meninggalkan perumahan khusus pengawal Haiden untuk melaksanakan perintah ketua partai nya.
Mardan meminta Irwandi dan anggota nya untuk tetap menjaga keempat pemuda itu sebelum ia pergi meninggalkan perumahan khusus pengawal Haiden, dan langsung ke rumah sakit Amir Hamzah untuk melihat keadaan Fadil.
Tiba dirumah sakit Amir Hamzah, Mardan langsung masuk kedalam kamar pasien yang di isi oleh Fadil setelah dia bertanya kepada perawat jaga. Fadil sudah dalam keadaan sadar saat Mardan tiba dikamar Fadil.
"Bagaimana keadaanmu Dil?" Tanya Mardan kepada Fadil yang masih terbaring ditempat tidur pasien dengan infus ditangan kirinya.
"Agak mendingan ketua" Jawab Fadil dalam keadaan masih terlihat lemah.
"Terima kasih banyak, karena kau benar-benar berani menjaga istri dan anak-anak ku ya" Kata Mardan kepada Fadil.
"Sudah kewajiban saya ketua" Balas Fadil sembari tersenyum.
Mardan membalas senyum Fadil dengan senyuman juga, sebelum berkata "Nanti ada hadiah buat kau. Sekarang yang terpenting kau sembuh dulu".
"Oh iya, Orang tuamu sudah di hubungi?" Tanya Mardan kepada Fadil.
"Tadi sudah saya telepon ketua. Ga tahu sudah jalan kesini atau belum" Jawab Fadil.
Mardan tersenyum lalu berkata "Syukurlah. Maaf, aku ga bisa lama-lama Dil, masih ada yang harus ku kerjakan".
"Ini uang kau kasihkan ke orang tuamu nanti, buat pegangan selama jaga kau ya" Kata Mardan kepada Fadil sembari memberikan sejumlah uang ketangan Fadil.
Fadil menerima uang tersebut sembari tersenyum berkata "Terima banyak ketua".
Mardan tersenyum sebelum berkata "Sama-sama. Cepat sembuh kau ya".
"Oh iya ketua. Bagaimana keadaan ka Wanti dan anak-anak?" Tanya Fadil kepada Mardan.
__ADS_1
"Mereka baik-baik saja. Ini aku mau jemput mereka di rumah ketua Haiden" Jawab Mardan.
Fadil tersenyum lalu berkata "Syukurlah".
"Keempat orang itu bagaimana ketua?" Tanya Fadil lagi.
"Mereka ada di perumahan khusus pengawal ketua Haide. Sudah, kamu ga usah banyak berpikir dulu. Fokus terhadap kesembuhan mu saja dulu" Jawab Mardan.
"Siap ketua" Kata Fadil menanggapi jawaban Mardan.
Pulang kerumah, Haiden yang baru saja mendengar cerita dari Wanti langsung menghubungi Mardan lewat Handphone nya.
"Hallo. Di mana kau bro?" Tanya Haiden saat terhubung dengan Mardan.
"Lagi di rumah sakit, lihat keadaan si Fadil" Jawab Mardan, terdengar di Handphone Haiden.
"Oh. Bagaimana keadaannya?" Tanya Haiden menanggapi jawaban Mardan.
"Sudah mendingan lah" Jawab Mardan yang masih berada di kamar Fadil.
"Jam berapa kau jemput Wanti dan anak-anak mu?" Tanya Haiden, terdengar di Handphone Mardan.
"Oh, ya sudah. Kutunggu kalau gitu" Kata Haiden sebelum menutup pembicaraannya dengan Mardan lewat Handphone nya.
Usai menutup Handphone nya, Mardan berkata "Ya sudah. Aku gerak dulu ya. Ingat, fokus dengan kesembuhan mu. Ga usah banyak berpikir" kepada Fadil.
"Iya ketua" Kata Fadil membalas ucapan Mardan.
Setelah itu, Mardan langsung meninggal kan rumah sakit Amir Hamzah menuju rumah Haiden untuk menjemput istri dan anak-anak. Di perjalanan menuju rumah Haiden, Mardan masih kepikiran kira-kira siapa orang yang ingin menculik istri dan anak-anak nya.
Di Air bersih, Usai menyelidiki orang-orang yang berusaha menculik istri dan anak-anak Mardan melapor kepada Mardan melalui Handphone nya.
"Hallo ketua" Kata A Cun saat terhubung dengan dengan Mardan.
"Iya gimana Cun?" Tanya Mardan, terdengar di Handphone A Cun.
"Mereka cuma preman setempat ketua. Mereka yang paling disegani di daerah sini karena keberaniannya. Dan mereka memang tidak pernah ikut dalam organisasi apapun" Jawab A Cun.
__ADS_1
"Oke kalau begitu. Terima kasi ya" Kata Mardan kepada A Cun sembari tetap fokus menyetir mobilnya.
"Sama-sama ketua. Ada perintah lagi ketua?" Balas A Cun sembari bertanya, terdengar di Handphone Mardan.
"Untuk urusan di Air Bersih ga ada lagi. Coba kau hubungi si Jimmy, sudah selesai belum dia buat laporan kasus Anak Buah Kapal PT. Naga Terbang Berjaya itu" Jawab Mardan.
"Siap ketua" Kata A Cun menanggapi perintah Marah kepadanya.
Usai menutup pembicaraan dengan Mardan lewat Handphone nya, A Cun langsung menghubungi Jimmy. Sedangkan Mardan tetap fokus menyetir mobilnya menuju rumah Haiden.
Tiba di rumah Haiden, Mardan langsung menemui anak-anak dan Wanti yang terlihat sedang asyik ngobrol dengan Fani, Rina dan Melani di ruang tamu.
Usai menciumi anak-anak nya yang sedang bermain dengan anak-anak Fani, Rina dan Melani, Mardan bertanya "Haiden mana?" kepada Melani.
"Di taman belakang tu" Jawab Melani.
"Sama siapa dia?" Tanya Mardan lagi.
"Sendiri" Jawab Melani.
"Oh, ya uda aku kebelakang dulu ya Ma, Mel, Fan, Ri" Kata Mardan kepada Wanti, Melani, Fani dan Rina sebelum bergegas ke taman belakang rumah Haiden.
Tiba di taman belakang rumah Haiden, Mardan melihat Haiden sedang menikmati sebatang cerutu sambil duduk santai. Di mejanya terlihat secangkir kopi yang sudah tidak penuh lagi.
"Baru beli cerutu bro?" Tanya Mardan kepada Haiden sembari duduk berhadapan dengan Haiden.
Haiden tersenyum lalu menjawab "Ga beli. Aku di kasih Presiden Purwanto".
"Itu ada lagi, kalau kau mau" Kata Haiden kepada Mardan, menawarkan beberapa batang cerutu yang masih berada dalam kotak diatas meja.
Mardan langsung mengbil sebatang cerutu di atas meja itu, dan langsung membakar nya saat sudah di mulutnya. Setelah beberapa kali menghisap cerutunya, Mardan bertanya "Sudah cerita si Wanti tadi dia hampir di culik?" kepada Haiden.
"Sudah. Gi mana dengan orang-orang yang mau menculik Wanti dan anak-anak kau itu?" Jawab Haiden sembari bertanya balik kepada Mardan.
"Mereka berempat masih kutahan dalam salah satu rumah di perumahan khusus pengawal mu. Menurut pengakuan mereka berempat, mereka dibayar untuk menculik Wanti dan anak-anak ku oleh orang yang tidak mereka kenal sama sekali. Wajahnyapun mereka ga tahu" Jawab Mardan.
Haiden mengernyit kan dahinya sembari bertanya "Kok bisa gitu?".
__ADS_1
"Kata mereka, saat mereka sedang nongkrong di kampung mereka di jalan Air Bersih, tiba-tiba mereka didatangi beberapa orang yang memakai masker. Mereka ditawarin sejumlah uang untuk menculik Wanti dan anak-anak ku" Jawab Mardan.
"Jadi kok mau saja mereka disuruh orang yang tidak mereka kenal?" Tanya Haiden lagi usai mendengar penjelasan Mardan.