SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
PENJAJAHAN TERHADAP BANGSA SENDIRI HARUS DI HAPUS KAN


__ADS_3

Tampaknya rival Gubernur A Cin dengan Mardan nantinya juga cukup banyak. Banyak bakal calon Gubernur Sumatera Utara yang sudah membentuk Tim Sukses untuk mengumpulkan KTP sebagai dukungan buat mereka mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara.


Di berbagai daerah sudah tercium bau politik uang. Banyak Tim Sukses dari para Bakal Calon yang menawarkan uang demi mendapatkan foto copy KTP kepada masyarakat.


Pemilihan serentak mulai dari pemilihan anggota Legislatif, Bupati, Walikota, Gubernur hingga Presiden yang akan datang sepertinya akan sangat panas. Sebab Oligarki akan sangat berusaha untuk berkuasa kembali. Haiden belum bisa melihat siapa saja calon-calon yang di usung oleh Oligarki.


Haiden memiliki rencana untuk merangkul calon-calon anggota Legislatif dan calon-calon kepala daerah yang bukan di usung oleh Oligarki. Bahkan diam-diam Haiden juga menyelidiki siapa pemimpin dari Oligarki di Indonesia saat ini.


Untuk menemukan dalang dari Oligarki ini, Haiden menyadari tidak mudah. Karenanya dia tetap meminta bantuan dari Kapolri Sulistyo.


Saat Haiden sedang berpikir kerasa mencari jalan untuk menemukan dalang dari Oligarki di ruang kerjanya dalam gedung Admadja Grup Sumatera Utara, terlintas pikiran untuk menghubungi Kapolri Sulistyo melalui Handphone nya.


"Hallo Om" Kata Haiden saat tersambung dengan Kapolri Sulistyo.


"Iya Hallo Den. Apa cerita?" Balas Kapolri Sulistyo yang saat ini berada di Mabes Polri.


"Om tahu siapa dalang dari Oligarki?" Tanya Tanya Haiden, terdengar di Handphone Kapolri Sulistyo.


Kapolri Sulistyo tertegun sejenak mendengar pertanyaan Haiden, sebelum menjawab "Tidak ada yang tahu pasti siapa dalang dari Oligarki saat ini. Om hanya bisa menduga".


"Dugaan Om, dalang Oligarki saat ini adalah dalang generasi ketiga. Generasi pertama sudah meninggal tahun 2027 dan dalang generasi kedua sudah meninggal juga tahun 2030" Kata Kapolri Sulistyo lagi, terdengar di Handphone Haiden.


Haiden mengernyitkan dahinya lalu bertanya "Siapa dia Om?".


"Dia seorang Jenderal Purnawirawan TNI. Jenderal AP" Jawab Kapolri Sulistyo.


"Jenderal AP yang dulu pernah jadi Panglima TNI itu Om?" Tanya Haiden lagi setelah mendengar jawaban Kapolri Sulistyo.

__ADS_1


"Iya. Dugaan Om dia yang menjadi dalang Oligarki saat ini" Jawab Kapolri Sulistyo lagi, terdengar di Handphone Haiden.


"Lantas siapa dalang Oligarki generasi pertama dan kedua Om?" Tanya Haiden lagi.


"Dalang Oligarki generasi kedua adalah almarhum Jendral HP, mertua dari Jendela AP. Dan dalang Oligarki generasi pertama, dia adalah Jenderal TS, Senior dari Jenderal Hp" Jawab Kapolri Sulistyo sebelum meminum kopi yang baru saja diangkat dari meja kerjanya.


"Jenderal TS mantan Wakil Presiden di jaman Orde Baru itu Om?" Tanya Haiden, terdengar di Handphone Kapolri Sulistyo.


"Iya" Jawab Kapolri Sulistyo.


"Ngomong-ngomong kenapa kok tiba-tiba kamu ingin tahu siapa dalang Oligarki Den?" Tanya Kapolri Sulistyo.


Mendengar pertanyaan anak angkat kakeknya itu, Haiden bangkit dari kursi kerjanya lalu berkata "Kita harus membubarkan Oligarki Om" sembari berjalan menuju sofa yang ada diruang kerjanya.


"Kalau Oligarki tidak kita bubarkan maka selamanya para pengkhianat bangsa itu akan terus berusaha menjajah kita, saudara mereka sendiri. Penjajahan terhadap bangsa sendiri ini harus segera dihapus kan Om" Kata Haiden lagi menjelaskan tujuannya kepada Kapolri Sulistyo saat duduk di sofa.


Haiden tersenyum mendengar ucapan Om nya itu lalu berkata "Memang berat Om. Tapi kita harus ingat, perjuangan moyang bangsa kita dulu juga berat mengusir bangsa asing demi kita generasi mereka. Mereka mempertaruhkan segalanya termasuk nyawa mereka demi kita".


"Kalau kita tidak berusaha untuk memberantas para penjajah bangsa sendiri itu, maka generasi bangsa kita akan tetap terjajah. Bahkan tidak menutup kemungkinan lebih menderita dari saat Negara ini masih dikuasai oleh Oligarki di pemerintahan sebelum sebelumnya, bila Oligarki kembali berkuasa kelak Om" Kata Haiden lagi kepada Kapolri Sulistyo.


"Kamu benar Den. Om mendukung niat kamu ini" Balas Kapolri Sulistyo sembari membuka laptopnya yang berada di atas meja kerjanya.


"Apapun yang kamu butuhkan dari Om, selama ada pada Om pasti akan Om berikan padamu untuk membantu tujuanmu" Kata Kapolri Sulistyo lagi kepada Haiden melalui Handphone nya.


"Siap. Terima kasih Om" Balas Haiden, terdengar di Handphone Kapolri Sulistyo.


"Ya sudah. Biar Om cari tahu dulu siapa pentolan-pentolan di Oligarki saat ini ya" Kata Kapolri Sulistyo kepada Haiden sembari menatap monitor laptopnya.

__ADS_1


"Sipa Om" Balas Haiden kemudian menutup Handphone nya.


Dilain tempat, Wakil Presiden Irwansyah tengah berbincang dengan beberapa orang tokoh Politik yang tergabung dalam Oligarki. Wakil Presiden Irwansyah menyepakati dirinya ikut aturan Oligarki bila terpilih menjadi Presiden kelak.


Oligarki juga mengajukan seorang pemuda untuk menjadi calon Wakil Presiden mendampingi Wakil Presiden Irwansyah saat menjadi calon Presiden di Pilpres yang akan datang. Oligarki masih merahasiakan identitas pemuda tersebut kepada publik.


Dalam pencalonan diri sebagai calon Presiden, Wakil Presiden Irwansyah tidak perlu mengeluarkan uang sepersenpun. Sebab Oligarki yang akan mengeluarkan uang untuk membiayai Wakil Presiden dengan pemuda yang belum diketahui publik identitas nya itu.


"Anda tidak di perkenankan melakukan apapun tanpa sepengetahuan kami pak Irwan. Anda tinggal melakukan apapun yang sudah kami rencanakan nanti" Kata salah seorang ketua Partai yang memiliki cukup banyak anggota Dewan di DPR RI kepada Wakil Presiden Irwansyah.


Wakil Presiden Irwansyah tersenyum lalu membalas "Saya sepakat. Asal kan saya bisa menjadi Presiden dengan dukungan penuh dari Jenderal AP beserta jajaran nya, saya ikuti semua aturannya".


"Bagus. Secepatnya anda kami pertemukan dengan saudara calon Wakil Presiden yang akan mendampingi anda nanti" Kata Ketua Partai itu lagi usai mendengar balasan Wakil Presiden Irwansyah.


"Dan ingat pak Irwan. Anda jangan coba-coba berkhianat, kalau anda masih sayang dengan nyawa anda dan keluarga anda" Kata seorang ketua Partai lainnya kepada Wakil Presiden Irwansyah.


Wakil Presiden Irwansyah kembali tersenyum sebelum membalas "Siap. Saya paham dengan resikonya, dan saya tidak akan mungkin mau mengambil resiko tersebut".


Wakil Presiden Irwansyah tahu betul bahwa dia telah menjual dirinya sendiri untuk menjadi wayang Oligarki. Tapi baginya itu bukan masalah selama dia bisa menikmati kekayaan dan menjadi seorang Presiden, walaupun cuma Presiden wayang.


Toh tidak akan ada yang tahu bahwa dia menjadi Presiden hanya dimanfaatkan oleh Oligarki. Dunia tahunya dia adalah Presiden yang terhormat, pikir Wakil Presiden Irwansyah sehingga dia rela menjadi wayang.


Tidak jadi masalah menjadi wayang tapi wayang yang terhormat dan kebal hukum. Saat menjadi Presiden nanti dia bisa menjadi perampok terhormat yang tidak akan mungkin tersentuh dengan Hukum.


Sejarah mencatat, seorang Presiden hanya bisa terindikasi melakukan perbuatan melanggar Hukum termasuk Korupsi. Tapi tidak ada satupun Presiden Indonesia yang pernah dihukum karena melakukan tindakan melanggar Hukum.


Jangankan Presiden, istri dan Anak-anak Presiden saja pun ikut menjadi kebal Hukum secara otomatis di Negara Republik Indonesia selama ini. Itu sebabnya, sulit mendapatkan orang mampu menolak tawaran Oligarki.

__ADS_1


__ADS_2