SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
BUNIAN 2


__ADS_3

"Pak Narso....! Pak Narso....! Pak Narso....!" Teriak Haiden berulang ulang kali menyebut nama pak Narso, terdengar menggema.


Bukannya pak Narso, yang terlihat muncul dari bali belukar malah seekor Harimau yang cukup besar. Ketika saling bertatapan dengan Haiden, Harimau tersebut mengaum dengan suara yang menggelegar.


Haiden mencoba untuk menenangkan perasaan nya ketika melihat Harimau itu mengaum dengan suara yang sangat menakutkan. Haiden berdiri tegak menatap mata tajam Harimau itu, meski detak jantung nya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Sembari tetap menatap Haiden dengan tatapan buas, Harimau itu melangkah mendekati Haiden. Haiden mencoba tetap tenang tetap berudiri tegak sembari memperhatikan langkah Harimau itu dan tiba-tiba Harimau itu melompat tinggi untuk menerkam Haiden.


Haiden menghindar dengan cepat kemudian berbalik badan. Haiden melihat Harimau itu masih dalam posisi membelakanginga lalu berbalik badan perlahan.


Saat saling berhadapan dengan Harimau itu, Haiden mengumpulkan seluruh tenaganya ke kedua tangannya. Tanpa di sadarinya tubuh Haiden memerah dan mengeluarkan asap dari pori-porinya.


Mata Haiden terlihat memancarkan cahaya yang cukup terang. Melihat hal tersebut, Harimau itu mundur beberapa langkah lalu kembali melompat tinggi untuk menerkam Haiden.


Kali ini Haiden tidak menghindari serangan Harimau tersebut. Dengan tenaga maksimal Haiden melancarkan tinjunya ke arah dada Harimau yang tengah meluncur kearahnya.


Terkena pukulan Haiden, tubuh Harimau yang cukup besar itu terpental beberapa meter. Saat menapak di tanah, Harimau itu meraung dengan suara yang lebih menggelegar dari sebelum nya.


Haiden tidak lagi diam menunggu serangan Harimau itu. Dia berlari beberapa langkah lalu melompat tinggi di udara kemudian meluncur kearah Hariau tersebut dengan Posisi kepala dibawah kaki di atas.


Saat sudah mendekati tubuh Hai di mau itu, Haiden melepaskan pukulan tangan besi nya tepat di kepala Hari mau itu. Seketika Harimau itu terlihat sempoyongan sebelum ambruk tergeletak di rerumputan liar dalam hutan rimba tersebut.


Haiden mendekati tubuh Harimau yang terliaht sudah tidak sadarkan diri akibat pukulan nya itu. Haiden mengernyitkan dahinya saat melihat dada dan kepala Harimau yang terlihat tidak terluka oleh pukulannya.


"Aku sudah menggunakan kekuatan penuh untuk memukul Harimau ini, tapi mengapa tidak berbekas sedikit pun?" Tanya Haiden dalam hatinya.


Ketika Haiden menyentuh kepala Harimau itu, tepat dimana dia memukul nya tadi tiba-tiba hal aneh terjadi. Tubuh Harimau tersebut berubah menjadi gumpalan cahaya yang cukup menyilaukan.

__ADS_1


Gumpalan cahaya itu terbang tak tentu arah di sekitar Haiden sebelum tiba-tiba menyerang tubuhnya. Gumpalan caya itu bukan melukai Haiden, melainkan masuk kedalam tubuh Haiden.


Tubuh Haiden terlihat memancarkan cahaya dan perlahan terangkat sendiri melayang di udara setinggi dua meteran. Haiden merasa tubuhnya di penuhi kekuatan yang sulit dia gambarkan dalam benaknya.


Perlahan seluru tatto di belakang tubunya terlihat menghilang dan berubah menjadi gambar Harimau dengan posisi seperti akan menyerang mangsanya. Tubuh Haiden mulai bergetar kencang dan tiba-tiba dengan mata terpejam Haiden mengaum bagaikan seekor Harimau buas.


Suara umannya menggema begitu besar sehingga terlihat pohon-pohon disekitar Haiden bergoyang dan membuat banyak daun yang berguguran dari pohon-pohon itu.


Cahaya di tubuh mulai meredup sembari tubuhnya perlahan turun hingga kembali menapakkan kakinya ketanah. Dengan mata tetap terpejam Haiden duduk bersila di tanah.


Saat Haiden membuka matanya, ternyata dia sudah berada lagi di dalam salah satu kamar pak Narso. Pak Narso ada di belakang Haiden masih menempelkan tangan kanannya di atas kelapa Haiden, dan tangan kirinya menempel di tengkek Haiden.


Sembari melepaskan tangannya dari kepala dan tengkuk Haiden, pak Narso berkata "Selamat datang kembali nak Haiden".


Masih dalam posisi duduk bersila membelakangi pak Narso Haiden bertanya "Apakah saya baru saja bermimpi pak?".


Pak Narso tersenyum sebelum menjawab "Kamu bukan bermimpi. Kamu baru saja kembali dari dimensi lain. Dimensi buyutmu Linggasana".


Sebelum pak Narso menjawab, Haiden berdiri lalu kembali duduk berhadapan dengan dengan pak Narso.


"Orang menyebutnya dunia Bunian. Dunia yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia umumnya" Jawab pak Narso.


Haiden kembali mengernyit kan dahinya mendengar penjelasan pak Narso, lalu kembali bertanya "Artinya manusia yang hidup abadi tanpa wujud itu bukan hanya buyut Linggasana?"


"Benar sekali. Di Dunia Bunian juga terdapat berbagai macam makhluk hidup yang hidup abadi abadi tanpa wujud yang dapat dilihat dengan mata manusia umumnya, termasuk Hewan dan Tumbuhan" Kata pak Narso menjawab pertanyaan Haiden.


"Berarti Harimau yang saya hadapi tadi, itu Hewan Bunian?" Tanya Haiden kepada pak Narso.

__ADS_1


Pak Narso tersenyum lalu menjawab "Benar sekali. Dan sekarang Harimau Bunian itu sudah menyatu dengan jiwa raga mu nak Haiden".


Haiden terkejut seakan tak percaya mendengar ucapan pak Narso. Seketika Haiden berkata "Apa?" usai mendengar jawaban pak Narso lagi.


"Semua tatto di punggung nak Haiden berubah menjadi gambar Harimau itu sekarang. Nanti nak Haiden bisa lihat sendiri di cermin" Kata pak Narso lagi kepada Haiden.


"Apakah saya saat ini bisa keluar masuk Dunia Bunian kapanpun saya mau?" Tanya Haiden kepada pak Narso.


Pak Narso tersenyum lalu menjawab "Belum. Tahap terakhir nanti nak Haiden baru bisa keluar masuk Dunia Bunian, kapanpun nak Haiden mau".


"Tapi, kekuatan Harimau Bunian itu sudah menyatu dengan nak Haiden saat ini. Penciuman, pendengaran, dan kecepatan berlari nak Haiden kini tiga kali lipat dari kemampuan Harimau biasa" Kata pak Narso melanjutkan penjelasannya.


"Benarkah pak?" Tanya Haiden seakan belum bisa percaya dengan penjelasan pak Narso.


"Nak Haiden bisa membuktikan nya sendiri nanti. Gunakan kekuatan nak Haiden dijalan yang bener ya" Jawab pak Narso sembari berpesan pada Haiden.


Pukul tiga pagi, Haiden dan Pak Narso keluar dari salah satu kamar pak Narso itu. Haiden melihat dua orang pengawalnya sedang asyik mengobrol diruang tamu, sedangkan yang dua orang lagi tertidur pulas.


"Ayo kita pulang" Kata Haiden kepada kedua pengawalnya terlihat sedang mengobrol.


"Siap tuan besar" Balas kedua pengawal Haiden itu.


Salah seorang pengawal Haideb itu langsung membangunkan kedua temannya yang tertidur. Setelah keduanya bangun, Haiden dan keempat pengawal Haiden berpamitan dengan pak Narso.


Pak Narso mengantar Haiden dan para pengawalnya keluar dari dalam rumah. Di bangku depan rumah pak Narso, empat orang pengawal Haiden lainnya terlihat sedang mengobrol.


"Ayo kita pulang" Kata Haiden lagi kepada empat orang pengawalnya yang berjaga di depan rumah pak Narso.

__ADS_1


"Siap tuan besar" Kata keempat pengawal itu nyaris bersama sebelum berpamitan dengan pak Narso.


Setelah mobil Haiden beserta dua mobil pengawalnya sudah tidak terlihat olehnya lagi, barulah pak Narso masuk kembali ke dalam rumahnya.


__ADS_2