SI CULUN Sang Pewaris Tunggal

SI CULUN Sang Pewaris Tunggal
MEMBURU MISTERI 5


__ADS_3

"Saya kesini di perintahkan Jenderal Sulistyo untuk mengawasi dan menjaga keselamatan anda selama di Jakarta ini tuan muda" Kata Aryo kepada Haiden setelah Asisten rumah tangga Haiden meninggalkan mereka.


Haiden tersenyum lalu membalas "Iya saya sudah di beritahukan Om Sulistyo tadi. Pak Aryo tidak keberatan menemani saya selama di Jakarta?".


"Tentu saja tidak keberatan sama sekali tuan muda "Jawab Aryo sembri tersenyum kepada Haiden.


"Pak Aryo sudah berkeluarga?" Tanya Haiden.


Aryo tersenyum mendengar pertanyaan Haiden lalu menjawab "Belum tuan muda".


"Kalau begitu, bagaimana kalau Pak Aryo tinggal dirumah saya ini selama saya di Jakarta?" Kata Haiden menawarkan dengan serius kepada Aryo.


Belum sempat Aryo menjawab Haiden meneruskan ucapannya lagi "Biar Pak Aryo bisa selalu bersama saya, ga repot bolak balik pulang kerumah saya, kerumah bapak, dan kemanapun"


"Boleh tuan muda. Kapan saya bisa mulai tinggal disini tuan muda?" Jawab Aryo dengan tegas, kemudian balik bertanya.


Haiden tersenyum lalu menjawab "Terserah pak Aryo. Sekarang juga boleh".


"Jangan hari ini lah tuan muda. Besok saja sekalian saya bawa beberapa potong pakaian saya" Balas Aryo.


"Ya terserah Pak Aryo. Besok juga boleh" Kata Haiden membalas ucapan Aryo lagi.


Selanjutnya Haiden menjelaskan rencana Haiden untuk memburu Johan sang ketua Gangster Panca Karya pusat kepada Aryo. Aryo tampak serius mendengarkan penjelasan Haiden.


"Jadi begitu rencananya Pak Aryo" Kata Haiden usai menjelaskan rencana kepada Aryo.


Aryo terdiam sejenak sebelum mengatakan "Mitosnya memang Johan itu sangat kuat, dan memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi, makanya dia bisa menjadi ketua Gangster Panca Karya. Tapi saya tidak pernah mendengar atau melihat lansung dia berkelahi dengan seseorang selama saya bertugas di Jakarta ini tuan muda".


Setelah mendengar ucapan Aryo barusan, Haiden mengernyitkan dahinya lalu berkata "Mitos?".


"Bagi saya mitos tuan muda "Sebab selama saya bertugas di Jakarta saya tidak pernah mendengar ada korban akibat berkelahi dengan si Johan. Jangankan melihat, mendengar saja tidak pernah" Kata Aryo menjelaskan mengapa dia menyebut mitos kepada Haiden.


Saat Aryo sedang menjelaskan, salah seorang asisten rumah tangga Haiden datang membawa dua gelas kopi beserta cemilan yang dipesannya tadi. Setelah meletak dua gelas kopi dan cemilan yang dibawanya itu, asisten rumah tangga Haiden itupun langsung bergegas meninggalkan Haiden dan Aryo.


"Kalau korban luka-luka bahkan korban yang mati akibat ulah anggota Panca Karya itu sering terjadi. Tapi kalau korban luka-luka atau mati karena berkelahi dengan si Johan saya tidak pernah mendengar ataupun melihatnya selama saya bertugas disini tuan muda" Kata Aryo lagi setelah menenggak kopinya.


Haiden tampak terdiam memikirkan sesuatu setelah mendengar penjelasan Aryo barusan. Aryo hanya Memperhatikan Haiden yang sedang tampak memikirkan sesuatu.


Setelah beberapa saat berpikir, Haiden berkata pada Aryo "Berarti selama Pak Aryo bertugas di sini, Pak Aryo belum pernah mendengar ada orang yang menantang dia berkelahi atau dia yang menantang orang berkelahi dengannya?".

__ADS_1


"Benar tuan muda" Jawab Aryo.


"Dan sangat sulit untuk menemui si Johan itu tuan muda. Jadi belum tentu dia mau kita ajak bertemu, apa lagi menerima tantangan tuan muda" Kata Aryo lagi kepada Haiden.


"Tapi saya pikir tidak ada salahnya kita coba dulu mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan dari kita" Kata Haiden membalas ucapan Aryo.


"Ya ga papa tuan muda. Tapi Bagaimana kalau si Johan menolak untuk bertemu kita tuan muda?" Balas Aryo.


"Terpaksa kita buru dia" Jawab Haiden dengan tegas.


"Baik lah kalau begitu tuan muda. Tapi saran saya, sebisa mungkin kita menghindari bentrok antara Gangster Panca Karya dengan pihak kita tuan muda" Kata Aryo membalas ucapan Haiden tadi.


Haiden tersenyum lalu menjawab "Harapan kita sama Pak Aryo. Tapi kalau harus apa boleh buat. Tetap bentrokan itu Opsi terpaksa Pak Aryo".


"Siap tuan muda" Balas Aryo.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya tuan muda. Besok pagi saya kembali lagi kesini" Kata Aryo pamit kepada Haiden.


"Silahkan Pak Aryo" Jawab Haiden sembari tersenyum.


Saat Aryo bangkit dari duduknya, Haiden juga bangkit dari duduknya dan berkata "Kirim nomor rekening Bank Pak Aryo ke WA saya sekarang ya".


"Sudah kirim saja sekarang" Balas Haiden sembari tersenyum.


Aryo mengambil Handphone yang ada di dalam saku depan celananya lalu meminta nomor kontak Haiden "Nomornya tuan muda?"


Haiden langsung menyebutkan nomor WA nya kepada Aryo. Aryopun mencatat nomor WA Haiden itu, kemudian menyimpannya di daftar kontak dalam Handphone nya.


Setelah tersimpan, Aryo langsung mengirim nomor rekening Bank nya ke WA Haiden. Beberapa saat kemudian Handphone Haiden yang berada ditangannya bergetar dan berdering tanda pesan WA masuk.


Haiden langsung membuka Handphonenya untuk melihat isi pesan WA dari Aryo. Aryo Hanya memperhatikan Haiden yang sedang mengetik di layar Handphone nya.


Tak lama kemudian Handphone Aryo yang berada ditangannya bergetar dan berdering tanda masuk pesan WA. Mata Aryo terbelalak saat melihat isi pesan WA dari Haiden itu.


Haiden mengirim bukti transaksi transfer uang dengan jumlah seratus juta rupiah. Aryo tidak menyangka Haiden akan mengirim uang sebanyak itu kepadanya.


"Untuk apa ini tuan muda?" Tanya Aryo penasaran.


"Itu buat pegangan pak Aryo selama menemani saya kedepannya. Kalau kurang nanti saya tambahi" Jawab Haiden.

__ADS_1


Aryo tersenyum dengan wajah gembira lalu bertanaya "Serius ini tuan muda?".


Haiden juga tersenyum mendengar pertanyaan Aryo, kemudian menjawab "Kan sudah saya transfer, berarti ya serius lah. Kalau ga serius mana mungkin saya transfer".


Aryo tertawa kecil sebelum membalas jawaban Haiden "Terima kasih banyak ya tuan muda".


"Sama-sama" Jawab Haiden.


Aryo menjabat tangan Haden sebelum melangkah keluar meninggalkan rumah Haiden. Haiden mengantar Aryo hanya sampai pintu rumahnya saja.


Setelah Aryo meninggalkan rumahnya, Haiden membuka layar Handphone nya untuk menghubungi Melani.


"Hallo sayank. Belum tidur kamu?" Kata Haiden setelah mendengar kata Hallo dari Melani yang terdengar dari Handphone nya.


"Ini baru mau tidur yank. Baru saja baik ke tempat tidur. Kenapa yank?" Balas Melani yang memang baru saja naik ketempat tidurnya, kemudian balik bertanya.


"Ga papa. Kangen aja" Jawab Haiden.


Melani tersenyum mendengar jawaban Haiden lalu membalas "Masa' sih...!" dengan nada manja menggoda Haiden.


"Iya loh...!" Jawab Haiden sembari tersenyum meski tidak dilihat oleh kekasihnya itu.


"Tuan muda ku ini makin hari makin pinter gombal nya ya" Balas Melani yang terdengar dari Handphone Haiden.


Haiden kembali tersenyum kemudian berkata pura-pura ngambek " Orang ngomong jujur dikatain gombal. Kalau ga percaya ya sudah, tutup saja teleponnya".


"Iya iya percaya. Gitu aja ngambek" Balas Melani dengan nada masih menggoda Haiden.


"Kamu lagi apa dan di mana yank?" Tanya Melani, terdengar dari Handphone Haiden.


"Di rumah, baru selesai ngobrol sama anggota Om Sulistyo yang ditugaskan Om Sulistyo untuk nemani aku yank" Jawab Haiden.


"Ohhh. Trus ini mau ngapain lagi?" Tanya Melani lagi.


"Ga ada. Mau tidur jugalah ini" Kata Haiden menjawab pertanyaan Melani.


"Ya uda, tidurlah kita ya" Kata Haiden lagi.


"Oke yank. Met Bobo ya tuan muda ku sayank" Kata Melani kembali menggoda Haiden dengan mesra.

__ADS_1


"Iya, met Bobo juga ya sayank, muachhh.." Balas Haiden kemudian menutup telepon nya setelah Melani membalas kecupan jauhnya.


__ADS_2