
Setahun pasca meninggalnya tuan besar, nama Haiden semakin besar melebihi besarnya nama kakeknya. Haiden semakin dikenal hingga manca negara.
Lokalisasi yang dibangun oleh mertuanya sudah rampung. Banyak pengusaha dari negara lain yang ingin menanam saham di lokalisasi tersebut namun Haiden menolaknya mentah-mentah.
Haiden hanya menjual sebagian saham lokalisasi tersebut kepada bangsanya saja. Tidak ada pekerja asing di lokalisasi tersebut selain para wanita penghibur.
Wanita penghibur WNA boleh menetap sebagai pekerja di lokalisasi segala macam hiburan yang diberi nama Pulau Sembilan Internasional itu. Untuk pekerjaan dan pengelolaan Jenis usaha lainnya wajib di isi oleh masyarakat Indonesia.
Pemerintah sangat senang dengan adanya lokalisasi tersebut. Kapal pengangkut manusia kini efektif beroperasi.
Setiap hari kapal selalu terisi dipenuhi dengan penumpang dari negara lain. Pulau sembilan kini menjadi surga dunia bagi wisatawan asing yang ingin bersenang-senang dan bagi masyarakat yang ingin mengais rezeki.
Dengan demikian perekonomian Negara Indonesia pun menjadi meroket. Ketika Haiden bertemu dengan Presiden untuk menyampaikan bahwa dia akan membangun Lokalisasi di setiap Provinsi secara serentak, Presiden langsung menyetujuinya.
Sama seperti Pulau Sembilan, perkampungan yang disulap menjadi kota baru, demikian pula dengan lokalisasi-lokalisasi lainnya yang akan di bangun oleh Haiden melalui mertuanya. Mereka mencari perkampungan yang seperti hidup segan mati tak mau untuk disulap menjadi surga dunia.
Semua sahabat Haiden menjadi pengusaha sukses termasuk Arif teman SMP Haiden. Dia kini menjadi pemilik Kikombe Hotel bintang lima, yang kelak ada di setiap Provinsi.
Diskotik, Spa, Resto & Cafe, KTV, dan Hall Live Musik menjadi Fasilitas andalan Kikombe Hotel. Kasino dan Prostitusi dikelola oleh Mardan dan.
Pantai Pulau Sembilan dikelola oleh Suherman. Segala kebutuhan wisatawan asing mulai dari kendaraan sewa hingga Guide dikelola oleh A Cun.
Rumah kontrakan khusus untuk wisatawan asing di kelola oleh Marwan. Keamanan dan kenyamanan di Pulau Sembilan juga menjadi tanggung jawab Marwan.
Untuk menjaga keamanan selain memanfaatkan Panca Karya, Marwan juga merangkul pihak kepolisian. Karenanya cukup banyak wisatawan asing yang betah di Pulau Sembilan.
"Jadi Kapan kita mulai pembangunan lokalisasi serentak di setiap Provinsi Den?" Tanya Papa Melani yang sedang duduk di sofa ruang kerja Haiden, tepat dihadapannya.
"Papi sudah bisa mempersiapkan segalanya. Kapanpun Papi siap, langsung kerjakan saja Pi" Jawab Haiden setelah mendengar pertanyaan mertua nya itu.
__ADS_1
Papa Melani tersenyum lalu berkata "Baiklah. Papi memang harus mempersiapkan pekerja yang tidak sedikit jumlah nya".
"Biar ga repot, Papi ambilnya saja kontraktor dari masing-masing Provinsi Pi" Tanggap Haiden.
"Papi pikir juga begitu Den. Tapi kita harus liat dulu kualitas kerja mereka. Ga bisa asal comot juga kan" Kata Papi Melani menanggapi ucapan menantunya itu.
"Soal itu Haiden serah kan semaunya pada Papi. Papi yang lebih paham urusan proyek" Balas Haiden sembari tersenyum.
Papi Melani juga tersenyum sebelum bertanya "Urusan izin memang sudah rampung semuakan?"
"Papi tenang saja. Kemarin Haiden sudah bicara langsung dengan Presiden" Jawab Haiden.
"Oh iya Pi. Rencananya Haiden mau jadikan Panca Karya menjadi Partai. Bagaimana menurut Papi?" Tanya Haiden kepada mertuanya.
Papi Melani tampak mengernyitkan dahinya sebelum balik bertanya "Kamu mau terjun ke dunia Politik?".
Papi Melani mengangguk anggukkan kepala lalu berkata "Kalau Papi si cuma bisa dukung apapun yang mau kamu lakukan. Semua keputusan ada sama kamu sendiri".
"Tapi kalau Papi boleh tahu, apa tujuanmu terjun ke dunia Politik dan menjadikan Panca Karya menjadi Partai?" Tanya Papi Melani kepada Haiden.
Haiden tersenyum lalu menjawab "Presiden kita saat ini sudah sangat bagus. Beliau mampu mengamalkan UUD1945, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dengan benar".
"Tidak ada lagi kesenjangan sosial antar Suku, Ras dan Agama saat ini. Tidak ada lagi anggapan Mayoritas dan Minoritas antar Suku, Ras dan juga Agama. Benar ga Pi?" Kata Haiden lagi, sembari bertanya pada Mertuanya itu.
"Iya benar. Lalu?" Jawab Papi Melani sembari bertanya balik pada Haiden.
Haiden diam sejenak sebelum menjawab "Sebagai Partai, Panca Karya bisa mengawal beliau selama beliau menjabat sebagai Presiden. Beliau harus kita kawal dari ancaman Oligarki yang kini menjadi Oposisi".
"Jangan sampai Oligarki kembali menguasai pemerintahan seperti yang lalu-lalu. Mereka akan kembali menjajah bangsanya sendiri dengan berbagai Setrategi, termasuk Setrategi memecah belah Rakyat" Kata Haiden lagi.
__ADS_1
Papi Melani tampak serius mendengar penjelasan Haiden. Dia tidak menyangka kalau menantunya itu sangat perduli dengan bangsa dan negaranya.
Banyak orang yang sudah memiliki kekayaan berlimpah tidak lagi perduli dengan bangsa dan negaranya. Orang-orang tersebut lebih perduli dengan apa yang dimiliki nya saat ini tanpa memikirkan orang lain.
Kalaupun memperlihatkan keperdulian dengan orang lain itu hanyalah pencitraan. Ada kepentingan dibalik perbuatannya tersebut.
Kepentingan abadi untuk dirinya sendiri ataupun golongan nya sendiri, bukan untuk orang lain atau golongan lain. Sangat jauh berbeda dengan orang kaya raya yang saat ini sudah menjadi menantunya itu.
"Moyang bangsa Indonesia lama dijajah bukan karena lemah Pi. Tapi karena banyaknya orang-orang bodoh yang mudah di adu domba dan mudah di jadikan pengkhianat bangsa. Benar ga pintar?" Kata Haiden lagi melanjutkan ucapannya, sembari bertanya pada mertua nya.
Papi Melani tersenyum lalu menjawab "Iya benar".
"Presiden pertama kita Soekarno pernah berkata Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Kira-kira Papi paham maksud dari ucapan Soekarno itu?" Kata Haiden lagi, dan kembali bertanya pada Papi Melani.
"Paham. Perjuangan kita lebih sulit karena yang kita hadapi penjajah bangsa sendiri. Dan itu kita alami hingga sebelum pak Purwanto terpilih jadi Presiden". Jawab Papi Melani.
Haiden tersenyum lalu berkata "Benar Pi. Cukup lama kita di jajah Oligarki saat mereka menguasai pemerintahan".
"Sejak puluhan tahun yang lalu mereka memanfaatkan orang-orang bodoh yang bisa dijadikan pengkhianat bangsa untuk menjadi Buzzer bayaran. Melalui Buzzer ini tercipta dua kelompok Cebong dan Kadrun" Kata Haiden lagi.
Papi Melani tampak serius mendengarkan setiap ucapan Haiden. Mertua Haiden itu hanya diam saat mendengarkan dan memperhatikan Haiden berbicara.
"Rakyat Indonesia pada waktu itu sengaja di pecah menjadi dua untuk selalu di adu domba agar selalu bertengkar. Cebong dan Kadrun sibuk bertengkar, Oligarki dengan lancarnya merampok harta Negara" Kata Haiden lagi.
Papi Melani masih tetap diam mendengarkan cerita Haiden. Dalam hati Papi Melani berkata "Menantuku ternyata mempelajari sejarah juga".
"Dulu Belanda juga memakai strategi seperti yang dipakai Oligarki Pi. Dulu ada juga Buzzer di Dunia nyata. Orang-orang yang mengadu domba bangsa nya sendiri, sehingga moyang bangsa Indonesia dulu sulit bersatu untuk mengusir para penjajah" Kata Haiden lagi menyelesaikan kajian sejarah yang dia pelajari.
"Papi sepakat dengan apa yang kamu katakan Den. Kalau sampai Oligarki kembali berkuasa, maka negara kita ini akan kembali lagi menjadi Negara kaya tapi miskin" Kata Papi Melani menanggapi omongan menantu nya itu.
__ADS_1