
Dua minggu kemudian, Haiden menerima kabar dari pihak kepolisian bahwa asisten rumah tangga almarhum papi dan almarhumah mami Melani sudah ditangkap. Asisten rumah tangga yang bernama Sariyati ditangkap di Bandara Kualanamu saat akan menaiki pesawat yang menuju ke Singapura.
Haiden yang berada di ruang kerjanya dalam gedung Admadja Grup Sumatera Utara langsung bergerak menuju Polda Sumatera Utara. Di perjalanan Haiden sempat menghubungi Melani untuk memberi kabar di tangkap nya Sariyani.
Melani mengatakan ingin ikut ke Polda dengan Haiden, tapi Haiden mencegahnya. Haiden takut emosi Melani tak terkendali saat bertemu dengan Sariyani.
Sariyani bukan asisten rumah tangga baru di rumah almarhum papi dan almarhumah mami Melani. Sariyani sudah bekerja di rumah almarhum papi dan almarhumah mami Melani sejak Melani duduk di bangku SMP.
"Mami tunggu saja kabar dari papi nanti ya. Biar papi yang urus semuanya" Kata Haiden kepada Melani melalui Handphone nya.
"Ya sudah kalau gitu. Mami tunggu kabar dari papi di rumah" Kata Melani, terdengar di Handphone Haiden.
Usai menutup pembicaraan dengan Melani melalui Handphone nya, Haiden langsung menghubungi Mardan. Haiden meminta Mardan untuk membawa Jimmy ke Polda Sumatera Utara.
"Hallo. Di mana kau bro?" Kata Haiden sembari bertanya saat tersambung dengan Mardan.
"Lagi di Ringroad ni bro. Apa cerita?" Balas Mardan, terdengar di Handphone Haiden.
"Asisten rumah tangga almarhum papi dan almarhumah mami Melani sudah di tangkap. Ini aku menuju Polda. Kau bawa Jimmy ke Polda sekarang ya" Kata Haiden ke pada Mardan.
"Siap" Balas Mardan yang sedang berada di salah satu Kafe di Ringroad kota Medan.
Usai menutup pembicaraan dengan Haiden melalui Handphone nya, Mardan langsung menghubungi Jimmy. Dia meminta Jimmy langsung ke Polda Sumatera Utara sesuai perintah Haiden.
Tiba di Polda Sumatera Utara, Haiden langsung menghadap Kapolda Sumatra Utara Irjen Daud Syahputra yang akrab di sapa dengan nama panggilan Irjen Daud. Irjen Daud cukup kenal baik dengan Irjen Aryo dan juga Haiden.
Haiden dikenalkan dengan Irjen Daud oleh Kapolri Sulistyo saat Irjen Daud di lantik menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara. Irjen Daud salah seorang ajudan Kapolri Sulistyo bersamaan dengan Irjen Aryo dulu jauh sebelum Jenderal Sulistyo menjabat sebagai Kapolri.
Saat papi dan mami Melani meninggal, Irjen Daud tidak dapat hadir untuk melayat, sebab saat kejadian itu Irjen ada pertemuan antar Kepala Polisi seasia. Namun dia tetap mengirim ucapan turut berduka cita melalui papan bunga.
__ADS_1
"Irjen Aryo tidak ikut kesini ketua?" Tanya Irjen Daud kepada Haiden yang duduk dihadapannya di sofa tamu dalam ruang kerjanya.
"Tidak pak Kapolda. Ada agendanya katanya pak Kapolda" Jawab Haiden.
Irjen Daud mengetahui Irjen Aryo masih ada di Medan, tapi dia tidak tahu kalau Irjen Aryo sedang melatih Rakyat sipil untuk menjadi pasukan khusus ununtuk melawan Oligarki. Belum saatnya Irjen Daud tahu soal perang dingin dengan Oligarki saat ini.
Irjen Daud mengangguk anggukkan kepalanya sebelum berkata "Oh begitu".
"Iya pak Kapolda" Kata Haiden menanggapi ucapan Irjen Daud.
"Oh iya pak Kapolda. Apakah bi Suriyani sudah di Introgasi?" Tanya Haiden kepada Irjen Daud.
Bulum sempat Irjen Daud menjawab pertanyaan Haiden, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar ruang kerja Irjen Daud. Mendengar suara ketukan pintu itu, Irjen Daud berkata "Masuk" dengan suara sedikit keras.
Saat pintu terbuka, seorang anggota Polisi masuk langsung memberi hormat lalu berkata "Lapor pak. Ketua Partai Panca Karya Sumatera Utara ingin bertemu pak".
"Siap pak" Balas polisi tersebut sembari keluar untuk mempersilahkan Mardan dan Jimmy yang masih berdiri di luar ruang kerja Kapolda, menunggu di persilahkan masuk.
"Silahkan masuk ketua Mardan" Kata Polisi itu mempersilahkan Mardan masuk ke ruang kerja Kapolda.
Mardan menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk kedalam ruang kerja Kapolda bersama Jimmy. Melihat Mardan dan Jimmy sudah masuk ke dalam ruang kerja Kapolda, Polisi itupun beranjak pergi kembali ke pos jaga.
Mardan terlebih dahulu menyalami Irjen Daud dan Haiden sebelum duduk di sebelah kanan Haiden. Setelah menyalami Irjen Daud dan Haiden juga, Jimmy duduk disebelah kiri Haiden.
"Apa kabar ketua Mardan?" Tanya Irjen Daud kepada Mardan sembari tersenyum.
"Saya baik pak Kapolda. Pak Kapolda apa kabarnya?" Jawab Mardan sembari balik bertanya kepada Irjen Daud sembari tersenyum.
Irjen Daud tersenyum sebelum menjawab "Seperti yang ketua Mardan lihat, saya juga dalam keadaan baik".
__ADS_1
"Bagaimana dengan ketua Jimmy. Apa kabarnya ni?" Tanya Irjen Daud kepada Jimmy.
"Baik pak Kapolda" Jawab Jimmy sembari tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Artinya kita semua dalam keadaan baik-baik saja" Kata Irjen Daud sembari tersenyum kepada Haiden, Marah dan Jimmy yang duduk berhadapan dengannya.
"Oh iya. Sampai di mana tadi pembicaraan kita ketua Haiden?" Tanya Irjen Daud kepada Haiden.
Mendengar pertanyaan Irjen Daud, Haiden kembali mengulang pertanyaannya "Saya tanya tanya pak Kapolda, apakah bi Suriyani sudah di introgasi?".
"Oh iya, lupa saya tadi ketua. Terduga saudari Suriyani sudah kita introgasi. Menurut laporan juru periksa kita, Saudari Suriyani mengaku bahwa memang dia yang telah memasukan Bom Waktu itu ke dalam rumah mertua ketua Haiden" Jawab Irjen Daud.
"Apa alasannya sampai tega memasukan Bom Waktu kerumah majikannya yang selama ini memperlakukan dia dengan baik pak Kapolda" Tanya Haiden kepada Irjen Daud, dengan wajah memerah karena marah terhadap perbuatan asisten rumah tangga mertuanya itu.
"Katanya saat dia pergi belanja keperluan dapur diantar oleh salah seorang pengawal mertua ketua Haiden, didalam pasar saudari Suriyani tiba-tiba dipepet oleh dua orang laki-laki yang tidak dikenalnya. Dua orang laki-laki itu memaksa dia ikut kedalam mobil minibus berwarna hitam" Kata Irjen Daud menjawab pertanyaan Haiden.
"Di dalam mobil itu saudari Suriyani diancam dan dipaksa untuk membawa pulang Bom Waktu kerumah mertua ketua Haiden. Kalau dia menolak, maka bukan hanya dia yang akan di bunuh. Seluruh keluarga nya akan di bunuh" Lanjut kata Irjen Daut menjelaskan isi laporan dari juru periksa Polda Sumatera Utara kepadanya.
"Bangsat" Kata Haiden setelah mendengar penjelasan Irjen Daud.
"Menurut cerita saudari Suriyani, jam delapan malam harusnya ketua Haiden sudah tiba di rumah mertua ketua untuk makan malam. Benar demikian ketua?" Tanya Irjen Daud kepada Haiden.
"Benar pak Kapolda" Jawab Haiden.
"Berarti ketua Haiden datang terlambat. Sebab, Bom Waktu itu di jadwalkan meledak pukul setengah sembilan, agar ketua juga ikut meledak di dalam rumah tersebut" Kata Irjen Daud lagi ke pada Haiden.
Mendengar penjelasan Irjen Daud, mata Haiden terbelalak. Dalam hatinya Haiden berkata "Tidak salah lagi. Kalian tunggu pembalasanku Oligarki".
Dalam pikiran Mardan juga terbesit jawaban yang sama seperti apa yang dipikirkan Haiden bahwa Oligarkilah dalang di balik Bom Waktu yang meledak di rumah papi dan mami Melani. Amarah dan rasa bersalah kini begejolak dalam hati Haiden.
__ADS_1