SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
KEPERCAYAAN 5


__ADS_3

"Apa yang bisa saya bantu pak?" Tanya Manager Sugeng kepada Kurnia yang di duduk dihadapan nya.


"Saya di utus Partai Panca Karya untuk menyampaikan surat Somasi ini ke pihak perusahaan anda" Jawab Kurnia.


Mendengar jawaban Kurnia barusan, Manager Sugeng mengernyitkan dahi sebelum kembali bertanya "Surat Somasi masalah apa ya pak?".


"Masalah uang santunan kepada keluarga almarhum pak Sukirman". Jawab Kurnia.


Belum sempat Manager Sugeng membalas jawaban Kurnia, seorang OB masuk ke ruang kerja Manager itu sembari membawa dua gelas kopi panas dia berkata "permisi".


Manager Sugeng hanya mengangguk sebagai kode mengijinkan OB tersebut masuk untuk meletakkan dua gelas kopi panas itu diatas meja kerjanya. Setelah meletakkan kedua gelas kopi tersebut dihadapan Manager Sugeng dan Kurnia, OB tersebut langsung meninggalkan ruang kerja Manager nya itu.


"Silahkan di minum kopinya pak" Kata Manager Sugeng kepada Kurni.


Kurnia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, lalu mengangkat kopi tersebut dan meminum nya. Manager Sugeng juga melakukan hal yang sama secara bersamaan.


Usai meminum kopinya, Manager Sugeng berkata "Uang santunan almarhum pak Sukirman sudah kami serahkan langsung kepada istri almarhum pak".


"Mendengar ucapan Manager Sugeng barusan, Kurnia tersenyum lalu membalas "Kami sudah tahu kalian sudah memberitakan santunan sebesar enam juta rupiah. Tapi itu tidak sesuai dengan haknya".


"Kami sudah menunaikan kewajiban kami sebagai pihak perusahaan kepada keluarga almarhum pak Sukirman pak" Kata Manager Sugeng kepada Kurnia.


Kurnia kembali tersenyum lalu membalas "Saya tidak tahu apakah anda benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, tetap akan saya beritahu kan kepada anda bahwa menurut peraturan pemerintah Anak Buah kapal yang meninggal di atas kapal akibat kecelakaan wajib diberi santunan oleh pihak perusahaan sebesar minimal dua ratus lima puluh juta rupiah".


"Dan bila Anak Buah Kapal meninggal di atas kapal bukan karena kecelakaan, maka pihak perusahaan wajib memberi santunan sebesar minimal dua ratus juta rupiah" Kata Kurnia lagi menjelaskan kepada Manager Sugeng.


Wajah Manager Sugeng tampak pucat ketika mendengarkan penjelasan Kurnia. Sebenarnya dia juga sudah tahu soal peraturan pemerintah tersebut.


Hanya saja pihak perusahaan memang enggan menunaikan kewajiban mereka sesuai dengan peraturan pemerintah saat ini. Manager Sugeng tidak berani membalas ucapan Kurnia karena takut salah ngomong.

__ADS_1


"Jadi begini pak Sugeng. Surat Somasi yang saya bawa ini anda terima, kami menunggu jawaban dari pihak PT. Naga Terbang Berjaya, paling lama besok sore sesuai jam yang terlampir didalam surat Somasi ini" Kata Kurnia kepada Manager Sugeng sembari memperlihatkan amplop berisikan surat Somadi yang ada di tangan kanannya.


"Baik lah pak Kurnia. Nanti saya sampaikan suratnya ke Direktur saya" Kata Manager Sugeng menanggapi ucapan Kurnia.


Setelah menyerahkan surat Somasi tersebut, Kurnia langsung beranjak meninggalkan kantor PT. Naga Terbang Berjaya. Di perjalanan Kurnia menghubungi Jimmy untuk melaporkan bahwa surat Somasi dari Partai Panca Karya untuk PT. Naga Terbang Berjaya sudah diserahkan langsung kepada Manager PT. Naga Terbang Berjaya.


Setelah menerima laporan dari Kurnia melalui telepon, Jimmy langsung menghubungi Mardan untuk melaporkan hal yang sama sesuai apa yang dikatakan Kurnia kepadanya tadi.


"Bagus. Kalau besok tidak ada jawaban dari mereka, langsung buat laporan" Kata Mardan kepada Jimmy lewat Handphone nya, usai mendengar laporan dari Jimmy.


"Siap ketua" Kata Jimmy membalas ucapan Mardan, terdengar di Handphone Mardan.


Usai menutup pembicaraan dengan dengan Jimmy melalui Handphone nya, Mardan kembali melanjutkan pembicaraan dengan A Cun dan Gubernur A Cin. Gubernur A Cin dan Mardan meminta A Cun segera membentuk kepengurusan Tim Sukses Gubernur A Cin dengan Mardan.


"Menurut saya, untuk Tim Sukses Sumatera Utara kita ambil juga dua tiga orang dari masing Kabupaten Kota ketua" Kata A Cun kepada Mardan.


"Aku dengan Gubernur A Cin ini ibarat pengantin, dan kau ketua Event Organizer nya. Kau konsep semua, setelah kau konsep baru kau sampaikan kepada kami, agar kami tahu sudah sesuai atau belum untuk berlangsung" Kata Mardan lagi.


"Iya, benar yang dikatakan ketua Mardan Cun. Ide kau untuk merangkul masyarakat dari masing-masing Kabupaten Kota itu cukup bagus, tapi kau rangkul yang memiliki pengaruh di daerahnya" Kata Gubernur A Cin kepada adiknya A Cun.


"Baiklah kalau begitu" Kata A Cun menanggapi ucapan Mardan dan Gubernur A Cin, sembari tersenyum.


"Oh iya. Di dalam Tim Sukses yang kau bentuk jangan ada kader Partai Panca Karya. Biarkan Partai Panca Karya bekerja diluar Tim yang kau bentuk" Kata Mardan kepada A Cun.


Mendengar ucapan Mardan barusan, A Cun mengernyitkan dahi sebelum membalas dengan melontarkan pertanyaan "Berarti Tim Sukses dan Partai Panca Karya bekerja masing-masing saja?


"Iya. Tapi bukan berarti tidak bisa bekerja sama" Jawab Mardan.


"Oke, siap ketua" Kata A Cun menanggapi jawaban Mardan.

__ADS_1


"Di Kesawan ada satu ruko ku. Kau pakai saja itu untuk Sekretariat Tim Sukses yang kau bentuk" Kata Mardan kepada A Cun.


"Ya baru ketua beli kemarin?" Tanya A Cun.


"Iya. Kok tahu kau?" Jawab Mardan sembari bertanya balik ke pada A Cun.


"Tahulah ketua. Tadinya itu rumah tante istri saya ketua" Jawab A Cun cengengesan.


"Loh kok ga bilang-bilang kau, kalau itu rumah tantenya istri mu?" Tanya Mardan usai mendengar penjelasan A Cun.


A Cun tersenyum sebelum menjawab "Saya juga tahunya setelah ruko itu terjual. Tante istri saya cerita, yang membeli rukonya Ketua Mardan".


"Oh gitu. Ya sudah, besok diserahkan kuncinya ke kau. Tinggal kau dekorasi lah itu menjadi rumah pemenang kami" Kata Mardan ke pada A Cun.


Di taman belakang rumah Haiden, Suherman dan Marwan tampak serius sedang berbicara dengan Haiden yang meminta mereka berdua untuk menjadi ketua dan wakil ketua Tim Sukses nya bersama Presiden Purwanto. Suherman sebagai ketua sedangkan Marwan sebagai wakil ketuanya.


"Ga keberatan kalian berdua kan?" Tanya Haiden kepada Suherman dan Marwan.


Mendengar pertanyaan Haiden barusan, Suherman dan Marwan saling bertatap muka sebelum Marwan menjawab "Perlu kami jawab pernyataan kau itu bro?".


"Iya. Apa mungkin kami keberatan dengan permintaan kau tadi?" Kata Suherman kepada Haiden sembari bertanya balik kepada Haiden.


Haiden tersenyum melihat respon kedua sahabatnya itu lalu berkata "Yakin kalian sanggup?".


"Aku bertanya pada kalian dulu, karena aku tahu kesibukan kalian" Kta Haiden lagi melanjutkan ucapannya.


Suherman tersenyum sebelum membalas ucapan Haiden "Ya sanggup lah bro. Apa lagi kami berdua yang memimpin".


"Urusan di perusahaan juga tetap bisa terkontrol lah. Karyawan kita kan profesional semua" Kata Suherman lagi.

__ADS_1


__ADS_2